Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Kecelakaan


__ADS_3

Mobil Akira berhenti di pelataran parkir rumah sakit. Dengan cepat ia turun dari dalam mobil. Sebentar saja matanya menyapu pandangan ke seluruh area parkiran, sosok yang ingin ditemuinya ternyata tengah berjalan pelan dengan bantuan tongkat yang ada ditangan untuk menopang tubuhnya.


Senyuman terukir di bibir pria yang tengah berjalan pelan dibawah sinar matahari itu. Keningnya basah karena keringat yang mulai keluar diakibatkan cuaca yang begitu panas.


"Dimas...!" Seru Akira seraya berjalan mendekat ke arah Dimas.


"Kau kenapa tak menunggu aku dulu. Aku kan bisa membawa mobil langsung ke depan sana, supaya kau tak perlu berjalan jauh di tengah terik matahari seperti ini."


"Peluk aku."


"Ha?"


"Jangan banyak bertanya, peluk saja." Titah Dimas.


'Ada apa dengannya, kenapa tiba-tiba ingin dipeluk.'


"Aku merindukanmu. Tetaplah memelukku sampai aku meminta untuk melepaskan."


Keduanya berpelukan tepat disamping mobil. Teriknya matahari tidak menjadi penghalang bagi keduanya berpelukan dengan penuh kasih sayang.


Beberapa pasang mata menatap mereka, ada yang tersenyum ada pula yang berbisik-bisik.


"Sudah ya Dim, kita harus pergi. Cuacanya panas sekali."


Dimas melepaskan pelukannya kemudian tersenyum lalu mencium kening Akira.


"Apa kau tidak merindukan aku?"

__ADS_1


"Tentu saja aku merindukanmu. Sekarang cepat masuk."


Keduanya lalu masuk ke dalam mobil yang kemudian berjalan keluar meninggalkan parkiran rumah sakit.


"Sudah makan siang?" Tanya Akira.


"Belum. Kau sendiri?"


'Jujur atau tidak ya?'


"Hey, kenapa? Apa ada yang sedang kau pikirkan?"


"Tidak ada. Kalau begitu kita restoran saja ya Dim. Kau mau makan apa?" Tanya Akira bersemangat.


"Sebenarnya aku ingin kau memasak untukku. Tapi sepertinya kau tengah sibuk dan kelelahan. Bagaimana kalau makan burger atau pizza saja?"


"Aku akan memasak untukmu nanti malam. Sekarang kita beli saja ya. Setelah ini kita ke butik dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Dimas tersenyum seraya mengelus lembut kepala wanita yang tengah fokus menyetir itu.


'Entah bagaimana jadinya aku tanpa dirimu Akira.'


Mobil tiba-tiba berhenti dipinggir jalan.


"Ada apa?" Tanya Dimas.


Akira dengan cepat membuka sabuk pengamannya. Lalu membuka pintu mobil pelan.

__ADS_1


"Tunggu disini sebentar, aku mau ke seberang jalan sana." Akira menunjuk sebuah stand penjual minuman dingin. "Aku malas untuk putar balik, lebih baik aku menyeberang saja. Tunggu ya." Lanjut Akira lagi.


"Berhati-hatilah." Pesan Dimas, Akira mengangguk kemudian keluar dari mobil melihat ke kanan, kemudian ke kiri dan menyebrang cepat saat sudah merasa aman.


Jalan yang memang khusus untuk satu lajur itu membuat Akira memutuskan memarkirkan mobilnya di bahu jalan, sementara dirinya memilih untuk menyebrang. Karena jika harus memarkirkan mobilnya di stand minuman itu, dia harus memutar balik lebih jauh lagi.


Tak lama Akira terlihat berjalan melintas jalan dengan menenteng dua gelas minuman berwarna coklat. Dari dalam mobil Dimas melambaikan tangannya, Akira tersenyum.


Tiba-tiba sebuah motor melaju dengan sangat cepat hampir saja menabrak Akira. Untungnya si pengendara bisa bermanuver dengan baik hingga bisa menghindari kecelakaan yang fatal.


Akira berteriak keras karena kaget. Minuman yang ada ditangannya terlempar dan tumpah ditengah jalan. Orang-orang yang melihat kejadian itu ikut berteriak.


Akira hanya tersenggol sedikit saja, hingga membuatnya jatuh tepat di tengah pembatas jalan jalur kiri dan kanan. Akira terjatuh di rerumputan, namun lututnya mengenai sebuah pot tanaman yang ada di pembatas jalur itu.


Sang pengendara motor langsung tancap gas. Raut wajahnya menunjukkan ketakutan. Ia memang takut jika dihakimi masa karena hampir menabrak orang.


Meski sebenarnya ia memang sudah menabrak Akira.


Dimas yang melihat kejadian itu bergegas keluar mobil, ia bahkan lupa mengambil tongkatnya. Hingga membuat dirinya juga jatuh di trotoar.


'Kaki sialan.' umpat Dimas dalam hati.


'Aku benar-benar laki-laki yang tidak berguna. Aku tidak bisa melindungi isteriku sendiri.'


Dimas ingin berusaha bangun dan berdiri tanpa bantuan tongkat, tapi ia sama sekali tak bisa. Lantas ia berteriak dengan suara yang terdengar begitu putus asa.


"Akiraaaaa..."

__ADS_1


__ADS_2