Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Perasaan Daniel


__ADS_3

Makan siang pun selesai, namun keduanya belum beranjak dari tempat itu.


'Sepertinya aku harus mengungkapkannya sekarang.' ucap Daniel dalam hati.


"Akira. . . .!" Seru Daniel.


"Hem. . . ." Balas Akira.


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."


"Ngomong aja." Balas Akira santai.


Daniel lalu menggenggam tangan Akira yang berada diatas meja.


"Aku menyukaimu Akira." Ucap Daniel.


Akira menarik tangannya dengan cepat


"Apa maksud kamu?" Tanya Akira.


"Aku sudah menyukaimu sejak lama. Bahkan aku lebih dulu menyukaimu dibanding Dimas."


Mata Akira membelalak saat mendengar ucapan Daniel menyebut nama Dimas.


"Aku menyukaimu sejak kita masih kuliah. Akira aku mencintaimu. . . ."


"Cukup Daniel." Teriak Akira, "kau tahu sendiri bagaimana statusku sekarang. Aku wanita yang masih bersuami."

__ADS_1


"Bukannya kau akan bercerai?" Ucap Daniel.


"Itu bukan urusanmu." Balas Akira ketus.


"Aku bisa menjadi pendamping mu Akira. Aku lebih baik dari Dimas."


"Terima kasih untuk hari ini Pak Daniel." Ucap Akira penuh penekanan. "Aku harus pergi sekarang. Oh ya, masalah kontrak kerjasama kita, kau bisa membatalkannya sekarang juga. Aku tidak mau merasa tidak enak padamu karena kejadian hari ini."


Akira berjalan keluar meninggalkan Daniel. Dengan cepat Daniel berlari mengejar Akira.


"Maafkan aku. Aku salah, aku tidak akan memaksamu. Tapi izinkan aku untuk membuktikan bahwa aku memang sangat mencintaimu."


"Tidak Daniel. Kau bisa mendapatkan wanita yang lebih pantas untukmu dibanding denganku. Maaf aku pamit dulu." Ucap Akira kemudian berjalan pergi.


Daniel berteriak hingga mengundang perhatian pengunjung lainnya. Sementara Akira bergegas kembali ke hotel menggunakan taksi.


'Lebih baik, aku kembali saja ke rumah secepatnya. Semoga saja Dimas sudah tidak ada lagi di rumah.'


Ting!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Akira.


[Hai, apa kabarmu hari ini? Ku harap kau baik-baik saja dan selalu bahagia. Terima kasih karena sudah bersedia menerimaku beberapa bulan ini tinggal di rumahmu. Maafkan atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat padamu selama ini. Oh ya, aku sudah menerima surat gugatan perceraian darimu. Jujur, aku sedih sekaligus marah pada diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa mempertahankan mu dan hubungan kita. Apapun itu, aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu Akira. Dan akan selalu seperti itu. Kau adalah wanita pertama yang aku cintai dalam hidupku, meski aku berharap kau akan menjadi milikku selamanya. Tapi sepertinya tidak akan bisa. Sampai jumpa di persidangan tiga hari lagi.]


Air mata Akira mengucur deras seiring ia membaca pesan yang dikirimkan Dimas itu.


"Kenapa aku harus menangis? Bukannya aku sendiri yang ingin bercerai?"

__ADS_1


Akira membayangi wajah Dimas yang tersenyum dihadapannya. Akira menyadari bahwa ia memang kembali jatuh cinta lagi pada Dimas yang sama seperti dulu. Pada Dimas yang selalu mendominasi dirinya.


Akira menganggap selama ini Dimas tidak mencintai dirinya. Dimas hanya mencintai dirinya saat tidur bersama di atas ranjang.


'Dimas memang sangat agresif, tapi aku juga begitu.'


Kenangan saat Dimas memasang alat keamanan di rumahnya, tengiang dalam ingatan Akira.


'Mungkin Dimas memang khawatir akan keamanannya sendiri. Atau dia peduli padaku dengan caranya sendiri.'


'Dimas menawarkanku uang untuk membantu bisnisku tanpa pamrih, bahkan sampai berpura-pura menjadi perusahaan lain. Namun aku malah menolaknya, padahal dulu aku menyalahkannya karena tidak mendukungku dengan masalah keuangan ini.'


Akira memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan sambil membenamkan wajahnya pada bantal.


'Aku hanya ingin kau bebas Akira.'


Ucapan Dimas kala itu kembali diingat Akira.


"Apa yang sudah aku lakukan? Mungkin aku memang sudah tidak adil. Semua yang dilakukan Dimas selama ini selalu ku anggap salah. Aku bahkan selalu mengatakan bahwa Dimas selalu sama seperti Dimas yang dahulu. Padahal Dimas saat ini memang sudah berubah banyak." Ucap Akira.


Akira kembali fokus pada layar ponselnya, ia berusaha memesan tiket pesawat secara online.


Beberapa jam berikutnya Akira sudah berada di dalam pesawat menuju kota tempat ia tinggal. Akira berusaha untuk tenang, tapi ada banyak pertanyaan dalam hatinya.


'Aku harus bertemu Dimas dan meminta maaf pada Dimas.'


Tapi akhirnya Akira menyadari satu hal, bahwa Dimas pasti sudah pergi dari rumahnya.

__ADS_1


"Aku sudah terlambat." Ucap Akira dengan air mata yang mengalir tanpa dapat ia tahan lagi.


Bersambung. . . .


__ADS_2