Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Impotensi


__ADS_3

Setelah merasa lebih baik, Akira memutuskan untuk menemui Dimas di rumah sakit. Namun, setibanya disana, ia harus menghadapi kemarahan Dimas.


"Kontrak dengan Pak Nugroho batal," ucap Dimas. "Harusnya aku sudah tau jika dia tidak akan mau bernegosiasi dengan orang lain kecuali aku, meski Sam sebenarnya juga sangat berkompeten." Dimas terlihat sangat kesal. "Bagaimana aku bisa menjalankan bisnis jika kondisiku seperti ini?" Teriaknya lagi.


"Satu kontrak yang batal, tidak akan membuat perusahaan mu rugi kan Dim?" balas Akira.


"Tidak. Tapi aku tidak suka kegagalan." Dimas menatap Akira, "dalam segala hal."


'Apa dia tengah menyindirku? Ah gak mungkin.' gumam Akira.


Wajah Dimas yang marah menandakan dia tengah frustrasi dengan keadaannya sekarang.


"Akan ada kesempatan lain untukmu Dimas. Secepatnya, kau akan kembali dengan pekerjaanmu dan hidup dengan segala hiruk pikuk kesibukanmu dalam berbisnis."


"Bagaimana jika aku tidak bisa? Bagaimana jika aku akan lumpuh selamanya dan tidak akan pernah bisa bangun dari tempat tidur sialan ini?" Teriak Dimas.


"Dokter Jerry sangat optimis, dia pikir kau akan sembuh. Cobalah untuk bersabar."


"Sabar, sialan!" Bentak Dimas. "Mudah untukmu mengatakan sabar. Bukan kau yang terjebak disini melihat hidupmu telah hancur!"


Merasa kesabarannya sudah hilang, rahang Akira mengeras, namun dengan cepat ia mengingatkan dirinya sendiri, bahwa Dimas tidak marah padanya melainkan frustrasi akan penyakitnya.


"Aku sudah membaca tentang GBS Dim. Aku tau kau memiliki peluang yang baik untuk sembuh. Sudah banyak orang yang sembuh dari penyakit ini. Jadi kau harus tetap semangat dan bersabar."


"Ooh, terima kasih Dokter Abraham, mmm Dokter Akira, atau siapapun kau. Aku tidak tahu kenapa aku harus membayar Dokter Bayu jika kau sendiri bisa bekerja secara gratis."


"Dimaass kau..."


"Apa? Aku apa? Apa yang kau inginkan dariku? Sebenarnya aku heran, untuk apa selama ini kau ada disini?"


"Karena kau punya bisnis yang sangat bagus, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa dalam hidupku." Akira berusaha menahan amarahnya. "Aku tahu hidupmu sedang tidak dalam kondisi baik sekarang, tapi aku berusaha untuk mensupport kamu. Tapi aku juga mengalami hari yang buruk, dan aku tidak mau mencampuri semuanya dengan kamu."


Akira lalu berjalan menuju pintu, "selamat malam." Ucapnya seraya hendak berjalan keluar.


"Kemungkinan aku mengalami impotensi."


Akira berhenti melangkah dan berbalik kembali menatap Dimas, "apa?" Tanya Akira terkejut.


"Dokter Jerry bilang, kemungkinan aku akan mengalami impotensi. Aku sebenarnya tidak ingin memberi tahu siapapun."


"Sudah berapa lama kau tahu hal ini?" Tanya Akira dengan intonasi suara yang tenang.


"Sekitar seminggu, saat aku masih berada di ruang ICU."


Jantung Akira berdegup kencang.

__ADS_1


'Dia merahasiakan keadaannya ini dariku selama ini?'


"Apa kau mau membicarakan hal ini?" tanya Akira.


"Tidak banyak yang bisa dibicarakan tentang hal ini. Hanya bisa melihat dan menunggu saja, apa yang akan terjadi selanjutnya."


"Aku tahu suaraku sudah seperti radio rusak. Tapi, aku ingin kau tetap optimis, berusahalah untuk lebih bersabar. Penyakitmu kini sudah berhenti untuk menjadi lebih parah lagi. Ini kan hal yang bagus, bukan begitu?"


"Jalan yang panjang untuk sampai seperti ini. Dan siapa yang tahu, butuh waktu berapa lama sampai aku bisa sembuh total?" Ucap Dimas, "Impotensi. Sial, menyebutnya saja membuatku sakit hati." Dimas lalu menatap ke arah dinding.


Beberapa saat dalam keheningan, Akira akhirnya duduk di kursi. Dia juga kehilangan kata-kata.


'Dimas mengalami impotensi? Gak mungkin,' pikir Akira.


Dimas merupakan lelaki yang sangat bergairah dalam hal bercinta. Ia akan membuat Akira merasa sangat dicintai. Dan kini Dimas mengalami impotensi, sangat sulit bagi Akira untuk memikirkannya.


"Akira, apa kau ingat malam saat pertama kali kita bertemu?" Ucap Dimas memecah kebisuan diantara mereka.


"Tentu saja. Malam saat pesta pernikahan Ferro dan Windi. Saat itu aku baru saja lulus kuliah. Sebelumnya aku tidak pernah menghadiri acara pernikahan dan berkumpul dengan orang banyak. Aku masih ingat, malam itu kau terlihat sangat tampan mengenakan tuxedo hitam." Balas Akira.


'Malam yang tidak akan pernah aku lupakan.'


"Aku selalu memperhatikanmu ditengah keramaian orang-orang. Gaun merah yang kau kenakan membuatmu terlihat sangat seksi. Kau berhenti di bawah lampu, membuat rambutmu semakin terlihat berkilauan. Kemudian kau tersenyum padaku. Saat itu usiaku dua puluh enam tahun, dan tidak pernah ada seorang wanitapun yang mampu mencuri pandanganku. Tapi aku berdiri dan menatapmu seperti seorang laki-laki yang tengah dimabuk cinta. Aku akan selalu mengingat senyuman dan gaun seksimu itu." Ujar Dimas.


Akira menggeser kursinya mendekat ke arah Dimas. Ia lalu memegang tangan Dimas erat.


"Mereka memutar lagu Endless Love by Lionel Richie dan Diana Ross."


"Kau masih mengingatnya?" Tanya Akira tak percaya.


"Tentu saja."


Tanpa menyadari apa yang dia lakukan, Akira naik ke atas tempat tidur Dimas lalu berbaring disisinya. Akira meletakkan kepalanya disela dada dan lengan Dimas. Akira memejamkan matanya dan membiarkan semua kenangan melayang di dalam pikirannya.


Ketika musik berhenti, Dimas dan Akira pergi ke sisi gelap teras rumah tempat pesta pernikahan berlangsung. Akira menatap Dimas dengan lekat, ia memejamkan mata, berharap Dimas akan menciumnya. Tapi Dimas menggodanya, membuat Akira merasa geli. Dimas mencium kening Akira, kemudian matanya, dan kemudian pipinya sampai akhirnya mencium bibirnya.


Dimas tersenyum, "Aku masih mengingat bagaimana caramu menciumku. Aku yakin itu ciuman pertamamu."


Akira tertawa, "ya, kau benar. Itu adalah ciuman pertamaku dengan orang asing."


"Bagaimana dengan malam pertama kita, apa kau mengingatnya?" tanya Dimas.


Bulu kuduk Akira seketika merinding mengingat pengalaman malam pertamanya.


"Aku sama sekali tidak menyangka bahwa kau masih perawan. Aku pikir kebanyakan wanita masa kini sudah pernah melakukannya dengan kekasih mereka. Aku sedikit merasa bersalah saat melihatmu meringis kesakitan. Tapi aku tidak mungkin kan tidak melanjutkannya." Gelak Dimas.

__ADS_1


Akira memukul dada Dimas yang tertutup pakaian rumah sakit itu. Ia masih bisa merasakan hangatnya tubuh Dimas.


"Oh, Akira." Ucap Dimas. "Kita pasangan yang sangat luar biasa."


Akira memindahkan posisi kepalanya disamping kepala Dimas. Dengan cepat Dimas mencium pipinya.


"Kau adalah lelaki yang luar biasa dalam hal bercinta Dimas. Kau bisa seperti itu lagi. Berikan kesempatan pada dirimu sendiri untuk sembuh. Optimislah."


Akira kemudian bangun menarik nafas dalam-dalam, duduk dan mulai mencium Dimas. Saat keduanya berbagi ciuman, Akira tersadar bahwa ia sudah menginginkan hal ini selama tiga tahun.


Akira larut dalam buaian asmara, ia menikmati ciuman yang dilakukannya dengan suami, atau lebih tepatnya mantan suaminya itu.


"Ya Tuhan, Akira," ucap Dimas. "Aku menginginkanmu."


Terbawa suasana membuat Akira menjadi liar.


'Aku ingin menjadi Kira-mu lagi Dimas. Aku menginginkanmu.' ucapnya dalam hati.


Saat Akira berusaha melakukan hal yang lebih jauh, ia tersadar bahwa laki-laki yang ada dihadapannya sekarang adalah laki-laki yang tak pernah menghargainya sebagai isteri dulu. Akira tidak ingin terluka lagi. Akira tidak ingin kembali pada Dimas lagi.


"Tidak." bentak Akira seraya turun dari tempat tidur.


Dimas menatap Akira dengan tatapan yang entah bagaimana.


"Ya Tuhan Dimas!" Akira tidak tau harus berkata apa. "Aku..."


"Takut bercinta dengan lelaki lumpuh?"


Akira tak ingin membuat hati Dimas terluka, ia mencoba mencari kata yang tepat.


"Aku tahu kau tengah melalui masa sulitmu Dim. Aku pikir, aku mengerti kenapa kau mengungkit kenangan lama kita, kenapa kau ingin bercinta denganku. Kau hanya ingin mengetahui apakah kau benar-benar mengalami impotensi atau tidak. Dan sejujurnya, aku masih menginginkanmu. Tapi aku tidak bisa."


Akira mengerti Dimas sangat marah hanya dari raut wajahnya. Akira berusaha membuatnya mengerti.


"Bercinta denganmu selalu membuatku bahagia Dim."


Air mata jatuh dipipi Akira, dan dengan cepat Akira mengusapnya.


"Aku tidak bisa hidup bersamamu. Jadi mari berteman saja."


"Teman? Sialan, kita sudah menikah. Orang yang menikah harusnya...."


"Tapi kita tidak pernah menjalani kehidupan pernikahan yang benar. Kita sama-sama menjalin cinta, tapi hanya saat melakukan hubungan suami isteri, Dim, itu saja. Kita hanya berbagi tubuh kita saja, tidak pikiran kita, harapan kita ataupun mimpi kita. Kita hidup terpisah dibawah satu atap. Kita berdua hanya perduli satu sama lain di tempat tidur saja. Itu bukan cinta, tapi nafsu." Ucap Akira panjang lebar.


Air mata kembali membasahi pipi Akira.

__ADS_1


"Kali ini kita hanya akan menjadi teman. Hanya teman."


Bersambung....


__ADS_2