
Akira memutuskan untuk menjadikan malam ini sebagai malam yang akan menjadi kenangannya yang indah bersama Dimas. Karena bagaimanapun, nantinya, Dimas akan kembali ke rumahnya setelah ia sembuh.
Dengan perlahan, Akira membuka pakaian Dimas, kemudian memasukan handuk kecil ke dalam ember yang sudah diisi air hangat.
Akira kemudian mengelap punggung Dimas dengan handuk basah itu, setelahnya menggosok punggung Dimas perlahan dengan sabun. Beralih ke dada hingga betis dan kaki Dimas. Dengan sangat hati-hati Akira menggosok tumit Dimas.
Ada rasa sedih dan juga bahagia di hati Akira karena dapat memandikan Dimas untuk yang pertama kalinya setelah perpisahan mereka. Apalagi saat ini Dimas yang tengah mengalami kelumpuhan.
Saat Akira hampir selesai menyeka air ditubuh Dimas dengan handuk yang kering, Dimas memegang pinggang Akira pelan.
"Akira...." Ucap Dimas lirih.
"Iya..." Balas Akira menghentikan aktifitasnya.
"Terima kasih atas segalanya."
Akira hanya tersenyum lalu menunduk, tanpa aba-aba ia langsung mencium bibir Dimas. Dimas pun membalas ciuman Akira.
"Jangan disini, ayo bawa aku ke tempat tidur." Ucap Dimas.
Keduanya pun kembali bergumul di atas tempat tidur. Hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan.
'Ini yang ketiga, dan bisa jadi yang terakhir.' pikir Akira.
Keduanya saling menatap dalam, ada getaran-getaran dihati keduanya.
"Dim, maafkan aku jika selama ini aku bersalah padamu. Dan untuk apapun itu, aku akan selalu ada untukmu." Ucap Akira seraya memeluk Dimas.
"Aku mencintaimu Dimas." Ucap Akira akhirnya.
Namun, entah mengapa Dimas malah merasakan hal yang lainnya.
"Aku tak butuh untuk kau kasihani Akira."
'Kasihani? Ya Tuhan, bagaimana bisa kau menolak kata cinta dariku? Dia mengira perasaan yang ku miliki terhadapnya hanya sebatas kasihan? Aku tidak pernah mengasihaninya, tidak walau dia meninggal sekalipun. Jadi selama ini aku hanya membohongi diriku sendiri, aku percaya bahwa dia perduli padaku, mempercayai bahwa dia berubah untuk cintanya padaku? Bodohnya aku sudah berpikir bahwa Dimas bisa berubah.'
__ADS_1
Dimas memang mempercayai pikirannya sendiri bahwa yang Akira lakukan selama ini hanya karena Akira kasihan terhadap dirinya dan bukan karena cinta. Dimas memang terlalu memusingkan masalahnya sendiri dan mengabaikan semua keintiman yang telah mereka lakukan.
Akira merasa hampa, bahkan merasa tidak mempunyai harapan lagi akan hubungan mereka.
"Kau berada dalam sebuah ruangan yang mengubah mu menjadi mengasihani dirimu sendiri Dim." Balas Akira. "Dan kau terlalu buta untuk menyadarinya." Lanjut Akira.
"Maafkan aku Akira. Aku hanya tidak mau menyakitimu. Tapi hubungan ini tidak berjalan baik untuk kita." Balas Dimas.
"Baiklah." Air mata Akira menggenang. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Dimas.
Keduanya terdiam, sementara Akira larut dalam pikirannya. Setelah ia memastikan bahwa Dimas sudah tidur lelap, Akira pergi ke kamar mandi dan mengunci pintunya.
Di dalam kamar mandi, ia menangis menumpahkan semua kekesalan dan kesedihan hatinya.
Pagi....
Keduanya sudah berada di atas pesawat untuk kembali ke rumah Akira. Beberapa bulan melakukan therapi, keadaan Dimas semakin membaik, semuanya tidak terlepas dari peran Akira yang selalu mendukungnya.
Selama ini Akira mengurusnya, memberinya makan, membantunya menaiki mobil van, membantunya untuk naik ke tempat tidur, bahkan Akira membantu untuk memandikannya.
Tapi, apa yang Akira dapat. Selama ini Akira melakukan semuanya karena ia memang masih mencintai Dimas. Dan ia juga berpikir bahwa Dimas memiliki perasaan yang sama.
'Andai saja Akira mengatakannya beberapa hari yang lalu, aku mungkin akan membalasnya. Tapi semalam, ah semuanya sudah terlambat. Aku tidak mungkin menelan ludahku sendiri.' gumam Dimas.
Ia memandangi pemandangan dari atas ketinggian lewat jendela pesawat. Sementara Akira, yang duduk disampingnya hanya diam, dan terlihat larut dengan pikirannya sendiri.
Perjalanan bersama Akira kali ini membuat Dimas menyadari, bahwa ia selama ini hanya mementingkan dirinya sendiri. Kalaupun ia mau meyakinkan Akira kembali, bahwa ia sudah berubah dan membuat dirinya menjadi pantas untuk Akira, maka Dimas memerlukan waktu yang cukup lama lagi.
'Aku memang tidak akan pernah pantas untuknya. Tapi setidaknya aku sudah memberikannya kebebasan, seperti yang selama ini dia inginkan.'
*************
"Selamat pagi..."
Akira mengucapkan salam kepada para anggota Invesco yang datang untuk melakukan meeting dengan Akira di sebuah ruang pertemuan yang tersedia di hotel.
__ADS_1
Akira menyalami semua orang yang hadir kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan. Sejak semalam Akira sudah menyiapkan semuanya untuk meeting ini.
'Meski tidak sempurna, paling tidak aku sudah berusaha sebaik mungkin.'
Seorang OB memberikan Akira dan anggota meeting yang lainnya secangkir kopi. Dan kopi adalah cangkir kopi yang ketiga diminum Akira sejak tadi di rumah. Padahal jam dinding baru menunjukkan pukul delapan.
"Mari kita mulai, Nona Akira." Ucap salah seorang dari anggota Invesco.
Akira memulai presentasinya dengan menceritakan sejarah bisnisnya dan bagaimana masa depan bisnisnya kelak.
"Untuk memajukan usaha saya, saya butuh investor yang bersedia menjadi sponsor dan mendanai saya untuk ikut dii acara fashion show yang akan digelar dua bulan lagi." Ucap Akira.
Akira menatap wajah para anggota Invesco itu saat ia berbicara.
"Saya berdiri disini untuk menyampaikan, bahwa usaha saya memiliki potensial di masa depan. Jika kalian membuka halaman ke empat, disana kalian dapat melihat kemajuan dan data penjualan berbagai jenis fashion yang sudah berhasil saya lakukan." Lanjut Akira dengan percaya diri.
Para anggota Invesco mendengar penjelasan Akira dengan sabar, tanpa adanya pertanyaan. Membuat Akira berpikir bahwa mereka sama sekali tidak tertarik dengan apa yang disampaikan Akira.
"Bagaimana semuanya, apa ada yang perlu ditanyakan?" Ucap Akira.
"Terima kasih Nona Akira, selanjutnya kami akan menghubungi anda." Ucap salah seorang anggota Invesco.
Setelah itu mereka semua keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi meninggalkan Akira sendirian di dalam ruangan.
"Bodoh..." Ucap Akira kesal.
"Tentu saja mereka bodoh jika tidak mau berinvestasi di bisnismu." Ucap Dwi Harris yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
"Aku tidak tau lagi Wi, sepertinya mereka tidak akan mau." Balas Akira.
Wanita yang tampil modis itu merupakan sahabat Akira sekaligus rekan kerjanya. Dia membantu Akira untuk memasarkan semua fashion yang diproduksi Akira.
"Tenanglah Akira, aku pasti bisa menemukan investor yang tepat untukmu." Ucap Dwi sambil memijat pundak Akira. "Sepertinya kau terlalu lelah Akira. Kau harus memanjakan dirimu sendiri. Bagaimana kalau kita pergi ke spa." Lanjut Dwi.
"Aku belum bisa memanjakan diriku sendiri, kalau aku belum menemukan investor. Ku harap kau bisa lebih cepat menemukan investor yang tepat untukku. Karena waktuku semakin menipis."
__ADS_1
"Tentu saja Akira. Aku akan menemukannya untukmu. Sekarang yang harus kau lakukan adalah bersantai. Jangan terlalu terbebani. Kau benar-benar terlihat kurus dan kurang terawat. Oh ya bagaimana hubunganmu dengan Dimas setelah perjalanan kalian ke kota S kemarin?"
"Sudahlah, jangan bahas dia lagi, aku pusing. Lebih baik sekarang kita keluar saja dari ruangan ini." Ucap Akira seraya berjalan menenteng tas dan sebuah map ditangannya.