Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Bersama Daniel


__ADS_3

Semalaman Akira memikirkan, apakah ia harus kembali ke rumahnya besok pagi atau tidak.


'Tapi, aku malas kalau harus bertemu dengan Dimas.' pikir Akira.


Hingga akhirnya Akira memutuskan untuk tidak pulang esok hari, sampai ia dapat memastikan bahwa Dimas sudah pergi dari rumahnya.


Pagi menjelang.....


Akira dikejutkan dengan sebuah paket yang diantarkan seorang kurir ditemani pelayan hotel ke kamar Akira.


"Ada kiriman untuk Nona Akira." Ucap kurir.


Akira lantas menerima sebuah buket bunga mawar merah yang besar lengkap dengan kartu ucapan.


"Terima kasih." Balas Akira lantas menutup kembali pintu kamarnya.


'Dari siapa ya?' gumam Akira.


'Untuk wanita paling cantik yang pernah aku temui. Karena ini hari minggu, bagaimana kalau aku ajak kamu berkeliling di kota ini? Mau ya!'


By Daniel.


Wajah Akira tersipu malu. Ia kemudian segera berganti pakaian setelah mandi lalu pergi menemui Daniel.


Ternyata Daniel sudah menunggu Akira di lobi hotel. Belum sempat Akira menghubunginya, Daniel sudah lebih dulu ada dihadapan Akira.


"Mari . . . ." Ucap Daniel penuh senyum sumringah.


Akira lalu berjalan bersama Daniel di lobi hotel.


"Aku yakin kau belum sarapan. Bagaimana kalau aku traktir untuk sarapan di resto yang paling recomended di kota ini?" Tanya Daniel.


"Aku sih oke aja. Kan kamu yang jadi guide nya." Balas Akira.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu hari ini kau harus ikut kemanapun aku membawamu."


"Oke, asal jangan pergi ke tempat yang aneh-aneh aja."


Daniel mengernyitkan dahi, "maksud kamu?"


"Ya misalnya kuburan gitu." Jawab Akira tertawa renyah.


'Ya Tuhan, wanita ini ternyata pesonanya tidak luntur. Tawanya itu . . . . Benar-benar cantik.' gumam Daniel sambil memandang Akira.


"Hey . . . Kenapa bengong? Kita mau jalan kaki atau pakai mobil?" Tanya Akira.


Daniel tersadar dari lamunannya. Ternyata keduanya sudah berada di pelataran parkir hotel itu.


"Eh, udah sampai ya? Hehehe kita pakai mobil, ayo ikut aku. Mobil aku disana."


Tanpa sadar Daniel menggenggam tangan Akira lalu menggandengnya berjalan menuju mobilnya. Hingga sampai di samping mobilnya, Daniel baru menyadari bahwa ia menggenggam tangan Akira.


"Gak apa-apa." Balas Akira.


Keduanya lalu masuk ke dalam mobil dan melaju menuju restoran yang disebutkan Daniel sebelumnya.


Setelah selesai dengan agenda sarapan. Keduanya lalu menuju sebuah pantai terkenal yang ada di kota itu.


"Aku pikir kamu pasti suka pantai, itulah kenapa aku ngajak kamu kemari."


"Iya . . . . . Aku memang menyukai pantai sejak masih kecil." Balas Akira.


Tapi entah kenapa hati Akira malah merasa sakit saat berada di pantai berpasir putih itu.


'Kenapa aku malah memikirkan Dimas? Bukankah aku memang mau melupakan dia?'


"Kamu kenapa? Haus ya?" Tanya Daniel yang menyadari perubahan pada wajah Akira.

__ADS_1


"Mmmmm . . . . Iya, sepertinya aku haus." Balas Akira.


"Tunggu sebentar, aku akan kembali."


Daniel kemudian bergegas menuju sebuah kedai yang menyediakan minuman dingin.


Sementara Akira tengah fokus menatap deburan ombak yang menyerbu pinggiran pantai.


"Apa yang sedang kau lakukan Dim?" Ucap Akira pelan.


Di tempat lain . . . . . . .


Pagi-pagi sekali, Dimas meminta bantuan pelayanannya untuk mulai mengemas semua barang-barangnya yang berada di rumah Akira.


"Mungkin memang ini yang terbaik untuk kita berdua Akira. Seharusnya aku tidak pernah datang ke rumah mu dan membuat semua kekacauan ini." Ucap Dimas seorang diri.


Dengan pelan Dimas menuntun kursi roda nya menuju halaman belakang rumah Akira.


Halaman yang semakin terlihat berantakan karena pepohonan yang rindang, membuat banyak daun kering yang berserakan, ditambah banyaknya semak belukar yang semakin membuat taman itu sungguh tidak layak untuk disebut sebagai taman.


Seseorang terdengar memencet bel rumah Akira. Dengan cepat Dimas bergerak menuntun kursi rodanya menuju pintu depan.


Saat dibuka, ternyata seorang laki-laki menggunakan pakaian rapi mengantar sebuah surat.


"Selamat pagi Tuan Dimas. Saya datang kemari untuk menyampaikan amanat dari Nyonya Akira."


Setelah memberikan surat tersebut pada Dimas, orang itu lalu pergi.


Dimas membuka surat tersebut. Tanpa terasa air mata Dimas menetes saat ia membaca isi surat itu.


"Akira . . . . Aku sudah tahu kau akan melakukan hal ini. Tapi kenapa aku tetap tidak bisa menerimanya? Kenapa aku tidak rela?" Ucap Dimas seraya mengusap air matanya.


'Baiklah Akira. Aku akan pergi.' gumam Dimas.

__ADS_1


__ADS_2