
Akira pulang ke rumahnya setelah bekerja hari kamis sore dan mendapati Dimas tengah murung dan bersedih. Selama bulan April, Dimas membuat sedikit perubahan dalam therapi nya.
'Malam ini dia terlihat kacau,' pikir Akira.
"Dim?"
"Kamu lebih baik menghindari ku malam ini. Aku tengah merasa sangat buruk."
"Aku tahu, kau merasa kecewa dengan progres kesembuhan mu. Tapi seperti yang aku bilang sebelumnya, kau harus bersabar Dim."
"Mudah untukmu mengatakan semuanya, tapi untuk pertama kalinya aku benar-benar marah dengan situasi ku saat ini. Aaahh...." Dimas berteriak. "Kau tau Akira, aku kehilangan customer utamaku."
"Apa yang terjadi?" Tanya Akira.
"Jimmy dan Bobby Atmaja mendengar bahwa aku tengah sakit, dan sekarang mereka tidak mau berbisnis dengan perusahaan ku, karena mereka pikir aku tidak cukup kuat, tidak terlalu berkompeten, untuk menjalankan perusahaan dengan kondisiku saat ini. Mereka berdua adalah customer terbesarku, sudah bertahun-tahun keduanya bekerja sama denganku."
Dimas terlihat sangat frustrasi.
"Aku tidak tau bagaimana caranya meyakinkan mereka." Ucap Dimas murung, "aku juga tidak bisa berkeliaran mengurus Bisnisku, sementara aku masih terjebak menggunakan ini." Lanjut Dimas seraya memegangi roda kursinya.
Akira merasa begitu iba dengan situasi yang tengah dihadapi Dimas. Hal yang paling ditakuti Dimas selain kehilangan fungsi fisiknya seperti saat ini adalah kehilangan perusahaannya.
'Bagaimana caranya aku bisa menolongnya?'
Kemudian sebuah solusi muncul di benak Akira.
"Dimana lokasi perusahaan mereka?" Tanya Akira.
Dimas menatap Akira lekat.
"Di kota S. Kenapa? Aku yang kau pikirkan?'
"Aku punya ide bagus."
"Jangan bercanda!" Seru Dimas tak percaya.
"Apakah dengan memenangkan kembali kontrak yang kau lakukan bersama Atmaja bersaudara dapat membuatmu menjadi semangat kembali?"
"Tentu saja! Tapi......."
"Kita dapat melakukannya Dim." Potong Akira.
__ADS_1
"Kita? Melakukan apa?"
"Kita bisa menemui customer terbesarmu itu."
"Tentu saja, dan meyakinkan mereka bahwa aku orang yang tidak bisa melakukan apa-apa."
"Tidak! Kita akan meyakinkan mereka bahwa kau masih dapat memimpin perusahaan mu. Kau bisa, kau tahu itu, sejak kau keluar dari ruang ICU. Kita dapat menunjukkan pada mereka."
"Tapi, bagaimana kau bisa meninggalkan pekerjaanmu?"
"Aku akan meminta Oma Lidia untuk menghandle semuanya besok. Dia sangat berkompeten dalam hal ini."
Secercah harapan muncul dan membuat mata Dimas berbinar.
"Apa rencana mu?" Tanya Dimas antusias.
"Kita akan terbang ke kota S, kemudian menyewa sebuah mobil Van. Kita akan menemukan sebuah hotel yang memiliki akses untuk memudahkan pengguna kursi roda sepertimu dan kita akan mengajak Atmaja bersaudara untuk meeting di hotel itu juga. Bagaimana menurutmu?" Tanya Akira.
"Ya, aku pikir itu ide yang bagus."
"Kalau begitu, sekarang kau telepon customer mu itu, dan aku akan menyiapkan segala keperluan untuk keberangkatan kita."
"Apa kita bisa berangkat besok? Atmaja bersaudara bergerak cepat, aku tidak mau mereka menemukan supplier baru."
Akira kemudian bergegas naik ke lantai atas, ia kemudian memikirkan keputusannya yang begitu spontan. Biasanya setiap weekend, butiknya akan ramai pengunjung. Ia akan sangat sibuk melayani pembeli dan melayani orderan yang masuk. Akira semakin dipusingkan dengan tenggat waktu yang ia butuhkan untuk menemukan investor untuk membantunya dalam acara fashion show yang akan segera berlangsung.
'Aku bisa saja, meninggalkan butik dengan Oma yang mengurus semuanya. Tapi bagaimana dengan masalah investor ini?'
Akira meremas rambutnya dengan frustrasi, ia kemudian mengambil ponselnya lalu menelepon Dwi Harris.
"Hai, aku baru saja mau menelepon mu. Apakah kau bisa bertemu dengan sebuah grup Invesco pada Senin pagi?"
"In-ves-co! Bukankah itu..."
"Iya, seperti yang kau ketahui. Invesco merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dalam membantu perusahaan kecil atau usaha-usaha kecil untuk berkembang. Tapi mereka melihat semuanya dengan perspective yang berbeda dengan perusahaan yang lainnya. Pertama-tama, kau harus bertemu dengan mereka membahas tentang bisnis fashion mu, bagaimana semuanya berjalan, ya selebihnya kau sendiri yang tau apa saja tugasmu saat meeting dengan para investor."
Akira menelan ludah berat. Melakukan meeting dengan para investor akan memakan waktu berjam-jam apalagi sampai harus menjelaskan semuanya secara lebih detail.
Setelah sambungan telepon terputus, Akira mulai mencatat apa saja yang harus ia siapkan untuk melakukan meeting bersama Invesco.
Akira kemudian menyadari bahwa ia juga telah berjanji untuk pergi ke kota S bersama Dimas. Dan dia harus membatalkannya. Masa depan dari bisnisnya juga tengah dipertaruhkan.
__ADS_1
'Sebagai seorang pebisnis, Dimas pasti mengerti.' pikir Akira.
Akira kembali terlihat berpikir.
'Dimas harus tetap pergi tanpaku. Tapi siapa yang bisa menemaninya?
Rama bisa mengurus masalah transportasi Dimas, tapi dia akan sedikit membantu dalam hal meeting dengan Atmaja bersaudara.
Akira mengacak-acak rambutnya.
"Aku tahu, Sam bisa menemani Dimas. Bukankah Dia sekretarisnya. Sam pasti bisa menemui Dimas di kota S. Aku hanya tinggal meneleponnya saja." Ucap Akira pada dirinya sendiri.
Tapi, Akira kembali dilanda dilema. Disisi lain, ia harus menyiapkan semua keperluannya untuk meeting dengan Invesco. Tapi disisi lain, ia ingin menemani Dimas, untuk mensupport Dimas, dan meyakini Dimas bahwa ia dapat melakukan semuanya lagi.
Akira memutuskan untuk mengambil kedua tanggung jawab itu.
'Aku bisa menyiapkan semuanya sekarang dan mempelajari semua yang aku butuhkan di pesawat nanti. Lalu aku juga bisa menemani Dimas pergi, saat dia melakukan meeting, aku akan membantunya sebisa mungkin.' gumam Akira sambil tersenyum.
Tengah malam itu juga, keduanya berangkat ke kota S, Dimas terlihat sibuk mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan duo Atmaja besok pagi.
Pukul delapan pagi, keduanya check in di sebuah hotel mewah di kota itu, lalu segera mempersiapkan semuanya.
Di dalam sebuah ruangan pertemuan yang berukuran kecil, Akira membantu Dimas berpindah tempat duduk dari kursi roda menuju kursi yang tersedia. Akira kemudian menyembunyikan kursi roda Dimas di ruangan lain, lalu meletakkan berkas-berkas yang dikirimkan Sam tadi malam di atas meja.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Akira.
"Aku sedikit takut, mereka akan mengetahui kondisiku yang sebenarnya. Mereka bisa saja membatalkan kontrak." Jawab Dimas dengan helaan nafas yang panjang.
"Aku yakin kau bisa melakukannya. Kau hanya perlu menjadi lebih optimis, dan aku akan selalu ada di samping kamu untuk membantumu."
Dimas menatap Akira lekat, lalu memegang tangannya lembut.
"Terima kasih banyak Akira, kau sudah jauh-jauh membawaku kesini untuk membantuku melakukan semua ini. Aku semakin berhutang budi padamu." Ucap Dimas tulus.
"Sudahlah, aku akan selalu membantumu selama aku bisa. Sekarang fokuslah, buat mereka percaya bahwa kau masih mampu menjalankan perusahaan mu. Tapi, kau juga harus santai, jangan terlalu tegang."
Dimas tersenyum, lalu mencium tangan Akira.
"Aku janji akan berhasil, demi kamu." Ucap Dimas.
'Aku semakin mencintaimu Akira.'
__ADS_1
Bersambung....