
Akira tersenyum saat Dimas memperlihatkan kursi roda baru yang canggih miliknya. Kondisi Dimas semakin membaik sejak keluar dari rumah sakit enam minggu yang lalu. Dimas sudah berusaha dengan sangat keras untuk kesembuhannya. Meski begitu dari sorot mata Dimas, ia masih terlihat frustrasi karena dia tidak bisa sembuh lebih cepat.
"Sebelum GBS, hanya mobil Ferrari yang bisa membuatku merasakan sensasi yang luar biasa, sama halnya dengan yang aku rasakan saat ini dengan kursi ini." Ucap Dimas.
Dengan pelan-pelan, Dimas mengangkat lengannya kemudian menyelipkan tangannya disela-sela roda, dan mulai menggerakkannya dengan sangat perlahan.
"Apa kursi itu ada hubungannya dengan mobil van hitam yang ada di depan?" Tanya Akira.
"Iya, kemarin Rama menyediakan semuanya untukku. Awalnya Rama berniat menunggumu sampai kau pulang bekerja untuk menunjukkan padamu tentang ini. Lihat bahkan kursi roda ini punya remote kontrol. Jadi akan lebih mudah bagiku untuk bisa keluar dari tempat ini. Yeeeaahh!" Jawab Dimas penuh antusias.
'Jadi Dimas ingin sekali pergi dari rumahku?' tanya Akira dalam hati.
Dimas sangat menginginkan kebebasannya sama seperti yang Akira inginkan tiga setengah tahun yang lalu. Dan saat Dimas mendapatkan kebebasannya, Akira sudah pasti akan sangat terluka dan merasa kehilangan.
"Kau sepertinya sudah siap untuk pergi menjelajah dunia luar. Aku harus memperingatkan gadis-gadis di kota ini," ucap Akira, berusaha membuat suaranya agar tak terdengar sedih.
"Kau tak dapat membayangkan bagaimana terkurungnya yang aku rasakan sejak aku sakit selama tiga bulan yang panjang ini, karena kau harus keluar setiap hari. Tuhan tahu, aku siap untuk pergi."
Melihat bahagianya wajah Dimas, Akira menyampingkan perasaannya tentang masa depan, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk menikmati masa sekarang.
Dari wajah Dimas, Akira menebak bahwa apa yang Dimas pikirkan sama dengan yang ia pikirkan.
"Apa kau pikir kita bisa melakukannya?" Tanya Akira.
"Kita adalah orang dewasa yang tentunya sudah sangat pintar. Tentu saja kita bisa. Rama sudah memberitahuku beberapa kemungkinan terburuk, tapi aku yakin kita bisa menghadapinya."
"Kemana kita akan pergi?"
"Menonton film dan makan malam. Setuju?"
"Tentu. Aku mau ambil jaket dulu, diluar cuaca sedang dingin. Akan ku ambilkan jaket untukmu juga." Balas Akira kemudian berlari ke kamarnya.
Dimas memegang remote control kursi roda itu, membuat kursi roda itu berjalan pelan dan berusaha keluar melewati pintu ya g dibukakan oleh Akira. Kursi roda berjalan hingga ke teras dan berhenti secara tiba-tiba.
"Ada apa?" Tanya Akira bingung.
Kemudian Akira melihat penyebabnya, jalan yang tak rata. Ada empat anak tangga.
__ADS_1
"Sial! Aku masih saja terjebak disini." Rutuk Dimas.
"Aku bisa membawamu menuruni tangga, dan menjagamu. Teman kuliahku dulu mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya patah dan aku membantunya berkeliling kampus menggunakan kursi roda."
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja." Ucap Akira dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi. "Hapus keraguan dari wajahmu itu. Kita bisa melakukannya."
"Sayang, kau tidak bisa mengangkat beban dengan berat tujuh puluh kilogram. Aku tidak mau kau menyakiti dirimu sendiri. Aku bisa duduk disini sebentar dan menikmati udara segar dan sunset."
Merasa dongkol dengan sifat menyerah Dimas dan tidak mau berusaha untuk berjuang, Akira menggenggam pegangan kursi roda itu, lalu memutar posisi Dimas membelakangi dirinya. Akira melangkah menapaki tangga lebih dulu, lalu dengan perlahan menarik mundur Dimas.
Akira mendengar hembusan nafas Dimas dan menyadari Dimas pasti ketakutan. Jika Akira kehilangan kendali atas kursi roda, maka Dimas akan terjatuh di tangga dan dia tidak akan bisa melindungi dirinya dari mengalami luka-luka.
Setiap langkah melewati tangga, Akira dan Dimas merasa was-was, takut jika Akira tak kuat menahan berat badan Dimas.
"Aku jadi ingat apa yang dikatakan Rama, 'Pastikan kau mengenakan rompi.' Dan inilah yang dia maksud, aku seharusnya memakai rompi agar tidak terluka jika sampai terjadi sesuatu padaku."
Akira hanya tersenyum.
Akhirnya, keduanya sampai dibawah dengan aman. Meski hanya empat anak tangga, tapi sungguh perjuangan yang sangat berat untuk keduanya. Akira pun bisa bernafas lega.
Selang beberapa menit, Akira keluar rumah dengan wajah sumringah.
"Aku sudah mendapatkan restoran dan bioskop yang cocok untuk kita." Akira berjalan disamping Dimas sebagai pemandu untuk menuju mobil van.
"Film apa?" Tanya Dimas.
"Terserah kau saja. Mau action, drama romantis, animasi..."
"Apa ada film tentang pernikahan?" Tanya Dimas yang memotong ucapan Akira.
"Twivortiare."
"Film luar?"
Akira menggeleng, "Film dalam negeri, pemainnya Reza Rahardian dan Raihaanun, film ini mengangkat kehidupan pernikahan. Mulai dari awal hubungan yang terasa manis hingga perlahan mulai merenggang karena kesibukan dan sulitnya komunikasi hingga menimbulkan pertengkaran." Jawab Akira.
__ADS_1
"Udah pernah nonton?"
"Udah sekali, tapi gak terlalu fokus."
"Kenapa? Pasti karena mikirin aku ya!"
"Iyain aja deh." Balas Akira tersenyum.
"Oke fix. Kalau gitu kita nonton film itu aja." Ucap Dimas, dibalas anggukan oleh Akira.
Keduanyapun masuk ke mobil, setelah sebelumnya Akira harus kembali berusaha mendorong Dimas ke dalam mobil melalui jalan naik yang memang sudah dibuat khusus dan terpasang di mobil van.
Setelah mengaitkan kursi roda Dimas dengan pengait agar ia aman, Akira pun mulai menyetir menuju bioskop.
Keduanya merasa sangat senang karena akhirnya bisa keluar berdua untuk menonton di bioskop. Hingga akhirnya mereka tiba di bioskop yang memiliki fasilitas khusus untuk penyandang disabilitas.
Keduanya sedikit merasa tidak nyaman akan tatapan iba yang ditunjukkan pengunjung lainnya. Beberapa orang menundukkan kepala mereka saat Akira dan Dimas lewat. Tapi Dimas tak ingin minder, dia duduk dengan tegap. Akira yang mendorong Dimas dapat melihat dengan jelas urat leher Dimas menegang.
Keduanya kemudian mengantri untuk membeli pop corn dan minuman. Setelahnya masuk ke ruang bioskop karena film akan segera dimulai.
Dimas menggenggam erat tangan Akira saat sudah berada di dalam ruang bioskop. Ia merasa sangat nyaman karena Akira berada disisinya melewati masa sulit yang tengah ia hadapi.
Film dimulai, Dimas terlihat fokus menatap layar besar yang ada dihadapannya. Sesekali Akira menyuapi Dimas pop corn, dan mengarahkan sedotan ke bibirnya untuk minum.
"Terima kasih atas segalanya." Ucap Dimas dengan berbisik.
"Terima kasih juga karena sudah berusaha dengan keras hingga kita bisa sampai disini berdua." Balas Akira.
"Tapi kaulah yang berusa...."
"Sshhh...." Suara seorang penonton memotong ucapan Dimas.
Keduanya langsung diam seraya tersenyum.
Hingga film berakhir, Dimas terlihat diam. Membuat Akira berpikir bahwa Dimas tengah kesakitan.
"Dimaass..." Panggil Akira.
__ADS_1
"Benar-benar film yang bagus. Acting Reza Rahardian tak diragukan lagi. Banyak pesan dari film ini yang dapat kita ambil. Tapi satu hal yang pasti. Aku lebih tampan dari Reza Rahardian." Ucap Dimas yang membuat Akira tertawa.
"Sudahlah, ayo kita makan malam." Ucap Akira.