Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Bertemu Daniel


__ADS_3

Akira terlihat susah untuk bernafas, ia merasa bahwa perutnya dihantam sesuatu. Tapi Akira berusaha untuk kuat dihadapan Sofia.


"Kita akan lihat semua nanti!" Seru Akira.


Sofia berjalan meninggalkan ruang dapur.


"Oh ya, astaga aku lupa. Aku harus cepat menuju bandara. Tolong telepon taksi untukku, sayang." Ucap Sofia.


"Telepon taksi mu sendiri! Aku ada urusan penting yang harus aku lakukan!" Bentak Akira.


Akira berjalan melewati Sofia yang berdiri di pintu, gigi Akira terdengar bergemertuk, ia berjalan menuju ruangan Dimas, dan berteriak memanggilnya.


"Dimaass....!" Seru Akira.


"Masuklah! Aku punya kejutan untukmu."


Akira masuk dengan wajah penuh amarah.


"Aku sudah muak dengan semua kejutan yang kau berikan! Aku tidak butuh kejutan apapun lagi!"


"Apa? Kau kenapa?" Tanya Dimas heran.


"Sofia dan aku mengobrol santai tadi. Dia bertaruh satu milyar denganku bahwa kau adalah pemilik dari Alpha Corp, yang artinya kau adalah investor ku."


"Apa?" Raut wajah Dimas berubah seketika.


"Kau dengar aku Dimas. Apakah kau Tuan Alpha Corp?"


"Ah, Akira, biar aku jelaskan." Dimas mencoba menjelaskan, ia memutar roda kursinya hendak mendekati Akira.


"Menjelaskan apa? Kau sudah merencanakan semuanya berbulan yang lalu. Membodohi ku selama ini dengan datang ke kota ini. Jika saja kau tidak berusaha untuk ikut campur dengan peketjaanku, kau pasti akan terbaring sakit di kota mu sendiri. Jadi kau tidak akan menjadi masalah untuk orang lain disini.


Akira melihat keterkejutan dari wajah Dimas akan kata-kata kasarnya.


"Aku tidak pernah menginginkan seseuatu darimu Dimas. Tapi kau mrnusukku dari belakang dan kau malah berniat membeli bisnisku. Bisnisku, Dimas! Aku yang memulainya. Aku yang membangunnya sendiri."


"Tapi kau membutuhkan investor." Ucap Dimas lembut, berusaha menenangkan Akira.


"Itu semua adalah masalahku. Aku tidak ingin kau ada di dalamnya."


"Di kontrak itu mengatakan kau bisa mengambil kembali semua bagianmu dalam waktu lima tahun."


"Aku tidak mau menunggu selama itu." Ucap Akira geram.


"Kalau begitu kau bisa membayar ganti ruginya kapanpun."


"Kau tahu aku tidak punya uang sebanyak itu."


"Kalau begitu mari kita batalkan saja kontraknya, dan kamu bisa menyimpan semua uang itu." Ucap Dimas tenang.


"Hahaha kau lucu sekali. Tapi tidak terima kasih! Aku akan membayarmu secepat yang aku bisa. Sekarang aku hanya ingin menjauh darimu."

__ADS_1


Kemarahan terlihat jelas dari sorot mata Dimas.


"Aku hanya ingin membantumu, Akira. Aku ingin kau menjadi bebas."


"Dan kau punya waktu lima hari untuk membersihkan barang-barangmu dan keluar dari rumahku. Keluar dari hidupku. Aku akan keluar kota untuk bisnis. Saat aku kembali, aku mau tak ada lagi sampah milikmu disini."


Akira menatap Dimas, berharap kali ini adalah terakhir kali ia melihat Dimas dan berada di dalam ruang keluarga miliknya.


************


Keesokan paginya, Akira duduk di dalam ruangan pengacaranya.


"Saya sudah memutuskan untuk segera bercerai Pak William. Semuanya akan simple saja. Kami hanya tidak ingin bersama sebagai suami isteri lebih lama lagi."


"Apakah anda sudah membahas lebih jauh tentang pembagiannya?" Saat dahi Akira mengkerut, Pak William menjelaskan ucapannya. "Apakah anda sudah setuju tentang seberapa banyak bagian yang akan diberikan kepada anda tentang harta gono gini selama tujuh tahun ini?"


"Kami tidak mau membagi apapun. Kami akan membawa apa yang kami miliki masing-masing."


"Apakah anda yakin? Anda mungkin akan mendapat bagian yang sangat besar."


"Saya sudah menandatangani persetujuan untuk bercerai. Saya tidak mau menandatangi hal yang lebih banyak lagi. Saya tidak mau yang lain lagi dari lelaki itu, selain perceraian."


"Apakah dia setuju akan hal itu?"


"Dia yang menyarankannya," balas Akira.


"Saya mengerti. Berarti dia akan menandatangani semuanya tanpa kendala apapun."


"Saya mau semuanya berakhir secepat mungkin."


Akira tersenyum lalj berjalan keluar dari ruangan pengacaranya itu.


'Hanya enam puluh hari lagi. Maka aku akan terbebas darimu Dimas.' Ucap Akira dalam hati.


********


Akira duduk di sebuah taman, merenungi semua masalah yang tengah dihadapinya.


"Sekarang aku harus bagaimana? Kontrak dengan Alpha Corp sudah jelas gagal. Lalu aku harus mencari investor dimana lagi? Yang jelas aku tidak mau menerima apapun lagi dari Dimas." Ucap Akira.


Dari kejauhan seorang pria berjalan mendekat ke arah Akira yang duduk bersandar di bangku panjang sambil memejamkan matanya.


"Hey, kau Akira Olivia kan?" Tanya Pria yang mengenakan setelan jas warna hitam itu.


"Daniel? Kamu Daniel kan?" Ucap Akira.


Pria itu tersenyum seraya mengangguk.


"Aku boleh duduk gak?"


"Tentu saja." Jawab Akira menggeser tubuhnya.

__ADS_1


Daniel lalu duduk disamping Akira.


"Sedang apa kau di kota ini?" Tanya Daniel. "Sejak kau memutuskan untuk menikah setelah lulus kuliah dulu, aku tak lagi melihatmu,"


Akira tersenyum getir, tak menjawab pertanyaan Daniel.


"Maaf kalau aku mengganggumu." Ucap Daniel lagi.


"Gak apa-apa. Eh ngomong-ngomong kamu ngapain ke taman ini dengan pakaian kamu yang rapi?" Ucap Akira balik bertanya.


"Aku lagi ninjau pembuatan hotel baru aku di dekat taman ini. Karena suntuk dan butuh udara segar setelah makan siang, ya aku mampir kesini. Gak taunya ketemu kamu." Ujar Daniel.


Daniel adalah teman laki-laki Akira saat kuliah dulu. Beberapa kali lelaki berlesung pipi itu berusaha mengungkapkan perasaannya pada Akira, namun ia tak pernah sempat memberi tahu Akira sampai akhirnya Akira malah menikah dengan Dimas.


"Kamu udah nikah?" Tanya Akira. "Mana isteri kamu?"


"Sampai sekarang aku belum menikah, hati aku masih sulit menemukan pengganti dari wanita yang pernah aku cintai sejak dulu." Ucap Daniel seraya menatap Akira lekat.


Akira menjadi salah tingkah.


"Wanita itu pasti sangat beruntung karena bisa mendapat cinta dari kamu." Ucap Akira tersenyum canggung.


"Kamu sendiri bagaimana? Dimana suamimu? Sudah punya berapa anak? Kalau tidak salah sekarang sudah tujuh tahun kau menikah."


Akira tersenyum getir.


"Aku belum punya anak. Dan. . . ."


'Ah sepertinya tidak usah aku ceritakan.' gumam Akira.


"Dan apa?"


"Mmmmmm . . . . Itu. . . ."


"Pak Daniel maaf, sudah saatnya kembali ke kantor, masih ada pertemuan yang harus Bapak lakukan." Ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul.


Terlihat raut wajah Daniel yang kecewa. Ia lantas menggerakkan tangannya seperti mengusir laki-laki itu pergi.


Daniel berdiri disusul Akira, membuat map yang ada dipangkuan Akira terjatuh. Dengan cepat Daniel memungutnya dan tanpa sengaja melihat tulisan di sebuah kertas bertuliskan 'Pengadilan Agama'.


'Apa Akira akan bercerai atau bahkan sudah bercerai?' pikir Daniel.


"Akira kalau kau punya waktu, bisakah malam nanti aku mengajakmu untuk makan malam?" Tanya Daniel.


Akira tampak ragu.


"Ku mohon. Anggap sebagai pertemuan kita sebagai sahabat lama." Ucap Daniel berusaha meyakinkan Akira.


Akira akhirnya mengangguk.


"Baiklah, tolong tuliskan nomor ponselmu agar aku bisa menginformasikanmu dimana kita akan bertemu."

__ADS_1


Akira kemudian menulis nomor ponselnya di ponsel milik Daniel.


"Sampai ketemu nanti malam Akira." Ucap Daniel sambil melambaikan tangannya lalu pergi mwninggakan Akira.


__ADS_2