Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Uneg-uneg


__ADS_3

Akira menggeser kursi disamping tempat tidur dan duduk didekat Dimas. Dimas merasa sangat senang, kala Akira menggenggam tangannya.


"Jangan biarkan penyakit ini membuatmu menjadi lemah Dim. Jika kau tidak frustrasi karena kondisimu, maka kau akan menjadi gila. Tapi kau sudah berjanji pada Rama dan padaku juga." Ucap Akira seraya mengelus punggung tangan Dimas.


Dimas merasa tenang saat Akira mengelus tangannya, tapi kemudian ia tersadar saat merasakan tangan Akira tak lagi halus dan lembut seperti dulu.


"Apa yang sudah kau lakukan pada tanganmu ini?" Tanya Dimas.


Akira mengangkat tangannya kemudian terlihat jelas terdapat goresan, luka-luka kecil dan memar di tangan Akira.


'Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri?' tanya Dimas dalam hati.


Renovasi rumah, pekerjaan yang berat. Terutama saat memaku dan memasang printilan-printilan kecil." Balas Akira.


"Kenapa kau tidak pakai sarung tangan?"


"Ah, sarung tangan hanya akan membuatku tidak leluasa dalam bekerja." Balas Akira.


"Tapi kau menyakiti dirimu sendiri."


"Aku suka merasakan sensasi saat tanganku langsung menyentuh dinding, memegang kuas saat mengecat dan yang lainnya. Aku merasa puas dan senang bekerja dengan tanganku sendiri." Ucap Akira mantap.


"Apa gak ada cara lain agar bisa membuatmu merasa puas merenovasi rumah tanpa menyakiti diri kamu sendiri?"


"Tenanglah Dim, nanti juga bekas lukanya akan ilang kalau pakai krim atau plaster obat." Jawab Akira santai.


Dimas merasa tidak kenal dengan Akira yang sekarang - wanita ini begitu mandiri, dia menemukan kesenangan dan kebanggaan dalam bekerja saat orang lain merasa biasa-biasa saja, bahkan tidak perduli dengan pekerjaan mereka. Seorang wanita yang mampu berdiri sendiri, seorang wanita yang mampu bertahan tanpa dirinya atau lelaki manapun dalam hidupnya.


"Aku harap kau membangun kembali rumah ini sama dengan kau membangun kehidupanmu, Ra."


Akira tersenyum ke arah Dimas.


Dimas berusaha menarik tangan Akira untuk menciumi punggung tangan itu. Dimas senang saat Akira sendiri yang menuntun tangannya untuk dicium Dimas.


Dimas menarik nafas dalam-dalam. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, sesuatu yang ingin ia sampaikan sejak tiga tahun lalu.

__ADS_1


"Akira, maafkan aku, aku telah membuatmu sangat tidak bahagia saat kita masih menikah - emmm saat masih bersama. Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu. Aku tidak pernah tau, sampai kau memberi tahuku pada malam itu di rumah sakit."


"Aku tidak pernah berpikir bahwa kau akan menyakitiku. Tapi kenyataannya begitu."


Mata Akira terlihat sendu sesaat, membuat Dimas berpikir jika Akira tengah mengingat betapa terlukanya ia saat itu, dan jika dia masih terluka saat ini.


"Tapi, semuanya sudah berakhir sekarang." Ucap Akira seraya mengelus wajah Dimas lalu menarik tangannya.


Dimas ingin meminta Akira untuk berada di dekatnya, untuk menyentuhnya, tapi ia tidak bisa. Dimas sudah setuju untuk hanya menjadi teman, dan dia harus menepati janji itu.


Dimas ingin mengatakan sesuatu tentang kegagalan hubungan mereka dimasa lalu.


"Apa kesalahanku?" Tanya Dimas.


Akira menghela nafas panjang.


"Kau tidak pernah menghargai aku sebagai diriku sendiri. Kau memperlakukan aku layaknya sebuah ornamen, sesuatu yang hanya bisa berada dibawah ketiak mu. Aku hanya kau butuhkan saat kau perlu untuk menjadi teman tidurmu. Aku harus terlihat cantik, berpakaian bagus, bersikap ramah pada setiap tamu dan kenalan kamu, dan harus menyimpan semua pendapat dan masalahku sendiri."


Dimas melihat mata Akira berair, namun rasa tidak bersalahnya kembali membuatnya merasa harus mengeluarkan uneg-unegnya juga.


Wajah Akira mulai memerah. Dimas sebenarnya tidak ingin menyakiti Akira. Tapi dia harus melanjutkan penjelasannya.


"Aku ingin kau mengerti, kenapa aku sampai harus pulang larut malam atau menyibukkan diriku dengan belajar. Aku tengah dalam proses untung mengembangkan perusahaan ku. Aku mengambil resiko yang besar saat aku pertama kali menambahkan tiga pusat distribusi baru."


Dan pada saat Akira meninggalkannya dulu, Dimas malah semakin menyibukkan dirinya dengan bekerja lebih keras, bukannya berhenti karena dengan bekerja membuatnya bisa melupakan Akira.


Akira menatap Dimas dengan lekat, "Iya kau benar, aku tidak pernah melihat kesalahan pada diriku sendiri. Aku begitu mudah untuk menyalahkanmu."


"Aku ingin kau bahagia sebagai isteriku. Aku tidak mengerti kenapa semua yang aku berikan padamu tidak cukup. Pasahal kau susah terlibat dengan beberapa acara amal. Keeegiatan itu menyita banyak waktu, dan aku harap kau bisa merasa puas."


"Aku melakukan semua itu karena kau menginginkanku untuk melakukannya. Karena itulah yang diharapkan untuk menjadi seorang Nyonya Dimas Abraham. Karena ibumu merupakan salah satu sosialita yang terkenal di kotamu. Semua orang mengharapkan aku untuk menjadi seperti dirinya dan Sofia. Kau hidup di dunia yang seperti itu dan susah terbiasa, tapi itu semua merupakan hal yang baru, dan sangat asing untukku. Orang-orang yang merupakan temanmu, aku berusaha berbaur dengan mereka. Tapi aku tidak pernah merasa nyaman."


"Aku pikir kau senang bekerja untuk acara amal. Kau sangat lembut dan cocok dalam hal itu, kau tahu."


"Aku tidak mengkritik tentang acara amal yang dilakukan ibumu atau Sofia. Tapi aku lebih suka membantu orang langsung dengan tanganku sendiri. Satu alasan mengapa aku berjuang sangat keras dalam memproduksi pakaian adalah, agar aku bisa memberikan pakaian yang layak pada mereka, pada orang-orang yang kurang beruntung. Aku sudah mendonasikan pakaian yang aku buat untuk orang-orang yang terkena musibah dan kekurangan."

__ADS_1


"Aku pikir kau belum terlalu dewasa untuk memulai sebuah bisnis."


"Kau pikir aku akan menjadi dewasa dan menerima berbagai cara yang kau inginkan, tentang bagaimana seharusnya aku menjalani kehidupanku?"


"Hal itu sudah baik untu Sofia dan ibuku....... Ya Tuhan Akira! Aku hanya mencoba untuk membuatmu menjadi seorang isteri yang mirip seperti ibuku."


"Ibumu!" Seru Akira.


"Dia wanita yang lembut, wanita yang sangat perhatian dibandingkan dengan Sofia. Dia menyukai acara amal, berkumpul dengan teman-temannya, berbelanja pakaian dan menjadi isteri yang sangat menyenangkan bagi ayah."


Dalam diam, keduanya saling menatap. Dimas mencoba membuat Akira menjadi seorang isteri yang persis seperti ibunya, yang hidupnya didedikasikan untuk melayani suaminya, yang tidak memiliki keinginan untuk dirinya sendiri.


'Kenapa aku berpikir bahwa itu ide yang bagus? Menjadikan Akira mirip dengan ibuku.' pikir Dimas.


Akira mencoba meniru mimik wajah uang serinh dibuat Sofia, "Tapi Dimas sayang, keinginanmu tidak berjalan muluskan, seperti sekarang, sayang?"


Dimas tertawa, membuat suasana menjadi cair kembali.


"Seharusnya kita membicarakan banyak hal sebelum menikah, seperti gaya hidup, atau bahkan keinginan kita masing-masing."


"Saat kita membicarakan tentang karir dan komitmen, kau harusnya memberikanku bunga dan parfum." Ucap Akira.


"Kau benar, tapi sayangnya aku tidak pernah punya waktu untuk itu. Kita bertemu di acara pernikahan untuk pertama kalinya. Kemudian bertemu hampir setiap hari, kita berdua dimabuk asmara sampai setiap kali bertemu kita akan selalu berciuman. Kemudian bertunangan, kurang dari satu bulan kita langsung menikah. Benar-benar tidak ada waktu untuk membahas yang lainnya."


"Aku pernah mendengar sebuah kalimat: 'kita tumbuh dewasa dengan cepat dan terlalu lama menjadi pintar.' Kita terlalu lama menjadi pintar, bukan begitu Dim?" Tanya Akira.


Jantung Dimas berdegup kencang. Ia tak tahu harus berkata apa, yang dia butuhkan sekarang hanya istirahat.


"Aku lelah, Akira. Aku ingin tidur."


"Baiklah, beristirahatlah Dim. Jika kau butuh sesuatu, aku ada diatas." Balas Akira seraya berjalan meninggalkan Dimas yang terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.


'Aku memang terlambat menjadi pintar. Terlambat menyadari bahwa dia tidak bahagia saat bersamaku. Sekarang apa yang bisa aku lakukan? Apa aku harus berjuang untuk merebut hatinya kembali? Sedangkan dia terlihat bahagia hidup sendiri. Terbebas. Bebas dari diriku.'


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2