
Di perjalanan menuju rumah Oma, Dimas tiba-tiba meminta Akira menghentikan mobil tepat di depan toko bunga.
"Kenapa?" Tanya Akira.
"Sayang, beli bunga dulu."
"Buat apa?" tanya Akira heran.
"Kita ke makam Mama dan Papa kamu sebentar."
Deg!
'Kenapa Dimas tiba-tiba ingin ke makam Mama dan Papa?'
Akira memang sudah lama sekali tidak mengunjungi makam kedua orang tuanya, terakhir ia ke sana bersama Oma. Karena ia sibuk mengurus bisnisnya, kesana kemari mencari investor, membuat Akira tak punya waktu luang untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya. Akira hanya mendoakan mereka dari rumah saja.
Setelah membeli bunga, Akira langsung melajukan mobil ke tempat yang dituju. Sampai di tempat, Akira langsung melepas sabuk dan membuka pintu, lalu dengan telaten ia membantu Dimas untuk turun dari mobil.
Akira menggandeng tangan Dimas melewati pemakaman itu, hingga sampai di dua pusara yang berdampingan dengan nama kedua orang tua Akira. Keduanya berhenti di sana, berjongkok, dari bibir Dimas, langsung terdengar ia mengucapkan doa.
'Mama Papa....
Maaf, aku baru bisa ke sini lagi. Sekarang aku ke sini bukan dengan Oma, tapi dengan orang lain. Tak usah aku kenalkan dia siapa, karena Mama dan Papa pasti sudah tahu siapa dia.
__ADS_1
Dimas, menantu kalian. Siapa yang akan menyangka, setelah tiga tahun berpisah akhirnya kami rujuk dan bersama lagi sekarang.
Doakan aku dan Dimas, semoga menjadi keluarga yang selalu bahagia. Semoga kelak kami mendapatkan keturunan yang baik seperti Mama dan Papa. Doakan kami ya, Mah, Pah. Aku pun akan terus mendoakan kalian.'
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Dimas menyadari Akira meneteskan air mata.
"Tidak apa-apa," jawab Akira menoleh padanya dan tersenyum.
Keduanya lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah Oma Lidia.
Perjalanan dari tempat pemakaman ke rumah Oma Lidia hanya memakan waktu lima belas menit.
Mobil mereka berhenti di pekarangan rumah, terlihat Oma Lidia sedang bersiap-siap menyambut keduanya dengan senyuman hangatnya.
"Sayang, sudah jam sembilan, kita pulang saja takutnya kemalaman di jalan," ucap Dimas ketika Akira sedang duduk mengobrol sambil menonton TV bersama Oma Lidia. Akira langsung berdiri, menuntun tangan Dimas menuju ke kamar dimana ia biasanya tidur jika menginap di rumah Oma Lidia.
"Dim, malam ini kita menginap disini saja? Aku masih ingin mengobrol banyak dengan Oma," bujuk Akira manja.
"Menginap lah, Oma juga ingin mengobrol denganmu Tiang Listrik." Celetuk Oma Lidia.
Dimas tersenyum.
"Ayolah." Rengek Akira.
__ADS_1
Dari arah belakang, Opa dari Akira, Opa Atmaja memegang pundak Dimas.
"Akira bilang, kau hebat dalam bermain catur. Aku ingin mencoba bermain catur denganmu. Maka kau harus menginap." Ucap Opa Atmaja.
"Karena semuanya memaksa. Maka baiklah." Balas Dimas.
"Beneran nih?" Tanya Akira tak percaya, karena yang diketahui Akira, Dimas bukan orang yang suka untuk menginap di rumah orang lain selain di rumah Akira.
"Tentu saja, kau juga sedang ada halangan. Kalau kau sedang tidak ada halangan, maka tidak boleh," bisik Dimas kemudian mengedipkan mata.
"Ish. Si Tiang Listrik mulai genit." Akira mengerlingkan mata dan mengibaskan tangan.
Dimas hanya tertawa melihat Akira.
"Genit dengan istri itu harus. Kemari lah, aku mau memelukmu." Dimas menarik Akira kepelukannya.
"Khem... Khemm... Mesra-mesraan nya di dalam kamar saja ya." Ucap Oma Lidia.
Pipi Akira memerah, dengan cepat ia mendorong Dimas menjauh.
'Awas kau ya.' ucap Dimas dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1