Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Bicara Berdua


__ADS_3

Tiba di rumah . . . . .


Akira membuka pintu rumahnya perlahan. Suasana sunyi langsung menyeruak. Meski matahari sudah berada tepat diatas kepala, namun rumah Akira begitu terasa gelap.


Hati Akira menjadi tak karuan, ada perasaan bersalah dan juga rindu yang ia rasakan terhadap Dimas.


'Bagaimana sekarang, dia sudah pergi?'


Akira meletakkan tasnya diatas sofa, lalu duduk. Ingin rasanya segera menelepon Dimas dan berbicara padanya. Namun, Akira pikir untuk saat ini mereka berdua harus berbicara secara langsung dan berhadap-hadapan.


Dimas telah pergi meninggalkan semua kenangan yang tak akan pernah dilupakan Akira.


"Akira . . . .!!!"


'Dimas?'


Akira langsung bangun menuju ruang keluarga, tampak Dimas duduk di kursi rodanya menatap Akira lekat.


"Aku belum pergi . . . Maaf."


"Tidak apa-apa." Balas Akira.


Akira berusaha bersikap tenang, menahan segala gejolak yang ada di dalam hatinya. Ingin sekali Akira langsung memeluk Dimas, namun ia tetap berusaha menahan segala perasaan bahagia di hatinya itu.


'Bagaimanapun, aku tidak boleh menunjukkan bahwa aku yang lebih berharap darinya.' pikir Akira.


"Ada apa? Kenapa melamun?" Tanya Dimas yang langsung dibalas .gelengan kepala oleh Akira

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya perlu bicara sama kamu." Ucap Akira.


"Baiklah."


Akira duduk di kursi berhadapan langsung dengan Dimas dan sebuah meja yang menjadi sekat diantara keduanya.


"Aku sudah menemukan investor yang lainnya," ucap Akira membuka percakapan dengan tenang. "Aku dapat mengembalikan uangmu." Lanjut Akira .


Dimas juga tampak tenang, dia mendengarkan semua ucapan Akira sambil menatapnya dalam.


"Aku mengerti. Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan sekarang, lalu?"


"Aku pikir juga begitu, tapi . . . ." Ucapan Akira terhenti.


"Tapi?" Tanya Dimas penasaran.


'Harapan?'


'Apa dia mau memberikanku kesempatan sekali lagi?'


"Menerima uangmu adalah salah satu dari masalah untukku. Aku berpikir bahwa kau mau mengatur hidupku seperti yang pernah kau lakukan sebelumnya, jadi aku bersikap berlebihan saat kau membuat keputusan untukku. Aku minta maaf karena telah sangat curiga terhadap mu."


Akira berhenti bicara, berusaha menahan agar suaranya tidak bergetar.


"Maafkan aku karena mengatakan 'aku mencintai kamu'. Aku sebenarnya masih punya beberapa kesalahan yang perlu untuk meminta maaf padamu, tapi aku belum memahami situasi ini."


"Apa kau masih mencintaiku sekarang, Akira?"

__ADS_1


Akira benci untuk mengakuinya karena hal itu hanya akan membuatnya malu.


"Iya! Dan kau tahu itu. Aku sudah memberi tahu kamu! Kau memiliki hampir dari semua yang seorang laki-laki inginkan."


"Awalnya aku berpikir kau hanya mengasihani ku. Tapi akhirnya aku bisa mengerti bagaimana perasaanmu yang sebenarnya."


"Bagaimana bisa?" Tanya Akira.


Dimas tersenyum.


"Saat kau marah dan meneriaki aku hingga mengusirku untuk keluar dari rumahmu. Orang yang sangat baik dan penuh kelembutan sepertimu tidak akan pernah melepaskan kemarahan mu pada orang yang kau kasihani. Kau mengeluarkan semua uneg-uneg dan isi hatimu. Aku harusnya menyadari itu sejak lama. Dan pada saat aku menolak cintamu, kamu seharusnya merasa bebas. Tapi pada kenyataannya tidak." Ucap Dimas panjang lebar.


Akira menahan nafasnya, menunggu apa yang akan dikatakan Dimas selanjutnya.


"Ayo ikut aku ke halaman belakang."


"Halaman belakang?" Ucap Akira mengulang kalimat yang diucapkan Dimas.


"Iya." Balas Dimas seraya mengangguk.


'Ada apa ya di halaman belakang?' pikir Akira.


Akira mengekor dibelakang Dimas yang terlihat sudah sangat mahir menggunakan kursi rodanya itu menuju halaman belakang rumah Akira.


'Dia sudah sangat kuat sekarang.' gumam Akira dalam hati.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2