
Tiba di restaurant....
Akira tengah membantu mengatur posisi duduk Dimas dengan kursi roda agar bisa setara dengan meja yang ada dihadapannya.
"Ini sangat hebat." Ucap Dimas terlihat sangat antusias "The Star adalah salah satu restaurant terbaik di kota ini. Aku tak percaya kau membawaku kemari untuk makan malam." Lanjut Dimas.
"Aku belum pernah kemari sebelumnya." Balas Akira. "Aku berencana kesini jika aku tengah merayakan sesuatu yang special." Akira mengangkat gelasnya yang berisi air putih. "Dan malam ini adalah malam yang special. Kita merayakan keberhasilan mu karena bisa keluar rumah."
'Tentu saja ini malam yang special,' ucap Akira dalam hati.
Dimas terlihat sangat bahagia, bahagia karena sudah mendapatkan kebebasannya kembali, bahagia karena sedikit lagi akan kembali ke kehidupan lamanya. Begitu juga dengan Akira.
Pelayan kemudian datang dengan membawa tabel menu dan memberikannya pada Akira dan juga Dimas. Dimas terlihat kesusahan meraih tabel menu itu, dengan sigap sang pelayan menaruhnya di atas meja agar bisa leluasa dilihat Dimas, kemudian pelayan itu pergi.
"Akira, aku melupakan sesuatu!" Seru Dimas tiba-tiba.
"Apa itu?" Tanya Akira.
"Apa yang harus aku makan? Perawat itu selalu menyuapiku makan, kecuali potongan wortel dan buah. Aku bisa memegangnya sendiri dengan pelan. Jadi bagaimana aku bisa makan disini, apalagi wortel dan buah itu tidak ada di list menu, ya Tuhan, bodohnya aku."
"Ayolah, kita sedang berada di ruangan tersendiri, jadi tidak akan ada yang melihatmu jika sedikit berantakan untuk makan." Ucap Akira, "kita akan memikirkan sesuatu."
"Sudahlah, lupakan saja. Aku tidak bisa memegang sesuatu yang lebih buruk lagi dari wortel atau roti panggang."
"Aku bisa menyuapi mu." Tawar Akira.
"Tidak, aku ingin melakukannya sendiri." Balas Dimas.
"Emmm kalau gitu, kita pesan ayam panggang aja. Khusus bagian pahanya. Jadi kamu bisa megang sendiri. Gimana?" Tanya Akira.
"Memang ada di list menunya? Disini kan rata-rata makanan western yang pakai saus inilah, itulah."
"Dim, resto inikan kita bisa pesan sesuatu yang spesial sama koki nya. Apalagi hanya sekedar ayam panggang."
"Emmm baiklah kalau begitu."
Pelayan datang kembali karena Akira mengangkat tangannya.
"Nyonya ini ingin pesan ayam panggang, yang khusus bagaian pahanya saja. Dan pesanan saya samakan saja dengan dia." Ucap Dimas.
Pelayan itu mengangguk.
"Mmm mas satu lagi," ucap Akira, "tolong buatkan juga buah yang dipotong dengan ukuran agak besar ya. Sekalian sama wortelnya juga. Dan untuk minumnya, air putih sama rainbow mocktail ya." Lanjut Akira.
__ADS_1
Pelayan itu kembali mengangguk, lalu pergi meninggalkan meja Akira dan Dimas.
"Rainbow mocktail!" Seru Dimas, "alkohol?" Tanyanya.
Akira tersenyum, "ya gak mungkinlah. Rainbow mocktail itu cuma minuman soda perasa buah yang dibuat warna warni. Malam ini kan kita tengah merayakan sesuatu. Jadi harus ada yang spesial juga dong."
Dimas mengangguk.
Dimas dan Akira duduk berhadapan dengan meja yang dihiasi lilin yang beraroma wangi. Cahaya lampu restaurant itu sedikit redup. Hingga cahaya lilin terlihat jelas memantul di pipi Dimas. Menampilkan rahangnya yang kokoh dan wajahnya yang mulai terlihat segar kembali, dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu saat ia tengah berbaring di rumah sakit.
Akira ingin sekali menyentuh wajah Dimas, merasakan setiap inci wajah Dimas si tangannya. Tapi Dimas tengah menggenggam erat tangannya, sambil sesekali mengelus lembut tangannya. Dimas seolah tengah menyalurkan perasaannya pada Akira lewat sentuhan tangan.
"Kira? Kira? Akira kan?" Suara seorang wanita mengganggu kebersamaan mereka.
Akira menatap wanita berpakaian modis itu, yang tengah menaruh tangannya di atas meja disebelah siku Dimas.
Dia adalah salah satu teman Akira saat masih kuliah dulu, yang sekarang menjadi pembeli tetap dari pakaian yang di produksi Akira di butiknya secara online."
"Hai Elly, senang bisa bertemu denganmu disini." Ucap Akira berbohong.
'Kenapa bisa ketemu wanita ember ini disini sih?' pikir Akira.
Wanita itu menatap Akira kemudian Dimas dan kembali lagi ke Akira secara bergantian.
"Aku pikir kalian sudah bercerai."
"Tapi sekarang kalian kembali bersama lagi, alias rujuk. Aaaaww romantis sekali."
"Tidak." Balas keduanya lagi secara bersamaan.
Berdiri di samping Dimas, Elly melihat Dimas yang tengah duduk di kursi roda.
"Aku tadi mau ke toilet, Kira. Ayo ikut denganku. Aku belum pernah bertemu denganmu beberapa tahun ini." Ucap Elly.
Sebelum Akira sempat menolak, Dimas sudah lebih dulu mempersilahkannya, "pergilah. Aku akan baik-baik saja."
Akira kemudian mengikuti Elly menuju toilet dan dengan cepat menutup pintunya.
"Apa yang terjadi dengan Dimas?"
Akira dengan tenang menjelaskan tentang GBS.
"Tapi kau tidak rujukkan?"
__ADS_1
"Tidak."
Elly mengelus lehernya.
"Tidak. Tentu saja tidak. Kau tidak akan menyia-nyiakan hidupmu dengan..... orang yang tidak bisa apa-apa."
"Penyakitnya bukanlah penyebab kami berpisah, Elly. Hal itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan perpisahan kami."
Akira tidak mau menjelaskan lebih panjang lagi pada Elly. Hal itu akan membuatnya mempunyai bahan untuk bergosip.
"Aku ingin lebih sering bertemu denganmu lagi." Ucap Elly. "Kita seharusnya bersenang-senang. Masih ingat saat kuliah dulu. Kita bolos kuliah selama seminggu untuk pergi ke pantai pulau sebelah dengan laki-laki yang kita temui di bandara. Tentu saja saat itu kau marah karena tidak suka bergaul dengan laki-laki yang sedikit liar. Kau lebih suka dengan laki-laki rumahan yang tak bisa diajak kemana-mana."
Akira semakin tak ingin berlama-lama dengan Elly, karena dia membuat lelucon yang tidak disukai tentang laki-laki rumahan.
'Tentu saja, wanita ini tengah menyindir Dimas.'
"Kapan-kapan kita makan siang bareng yuk! Kita akan membahas masalah fashion terbaru." Ucap Akira berusaha menghindar dari Elly.
Akira dan Elly lalu kembali ke meja mereka masing-masing.
Elly memandangi Akira yang tengah berjalan mendekat ke arah Dimas. Elly berpikir bahwa Akira sudah sangat membuanh waktunya sendiri demi bersama dengan laki-laki cacat sperti Dimas.
"Oh Akira Akira, aku kasihan padamu." Ucapnya seraya berjalan berlalu menuju mejanya.
"Maafkan aku." Ucap Akira saat tiba di mejanya.
"Tidak apa-apa. Aku bertahan kok." Balas Dimas.
Pelayan kemudian datang dan menyajikan menu pesanan mereka ke atas meja.
Akira dan Dimas pun mulai makan. Namun Dimas yerlihat sedikit kesulitan. Akira pun menaruh ayam itu di tangan Dimas. Setelahnya mereka makan dengan perlahan.
Restauran yang elegant, musik yang lembut dan romantis adalah kenangan yang sangat menyakitkan bagi keduanya jika mengingat masa lalu.
Tak lama setelah selesai makan, pelayan pun datang.
"Biar aku yang bayar menggunakan kartu kreditku." Ucap Dimas.
"Tidak. Makan malam ini, aku yang traktir." Balas Akira.
Akira kemudian memberikan kartu kreditnya pada pelayan itu dan seketika keluarlah struck pembayaran yang menampilkan tanggal malam itu.
Sebelas februari, adalah tanggal pernikahan mereka. Dan malam ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke tujuh.
__ADS_1
Akira menatap Dimas dengan lekat, kemudian seketika merasakan kesedihan yang mendalam.
Bersambung....