
Esok harinya, berbagai alat medis mulai datang ke rumah Akira. Mulai dari tempat tidur ala rumah sakit, berbagai macam alat pendukung untuk melakukan therapi bagi Dimas.
Berbagai alat itu sudah ditata rapi di dalam ruang keluarga Akira, sofa, meja, dan televisi Akira sudah tidak ada lagi disana.
Sebelumnya, di rumah sakit Akira sempat mengobrol dengan Dimas.
"Bagaimana keadaanmu setelah seharian bersama Sofia? Kau tidak membunuhnya karena jengkel kan?" Tanya Dimas.
Akira tertawa, "tentu saja tidak. Sofia malah sepertinya menjadi lebih baik sekarang." Jawab Akira.
"Apa obrolan kalian berdua nyambung?" Tanya Dimas lagi.
"Oh, iya, kami mengobrol banyak hal."
Ketika Dimas tak membahas tentang rumah Akira yang menjadi tempatnya untuk melakukan rehabilitasi, Akira mencoba untuk membahasnya.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku tentang skema yang kalian lakukan?"
"Skema? Maksud kamu?" Tanya Dimas heran.
"Tentang rumahku yang menjadi tempat untukmu melakukan rehabilitasi." Jawab Akira.
"Apa yang kau maksudkan?"
Akira meremas rambutnya.
"Sepertinya kita sudah dikerjain! Kakakmu itu memintaku mengizinkanmu tinggal di rumahku untuk dijadikan sebagai tempat rehabilitasi dan terapimu. Dia bilang kau setuju, dan kau mengatakan itu adalah ide yang bagus." Jelas Akira.
"Dia tidak pernah mengatakan apapun! Dia malah bilang sudah menemukan suatu tempat yang cocok di kota ini untukku. Di rumahmu? Ya Tuhan!" Ucap Dimas dengan intonasi yang cukup keras.
"Apa masalahnya dengan rumahku? Kau bahkan belum melihatnya! Rumahku sempurna!" ucapan Akira terhenti karena tersadar, "kenapa aku harus mencoba untuk meyakinkanmu, padahal aku sendiri berpikir bahwa ini ide gila, kau akan tinggal di rumahku? Oh Tuhan...." Akira menggeleng-geleng.
"Aku tidak tahu. Lalu kau sendiri kenapa setuju?"
'Karena aku ingin memberi hubungan kita kesempatan sekali lagi!' tentu saja ini hanya ungkapan dalam hati Akira.
Harusnya Akira menolak ide itu. Hubungan mereka selama hidup di bawah satu atap, tidak pernah berjalan mulus. Kenapa sekarang malah harus tinggal bersama lagi? Akira benar-benar bingung dengan dirinya sendiri.
'Bagaimana jika ia tak akan pernah sembuh? Apa dia akan tinggal bersamaku selamanya? Ya Tuhan!'
Pikiran Akira tentang Dimas bukan hanya tentang kesembuhannya, melainkan bagaimana nasib hubungan mereka di masa depan.
"Akira? Hey Akira?" Panggil Dimas membuyarkan lamunan Akira.
"Maaf. Aku hanya sedang berpikir."
"Aku bilang, 'terima kasih karena sudah mau menerimaku di rumahmu.' Tapi aku tahu, keputusan Sofia bisa diubah. Kau bisa bilang tidak sekarang, tanpa harus merasa tidak enak padaku."
"Tidak. Aku tidak memintamu untuk mundur. Sofia benar tentang rumahku. Sudah ada ruangan yang cocok untukmu disana, bahkan Sofia sudah menyewa jasa ART untuk membantu segala keperluanmu. Hanya saja akan sedikit aneh bagiku yang terbiasa tinggal sendiri di rumah, melihatmu ada di rumahku bersama beberapa orang asing lainnya," ucap Akira. "Tapi aku yakin, pasti akan menyenangkan."
"Di situasi seperti ini, seorang tamu seharusnya mengatakan 'jangan membuat dirimu menjadi repot karena aku,' tapi aku akan sangat merepotkanmu Akira."
Akira dapat melihat dari mata Dimas, bahwa Dimas sama sekali tak ingin membuat dirinya terlalu repot atas kehadirannya. Tapi disisi lain terlihat jelas harapan Dimas untuk bisa keluar dari rumah sakit dan tinggal disebuah rumah, layaknya kehidupan normal.
********************
Barang-barang Dimas yang masuk ke rumah Akira sudah melebihi dari apa yang Akira duga. Sofia terlihat memerintah beberapa pekerja hanya dengan mengibaskan tangannya, membuat Akira terheran-heran.
__ADS_1
Saat Dimas sudah masuk ke dalam ruangan yang tadinya ruang keluarga itu, ekspresi Sofia terlihat kurang puas akan sesuatu.
"Dimas sayang, aku akan menelepon designerku untuk memintanya merenovasi kamar ini untukmu."
"Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu." Tolak Akira.
"Ruangan ini sangat jelek dan membosankan." Ucap Sofia.
Seseorang terlihat masuk membawa wallpaper baru untuk menutup dinding ruangan itu yang catnya mulai terkelupas. Satu orang lagi terlihat tengah mengganti model jendela ruangan itu dari luar.
Akira memutar bola matanya dengan malas.
"Akulah orang pertama yang tahu bahwa rumah ini berantakan, Sofia. Untuk itulah aku membelinya, karena aku ingin mendesain interiornya sendiri. Mengecat dindingnya, membeli lampu baru, memasang horden, memasangkan keramik baru, memasang karpet dengan desain kesukaanku, karena ini rumahku sendiri, jadi aku ingin merenovasinya sendiri."
"Dimas," panggil Sofia, "kau tidak bisa hidup seperti ini."
"Lihat aku, Sofia. Aku pikir aku akan merasa sangat nyaman berada disini." Dimas mengerlingkan matanya ke arah Akira.
Sofia menghela nafas panjang.
"Baiklah, jika kau bilang begitu." Ucap Sofia.
"Untuk membuatmu tenang Sofia, aku akan berhenti merenovasi kamar mandiku dan akan mengerjakan ruangan ini agar bisa membuat Dimas merasa lebih nyaman."
'Aku dapat menghabiskan waktuku bersama Dimas disini selama yang aku mau, tapi aku harus menjaga sikap dan emosiku agar tak terbawa perasaan.'
******************
Puas dengan strategi yang ia lakukan, Sofia akhirnya kembali pulang ke kota asalnya. Saat Akira menutup pintu rumah setelah kepergian Sofia, dia merasa canggung. Perawat, therapist, dan ART akan mulai bekerja besok. Jadi hari ini dia hanya berduaan saja bersama Dimas di dalam rumah.
Beberapa menit kemudian, Akira datang dengan membawa sebuah kotak besar dengan warna hitam putih yang juga berpola kotak-kotak disisi kiri dan kanannya. Saat dibuka terdapat berbagai bentuk pion-pion yang dibuat dengan kayu. Semuanya berukuran besar.
"Papan catur raksasa?" Ucap Dimas tak percaya. "Dari mana kau mendapatkannya?"
"Opa yang membuatkannya untukku Dim." Balas Akira.
"Untuk merayakan kebebasanmu dari rumah sakit. Apakah kau mau bermain?"
"Melawan diriku sendiri?"
"Hahahaha tidak kali ini. Aku sudah belajar banyak hal selama tiga tahun terakhir ini Dim. Kali ini kau akan kalah." Ucap Akira penuh percaya diri.
Akira duduk disamping tempat tidur Dimas dan mulai bermain. "Giliranmu."
"Aku tidak tahu, tanganku terasa aneh dan bergerak pelan, bahkan dengan adanya alat bantu ini belum bisa membuat tangan ku terasa lebih kuat."
Akira kembali tertawa, "Catur bukanlah permainan yang mengadu kecepatan. Ayolah, aku yakin, kau pasti bisa."
Akira menahan napas ketika Dimas mulai mengarahkan tangannya untuk memindahkan pion catur dan akhirnya ia pun berhasil meski harus tertatih-tatih.
"Yeeeaaahhh akhirnya aku berhasil." Teriak Dimas girang.
"Sudah ku bilang, kau pasti bisa." Balas Akira.
Permainanpun berlanjut, keduanya duduk berhadapan dengan cahaya hangat dari lampu yang melingkar menyinari keduanya, melupakan dunia luar yang sudah mulai gelap.
Akira merasakan dadanya semakin berdegup kencang, kala tak sengaja tangan mereka bersentuhan, dan mata mereka saling memandang.
__ADS_1
'Jika saja semua ini terjadi di masa lalu. Jika saja kami masih hidup berdua. Jika saja suasana ini akan tetap terjadi di masa depan. Jika saja....'
Dimas bergerak perlahan dan mengatakan, "skak mat."
"Yaaaahh." Teriak Akira.
"Kau sudah bermain dengan sangat baik.".
"Terima kasih banyak Tuan." Balas Akira menundukkan kepalanya, kemudian memasukkan pion catur ke dalam kotaknya.
"Aku mengharapkan hadiah dari kemenanganku, Nona. Sebuah ciuman kemenangan, misalnya." Ucap Dimas.
Akira masih mengingat momen terakhir kali mereka berciuman dan dia tak ingin terlibat terlalu dalam seperti waktu itu.
"Anggaplah ini sebagai ciuman pertemanan." Ucap Akira seraya mencium bibir Dimas dengan cepat.
"Ini sebagai hadiah dariku." Ucap Dimas membalas ciuman Akira.
"Dim...."
"Dan yang ini untuk....." Dimas mulai mencium Akira lagi.
Akira melepaskan dirinya, "Waktunya makan malam." Ucap Akira seraya berjalan pelan menuju dapur.
"Makan malam?"
Akira berbalik dan mengangguk lalu mencium pipi Dimas, "Aku akan memasak makan malam untukmu."
"Terima kasih." Ucap Dimas.
"Sama-sama," balas Akira.
Akira ingin sekali menghindari sentuhan Dimas, namun suasa malam yang romantis membuatnya terbuai. Ia kembali berciuman lebih dalam dengan Dimas.
"Ini sudah lebih dari ciuman pertemanan Ra."
"Emm..." Balas Akira sembari terus menciumi pipi Dimas.
Dimas mengerang, "Tuhan, aku benci mengatakan hal ini."
"Apa?"
"Jangan malam ini, sayang. Aku terlalu lelah. Kau lebih baik pergi tidur."
Wajah Akira memerah karena malu, "kau benar." Ucapnya. "Sini, biar aku membantumu dulu."
'Lagi-lagi aku tidak bisa menahan diri.'
Akira menurunkan tangan Dimas yang tergantung di pelang besi, kemudian merapikan selimutnya agar menutupi hingga dada Dimas.
"Aku akan mengecek keadaanmu setiap dua jam sekali." Ucap Akira. "Selamat malam Dim." Lanjutnya.
"Lain kali ciumlah aku seperti itu teman." Ucap Dimas.
Akira hanya tertawa dan berjalan masuk ke kamarnya.
Sesuai ucapannya, setiap dua jam sekali, Akira datang melihat kondisi Dimas. Saat ia memastikan bahwa Dimas sudah benar-benar terlelap, Akira pun kembali ke kamarnya dan tidur dengan tenang.
__ADS_1