
Setelah beberapa waktu Ava tersadar dari rasa syoknya, dia mengedarkan pandangannya dan terlihat wanita yang meringkuk di pojok ruangan dengan selimut sedang menangis tersedu-sedu, gadis itu tak lain adalah Tasya.
Ava menghampiri Tasya dengan tatapan membunuh, tangannya terkepal.
"Dasar wanita murahan!" teriak Ava menggelegar memenuhi ruangan, Tasya semakin takut dan memundurkan tubuhnya namun naas dia sudah diujung tembok.
"Pasti kamu yang merencakan semua ini kan!" Ava semakin meninggikan pita suaranya dan mencekik leher Tasya sangat kuat sehingga membuatnya susah bernafas.
"KATAKAN!" Ava masih mencekik leher Tasya, dia tidak mempedulikan Tasya yang kini merasakan kesakitan serta menangis memohon untuk dilepaskan.
"Tolong lepaskan aku" suara Tasya terbata-bata sulit untuk berbicara.
"Melepaskanmu?" Ava tersenyum kecut, dan menatap tajam ke arah Tasya.
"Kamu yang telah bermain- main denganku maka tanggunglah akibatnya, gadis jal*ng" Ava menghempaskan tubuh Tasya sehingga membuat Tasya terjatuh dan kepala terbentur dengan meja sampai mengeluarkan darah.
"Auw" Tasya merasakan sakit di kepala dan tubuhnya yang terbentur dengan lantai.
Ava kembali menarik rambut Tasya dengan kuat, dan tangannya melayang ke arah pipi Tasya, pipi yang tadi mulus seakan berubah menjadi lebam dan terdapat darah segar keluar dari sudut bibir Tasya.
__ADS_1
"Auw sakit" Tasya meringis kesakitan dan tak lupa matanya yang dipenuhi air yang terus mengalir seperti air hujan.
Ava mendekatkan wajahnya ke telinga Tasya dan berkata,
"Apa kamu tau orang yang berani bermain- main denganku, maka orang itu harus mati" Ava lagi-lagi menghempaskan Tasya ke lantai.
Ava mengambil bajunya dan memakainya dengan cepat, kakinya melakah keluar namun terhenti di depan pintu dan berbalik ke arah Tasya yang kini dalam keadaan yang amat memprihatinkan.
"Urusan kita belum selesai ja**ng" Ava pun pergi dan menutup pintu itu dengan keras.
Tasya masih menangis sejadi-jadinya sehingga dia sulit untuk bernafas.
Pandangannya mulai memudar, darah yang keluar dari dahinya tetap mengalir sehingga dia kehilangan banyak darah dan dia pun tak sadarkan diri, dia tergeletak dilantai dengan kondisi yang mengenaskan.
......................
Ava menyetir dengan kecepatan tinggi, dia kehilangan jejak Vira, sesekali dia memukul batang stir dan mengutuk gadis yang membuat dirinya kehilangan Vira.
"Arahhhh, kau tunggu saja jal**ng" Ava merasa frustasi, dia mengacak rambutnya dengan kasar.
__ADS_1
"Byy kamu dimana?" gumam Ava, padangannya lurus, dia hanya ingin bertemu Vira dan menjelaskan semuanya.
Ava mengambil teleponnya dan menelpon Vino.
"Hello Va, ada apa? tumben lo nelpon gua?" Tanya Vino lewat telpon.
"Vin gua butuh bantuan lo!" suara datar Ava
"Bantuan Ava?" Tanya Vino lagi.
"Lo kerahin semua bawahan buat nyari Vira" jawab Ava dengan nada memerintah.
"Ehh buat apa nyari Vira, emang dia hilang?" tanya Vino sekian kalinya yang membuat Ava kesal.
"Lo cuma gua perintahin buat nyari, bukan nanya!" bentak Ava dan langsung mematikan telpon sepihak.
Sementara Vino bergidik ngeri, dia bingung apa yang membuat Ava bisa semarah itu.
"Daripada gua dijadiin udang rebus meningan gua turutin aja kemaun tu orang" Vino tidak memiliki pilihan karena semua yang dikatakan Ava adalah mutlak tidak dapat dibantah.
__ADS_1
Ava masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia menuju ke markasnya.