Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Penyelesaian Masalah


__ADS_3

Dimas merutuki dirinya sendiri karena sudah membuat Akira terluka karena dorongan yang ia lakukan. Sebelum pulang tadi, Dimas sempat melihat pergelangan kaki Akira luka karena terjatuh akibat dari dorongan yang tak sengaja dilakukannya.


Di dalam kamar, Dimas terus saja mengumpat dan menyalahkan dirinya sendiri.


Dari halaman depan terdengar suara mobil di parkir kan. Lewat jendela kamar yang kini ditempati mereka di lantai atas, Dimas melihat Akira diantar oleh Daniel. Hatinya semakin hancur saat melihat Daniel membelai kepala Akira.


"Daniel, aku ini istri orang. Kau tidak boleh menyentuhku sembarangan." Ucap Akira.


"Aku hanya perduli padamu Akira." Balas Daniel.


"Aku sudah punya suami yang peduli padaku. Aku tidak membutuhkan perhatian darimu."


Akira terlihat menghela nafasnya.


"Daniel, terima kasih telah mengantarku pulang. Tapi, aku ingin mulai sekarang kau tidak lagi mengganggu aku. Dan aku ingin kerjasama kita berakhir sampai disini. Untuk biaya yang sudah kau keluarkan, aku akan mengganti rugi semuanya. Aku harap kamu bisa mengerti."


"Tidak, aku tidak mau." Teriak Daniel.


"Maaf Daniel, lebih baik sekarang kau pergi saja. Untuk urusan kontrak kerja, aku akan mengirimkan semua file pembatalannya lewat e-mail. Jadi kita tidak perlu bertemu lagi."


Dimas tak lagi ingin melihat adegan selanjutnya yang akan terjadi diantara Daniel dan Akira. Ia memilih untuk berbaring di tempat tidur. Pikirannya melayang kemana-mana.


Dimas bingung harus bertindak seperti apa. Dibawah sana istrinya tengah berbicara dengan laki-laki lain. Yang Dimas sendiri tak tahu apa yang mereka berdua tengah bicarakan. Satu hal yang pasti, Dimas tak tahan kala melihat tangan isterinya di pegang laki-laki lain.


"Sekali lagi aku katakan padamu Daniel, jangan pernah temui aku lagi." Ucap Akira kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Daniel menatap Akira penuh amarah, kemudian masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi dengan kecepatan tinggi.


Akira masuk ke dalam rumah dengan perasaan tak menentu. Ia ingin segera bertemu dengan Dimas dan membicarakan semuanya.


Saat Akira masuk ke dalam kamar, ia melihat Dimas tengah duduk menghadap laptopnya yang menyala.


"Dim...." Panggil Akira, namun Dimas tak menggubrisnya.


Karena Dimas tak menghiraukan panggilannya, Akira memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaian.

__ADS_1


Akira kemudian duduk di tepian tempat tidur.


"Dim, aku mau bicara..."


"Biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku dulu." Balas Dimas dingin.


Dimas meninggalkan pekerjaannya yang memang belum sepenuhnya selesai demi pergi ke acara yang dihadiri Akira tadi. Tapi sebuah insiden yang terjadi malah mengacaukan segalanya.


Kini keduanya kembali berselisih paham. Suasana canggung pun tercipta diantara keduanya. Tak ada yang bersuara. Dimas hanya fokus pada layar laptopnya, sementara Akira memilih duduk di meja kerjanya dan mulai membuat sketsa baru.


Setelah tiga puluh menit berlalu, Dimas akhirnya menutup laptopnya karena pekerjaannya memang sudah selesai.


Tanpa menatap Akira, Dimas mulai berbicara.


"Maafkan aku karena mempermalukan mu hingga membuatmu sampai terluka di acara tadi. Aku sama sekali tidak sengaja melakukannya."


"Sudahlah Dim, aku mengerti. Aku tahu kau tidak sengaja, kau tidak akan mungkin menyakitiku." Balas Akira. "Justru akulah yang seharusnya meminta maaf padamu. Aku sudah bersikap egois dengan memaksamu untuk ikut bersamaku sedangkan kau sendiri tengah sibuk dengan pekerjaanmu." Lanjut Akira. "Tolong maafkan aku."


Dimas terdengar menghela nafas panjang.


"Apa sebaiknya aku pergi saja dari sini?" Tanya Dimas tiba-tiba hingga membuat Akira tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Demi Tuhan Dim, aku tak percaya bahwa kau sampai mengatakan hal itu, hanya karena kesalahpahaman yang terjadi diantara kita." Akira mulai menitikkan air mata.


Dimas dengan cepat berjalan ke arah Akira dan memeluknya.


"Bukan itu maksudku, aku sama sekali tidak ingin berpisah denganmu." Ucap Dimas yang berusaha menenangkan Akira yang mulai sesenggukan.


"Lalu apa? Bukankah barusan kau sendiri yang mengatakan ingin pergi dari rumah ini meninggalkan aku?" Teriak Akira lagi.


"Akira dengarkan aku..."


"Tidaaak. Lebih baik kau pergi. Pergilah dari rumahku..." Teriak Akira histeris.


"Akira..."

__ADS_1


"Pergi... Per..."


Dimas menghentikan teriakan Akira dengan mencium bibirnya. Sekuat tenaga Akira berontak, namun Dimas lebih kuat darinya dan membuatnya semakin mencium Akira lebih dalam lagi.


Air mata Akira mengalir deras, perlahan perlawanannya terhadap Dimas berhenti. Ia akhirnya luluh, bahkan kini tangannya memeluk erat pinggang Dimas.


Tangan Dimas yang tadinya memegang kedua pipi Akira, beralih mengusap air mata Akira yang menetes dengan lembut.


Cukup lama keduanya berciuman, hingga akhirnya Dimas melepaskan ciumannya pada Akira.


Dimas menggandeng tangan Akira dan membuatnya duduk di tepian ranjang. Sementara ia sendiri duduk berjongkok dilantai dan mulai memeriksa kaki Akira yang terluka.


Kaki Akira hanya mengalami lecet sedikit saja. Dimas akhirnya bisa bernafas lega karena luka di kaki Akira tidak begitu parah. Ia pun mendongak menatap Akira yang juga tengah menunduk melihat dirinya..


Pandangan keduanya bertemu, degup jantung keduanya tak menentu. Rasa cinta diantara keduanya begitu besar dan sangat terpancar dari kedua mata mereka.


"Aku pernah melakukan kesalahan di masa lalu dengan bersikap egois. Aku tidak memperhatikan keinginan kamu, dan bahkan aku lebih mementingkan pekerjaanku dibandingkan dengan dirimu." Ucap Dimas memulai percakapan.


"Hari ini aku melihatmu melakukan hal yang sama denganku dimasa lalu. Tapi aku berusaha untuk mengerti, dan meninggalkan semua pekerjaanku demi dirimu. Tapi apa yang aku dapat? Aku malah melihat lelaki lain dengan begitu santainya merangkul isteriku. Aku yakin kau pasti paham bagaimana rasanya jika menjadi diriku. Aku menjadi marah dan tak dapat lagi menahan diri untuk tidak menghajar laki-laki itu. Tapi yang ku lakukan malah membuatmu terluka. Aku minta maaf Akira." Lanjut Dimas panjang lebar.


Akira menangis, ia menatap laki-laki yang ada dihadapannya penuh cinta.


"Itulah mengapa aku sampai mengatakan apa aku harus pergi dari rumah ini agar kau bisa mengejar mimpimu lebih dulu, dan kau bisa kembali padaku saat kau sudah merasa puas dengan pencapaian mu dan dapat berubah seperti aku yang sekarang ini." Dimas mengelus pipi Akira lembut.


"Akira, aku sangat mencintaimu sejak dulu dan sampai kapanpun akan selalu seperti itu. Dulu, aku memang lelaki yang egois. Tapi sekarang aku sudah mulai belajar untuk berubah, dan aku tidak ingin sikapmu malah berubah menjadi seperti diriku di masa lalu. Aku hanya ingin kau bebas mengejar mimpimu. Tanpa merasa terbebani dengan kehadiranku." Lanjut Dimas lagi.


"Nggak Dim, jalan tinggalkan aku. Aku juga mencintaimu, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan seperti itu lagi." Ucap Akira akhirnya setelah beberapa saat terdiam.


Akira menarik tangan Dimas untuk berdiri dan memeluknya. Keduanya pun berpelukan dengan begitu hangat dan penuh cinta.


"Satu hal lagi, aku sudah memutuskan kontrak kerjaku dengan Daniel. Aku tidak perduli jika harus mengganti rugi sepuluh kali lipat. Asalkan dia tidak bisa menggangguku lagi apalagi sampai membuatmu marah dan kecewa padaku."


"Terima kasih sayang, aku akan selalu mendukung semua keputusanmu." Balas Dimas.


Dimas kemudian mencium Akira lalu mengangkatnya ke tempat tidur, dan mulai bercumbu dengan penuh cinta.

__ADS_1


Malam yang semakin larut, tak menghalangi keduanya memadu kasih.


Bersambung....


__ADS_2