
Akira dan Dimas kini sudah duduk di dalam kamar. Setelah kejadian tadi, Akira yang hanya mengalami luka lecet di lututnya berdiri dan membantu Dimas masuk ke dalam mobil.
Raut wajah Dimas yang panik karena kejadian itu masih terlihat jelas oleh Akira sampai saat ini.
"Jika maut memisahkan kita, aku berharap semoga kematian datang lebih dulu kepadaku." Ucap Dimas dengan wajah yang masih terlihat khawatir.
"Kenapa kau bicara seperti itu?"
Luka yang ada di lutut Akira sudah ia bersihkan dan diberikan obat merah. Akira sudah menjelaskan bahwa ia tidak apa-apa. Tapi Dimas tetap saja terlihat khawatir.
"Kalau aku meninggal, kau akan dengan mudah mendapatkan pengganti ku. Sementara aku, jika kau meninggalkan aku, aku akan gila, Akira. Aku akan gila!"
Tak menjawab, Akira langsung memeluk tubuh Dimas. Degup jantung Dimas terasa begitu keras di dada Akira. Ia tak mengatakan apa-apa, hanya memeluk tubuh Dimas dengan erat. Sangat erat. Tiba-tiba Akira merasakan bahwa punggungnya basah.
'Dimas menangis? Ya Tuhan.'
Akira akhirnya ikut menitikkan air mata. Selama ia mengenal Dimas, ia tak pernah melihat raut wajah Dimas yang begitu ketakutan bahkan hingga sampai membuatnya sampai menangis.
'Kau benar-benar sudah berubah Dim.'
Lama, kedua menumpahkan semua gundah yang bergemuruh di pikiran mereka masing-masing. Saling berpelukan, tidak melarang air mata mereka tumpah. Dimas memeluk Akira dengan sangat erat sambil sesekali mencium pucuk kepalanya dengan lembut.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Akira. Tolong jangan tinggalkan aku." Ucap Dimas akhirnya memecahkan kebisuan diantara keduanya.
Perlahan pelukan dilepaskan, mata keduanya memerah karena terlalu lama menangis.
"Berjanjilah padaku, bahwa kau akan selalu bersamaku dan tidak meninggalkan aku. Meski maut itu akan tetap datang, aku akan bersedia menggantikan mu lebih dulu."
"Dim, aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku tidak akan meninggalkan dunia ini lebih dahulu dibandingkan kamu. Tapi satu hal yang bisa aku janjikan, aku akan selalu mencintaimu dan bersamamu, menemani kamu sampai akhir hayat ku."
Dimas kembali merengkuh tubuh Akira, kemudian mencium bibirnya dengan lembut.
"Aku tidak akan sanggup membayangkan bagaimana hidupku jika tanpa kamu disisi ku. Aku sudah cukup menderita selama tiga tahun belakangan berpisah darimu. Sekarang aku tidak mau lagi."
"Aku pun demikian, sama halnya dengan yang kau rasakan Dim."
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Keduanya sudah berada di dalam kamar, berbaring sambil memeluk sayu sama lain.
"Tidurlah, Sayang." Suara pelan dan romantis menyapu telinga Akira. Membuatnya sedikit bergeridik geli.
Melihat ekspresi Akira, membuat Dimas sengaja menempelkan bibirnya di indra pendengaran Akira, yang akhirnya membuat tubuh wanita yang mengenakan piyama navy itu mengejang geli dan serasa tersengat listrik.
"Dim, kamu tuh ya!" Satu cubitan melayang di dada bidang Dimas.
__ADS_1
"Aww sakit."
"Kamu sih."
Kedua mata mereka beradu pandangan. Dimas mengangkat dagu Akira, kemudian mulai menciumnya dengan lembut.
Perlahan tangan Dimas mulai menyentuh satu persatu bagian sensitive Akira, membuat wanita yang sangat dicintainya itu menggeliat.
"Dim, eemmmpphh cukup..." Ucap Akira lirih.
Namun Dimas semakin melancarkan serangannya. Ia semakin dalam mencium Akira dan berusaha melepaskan kancing piyama yang dikenakan Akira.
Dengan cepat Akira menahan tangan itu, dan berbisik,
"Apa kau lupa, aku tengah datang tamu bulanan."
Wajah Dimas berubah kesal, "sial." Umpatnya lalu berbalik memunggungi Akira.
"Uuhh sayang, sabar ya. Tunggu dua atau tiga hari lagi."
Akira memeluk Dimas dari belakang, membuat Dimas menjadi gemas. Ia kemudian berbalik lagi lalu dengan cepat mencium Akira lagi.
__ADS_1
"Setidaknya biarkan aku mencium mu dengan puas malam ini."
Bersambung.....