
Pagi hari.....
Akira tengah berdiri di dapur, ia tengah mencampur beberapa kaleng cat untuk diaplikasikan di salah satu ruang kamar. Akira berhenti mengerjakan renovasi di ruang keluarga sejak ia dan Dimas kembali dari kota S. Akira berusaha agar tak melihat atau berada dalam satu ruangan lagi dengan Dimas.
Akira hampir selesai mengaduk cat yang akan ia gunakan saat ia mendengar suara Dimas yang menggunakan kursi rodanya di ruang tamu. Akira berpikir untuk lari ke lantai atas agar terhindar dari bertemu Dimas.
'Tidak, sialan. Ini adalah rumahku. Untuk apa aku harus bersembunyi dari siapapun.' pikir Akira.
Akira mengembangkan senyum di bibirnya saat Dimas masuk ke dapur. Dimas memandang keluar jendela, dimana ada halaman belakang yang ditanami pepohonan yang tak terawat dan terdapat semak-semak yang membuat halaman belakang rumah Akira terlihat sangat tidak terawat.
"Apa kau masih punya kopi?" Tanya Dimas setelah terdiam beberapa saat.
"Ada, aku sudah membuatnya sejak tadi. Tapi masih panas kok." Balas Akira seraya menuangkan secangkir kopi untuk Dimas dan meletakkannya di sebuah meja yang dekat dengan Dimas agar Dimas mudah menjangkaunya.
Saat Dimas mengangkat cangkir itu lalu mendekatkan ke bibirnya secara perlahan, Akira menyadari bahwa Dimas sudah mulai menunjukkan kesembuhan yang drastis, tapi dia tidak ingin berkomentar apapun.
Keheningan menyelimuti keduanya. Setelah beberapa menit, Akira kembali fokus pada kaleng catnya lalu mulai mengaduknya kembali.
Akira mendengar suara helaan nafas Dimas.
"Akira?" Ucap Dimas dengan nada yang datar.
Akira melihat ke arah Dimas, dan mendapati dirinya masih melihat keluar jendela. Lalu tatapan Dimas beralih ke Akira.
"Therapi ku akan segera berakhir. Aku akan segera pergi dari sini."
Akira terdiam, menunggu kelanjutan dari ucapan Dimas.
"Hidup kita harus terus berjalan."
"Iya, kau benar." Balas Akira.
"Kita harus bercerai. Kau tahu, mengubur masa lalu dibelakang kita."
Akira kembali terdiam, ia berpikir apa yang dikatakan Dimas ada benarnya.
'Tentu saja kita harus bercerai.' ucap Akira dalam hati.
__ADS_1
"Oke." Balas Akira terpaksa mengeluarkan kata-katanya.
Dimas mengeluarkan amplop hitam dari dalam jaket yang dikenakannya dan menyerahkannya pada Akira. Ekspresi Dimas terlihat tenang, tatapan matanya pun menunjukkan ia merasa tenang.
"Aku sudah menyiapkan semuanya. Kita hanya perlu menandatangani beberapa berkas, dan aku sudah mengatur bagian untukmu. Kau akan menerima harta gono gini yang lebih banyak sebagai kompensasi untukmu atas semua yang kau lakukan padaku selama ini." Ucap Dimas.
"Tidak." Teriak Akira.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang uang lagi Akira."
"Aku tidak butuh uangmu. Tidak pernah, dan kau tahu itu! Beraninya kamu memecahkan rasa bersalah mu dengan memberiku uang! Beraninya kau menawariku bayaran saat kau tak lagi membutuhkan sesuatu dariku!"
Amarah terlihat jelas dari wajah Akira.
"Tidak, Akira," ucap Dimas cepat. "Aku ingin kau bebas...."
"Kau memang tidak bisa berubah, bukan begitu? Kau memutuskan apa yang terbaik untukku dan menentukan sebuah rencana, menulis suatu kesepakatan yang kau harapkan agar aku menandatanganinya tanpa bertanya lebih dulu padaku. Kau bahkan tidak pernah bertanya apa yang aku inginkan, apa yang aku butuhkan!"
"Tapi aku..."
"Baiklah, untungnya, aku ingin bercerai. Aku butuh perceraian! Aku akan mengajukan perceraian. Tapi aku tidak menginginkan apapun darimu. Simpan setiap sen uang yang kau miliki. Aku sama sekali tidak menginginkannya."
***************
Akira duduk di ruang kerjanya di butik, memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan suntikan dana secepatnya. Suara ponselnya membuyarkan lamunan Akira.
[Akira, apakah kau sedang duduk?] Dwi Harris bertanya pada Akira dengan suara yang terdengar sangat senang.
[Dwi?] Ucap Akira penuh harap. Akira menahan nafasnya.
[Aku punya penawaran untukmu.]
[Penawaran? Bukan sebuah meeting dengan investor?]
[Sebuah penawaran yang hebat. Ini dari sebuah perusahaan yang kurang aku kenal, Alpha Corp]
[Bagaimana bisa terjadi? Aku bahkan belum pernah bertemu dan melakukan meeting dengan mereka.] Ucap Akira tidak percaya.
__ADS_1
[Tadi aku dapat telepon dari mereka, sangat meyakinkan. Aku melakukan pengecekan terhadap perusahaan itu, dan menemukan bahwa mereka merupakan perusahaan dengan keuangan yang cukup kuat.]
[Bagus.] Balas Akira.
[Kau sudah kecewa beberapa kali, aku memutuskan untuk mengirimkan catatan proyek keuangan, kontrak serta file presentasi yang telah kau siapkan sebelumnya. Saat mereka mengajukan untuk mengadakan meeting, aku menganjurkan mereka untuk berbicara denganku lebih dulu.]
[Dan mereka membuat kesepakatan?] Tanya Akira.
[Mereka setuju untuk mendanai mu melakukan fashion show. Bahkan mereka ingin menjadi investor dalam Akira Fashion Designer. Yang artinya mereka ingin membeli merk dagang milikmu. Kau tetap bisa menjalankan butik mu. Aku akan menemui mu dalam beberapa jam, dan kita akan membahas semua detailnya lebih lanjut.]
Sambungan telepon terputus. Air mata Akira jatuh ke pipinya, melepaskan semuanya stress yang selama ini membebaninya. Akira menundukkan kepalanya di meja kemudian menumpahkan seluruh air mata kelegaan yang selama ini ditahannya.
Beberapa menit berikutnya, ia terlihat lebih fresh, mengambil tissue yang ada diatas meja, lalu mengelap wajahnya. Akira kemudian berlari ke lantai bawah.
"Oma!" Akira berlari ke arah Oma Lidia dan memeluknya.
"Oma! Kita sudah mendapat investor yang mau mendanai semuanya. Dwi pikir ini adalah tawaran yang bagus. Kita bisa membayar hutang di bank, mulai memproduksi pakaian dan melakukan fashion show!." Ucap Akira bahagia.
"Sayang, Oma tahu kau pasti bisa melakukan semuanya." Balas Oma Lidia mengelus pucuk kepala Akira.
"Terima kasih Oma. Ini semua juga berkat dukungan dan kerja keras Oma dan yang lainnya."
Oma Lidia tersenyum seraya kembali mengelus kepala Akira.
"Sekarang masalah finansial sudah bisa diatasi. Bagaimana dengan hubunganmu dan si tiang listrik itu?" Tanya Oma Lidia.
Wajah Akira yang tadinya sumringah berubah murung.
"Kami akan bercerai." Balas Akira.
Oma Lidia menghela nafas panjang, kemudian mengajak Akira duduk.
"Oma sudah pernah bilang padamu. Apapun keputusan yang kau buat, Oma akan selalu mendukungmu."
"Entahlah Oma, awalnya ku pikir Dimas sudah berubah. Ku pikir dia bisa mengerti akan diriku, ternyata dia masih sama seperti dulu. Dia masih saja mengatur apa yang dipikirnya baik untukku. Dia tak pernah bertanya apa yang aku mau." Ucap Akira seraya menghela nafas panjang.
"Kalau Oma boleh berpendapat, sebenarnya kalian berdua masih saling mencintai. Sangaat. Tapi itulah, kalian tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Dimas mengatur semua yang dipikirnya baik untukmu. Dan kau sendiri tak pernah bisa melihat apa yang dilakukan Dimas semata karena dia mencintaimu. Tapi, apapun itu kalian berdualah yang menjalaninya. Jika memang bercerai adalah pilihan terbaik yang kalian pilih, maka lakukan. Asal, kalian berdua sudah benar-benar memikirkan semuanya."
__ADS_1
Akira terdiam, tak dapat mengatakan apa-apa.