
Rembulan menyinari malam dengan desiran angin yang menyengat kulit Tasya, dia tengah berdiam diri di taman.
"Ma, pa kalian lagi apa? Tasya kangen" Tasya menatap sendu pada rembulan, dia pernah mendengar jika orang yang telah meninggal akan pergi ke bulan, entah itu benar ataupun tidak sekarang Tasya sangat merindukan orang tuanya.
Sebenarnya Tasya akan pergi ke gudang penyimpanan makanan untuk persiapan makan malam dengan melewati area taman, namun langkahnya terhenti sejenak dan menatap bulan, dia menghirup udara malam sambil memejamkan matanya, lalu menghembukan nafasnya.
Tanpa Tasya sadari ada yang sedang memperhatikannya dari jauh, Ava yang berdiri di balkon untuk menenangkan pikirannya tidak sengaja melihat Tasya berdiri di taman.
"Dasar wanita bodoh, apa yang sedang dia lakukan" ucap Ava yang masih menatap ke arah Tasya.
Ava terus memperhatikan Tasya, Tasya yang merasa ada orang yang memperhatikannya, dia pun menoleh kesegala arah, dan pandangannya terhenti saat melihat sosok Ava yang berdiri di atas balkon.
Tasya segera membungkukkan badannya, dan tersenyum tulus ke arah Ava.
"Apa-apaan itu bahkan dia masih bisa tersenyum walaupun aku sudah menyiksanya, dan apa ini mengapa aku menjadi gugup" guman Ava
"Hey! kau akan berdiri terus disana? baguslah tetaplah disana karena itu hukuman untukmu karena tersenyum padaku!" ucap Ava
"Maaf..." jawab Tasya yang masih berdiri di tempatnya saat ini.
Ava melangkah masuk ke kamar meningalkan Tasya yang masih mematung disana.
......................
Sang surya perlahan muncul, kicauan burung bertebangan di langit, tampak Tasya yang masih mematung di tempatnya. Dia berdiam diri di taman semalaman karena Ava memintanya.
Sebenarnya Ava hanya menggertak Tasya, namun Tasya menganggap serius ucapan Ava sehingga dia tetap berdiri di taman semalaman.
__ADS_1
Wajah Tasya tampak pucat pasi dan dia merasa keram pada kakinya, tangannya bergetar, pandangan Tasya mulai kabur dan dia pun terjantuh pingsan.
"Aaaa, tolong ada orang pingsan disini" teriak salah satu maid yang tidak segaja melihat Tasya yang tergeletak di taman.
Maid itu pun memapah Tasya beserta maid yang lainnya masuk ke dalam mension.
"Ada apa ini?" Tanya Ben yang memilihat Tasya yang dipapah oleh para maid.
"Maaf tuan Ben, kami tidak sengaja melihat nona Tasya tergeletak di taman" ucap salah satu maid memberikan penjelasan pada Ben.
"Kalian cepat bawa nona Tasya ke kamar!" ucap Ben memerintahkan para maid.
"Baik tuan Ben" jawab maid
“Ada apa dengan Tasya?" guman Ben, dia pun memanggil dokter untuk memeriksa Tasya.
Setelah beberapa saat, dokter pun datang dan memeriksa Tasya.
"Dia hanya deman, berikan saja dia obat penurun deman" ucap dokter kepada Ben
"Ohhh baiklah" balas Ben
"Ada apa dengan Tasya Ben?" tanya Reina yang baru datang dengan raut wajah khawatir.
"Dia tidak apa-apa, hanya deman" Jawab Ben datar
"Ohhh untunglah" balas Reina
__ADS_1
Ben pun mengantarkan dokter keluar meninggalkan Tasya bersama Reina.
"Terima kasih" ucap Ben sopan
"Sama-sama, jangan lupa untuk memberikan obatnya" ucap dokter itu dan berlenggang pergi.
Tinggalah Ben yang sendiri menatap kepergian dokter itu.
"Untuk apa dokter itu kesini?" Tanya Ava yang telah memperhatikan Ben dengan dokter itu sedari tadi
"Dan ya, tanpa seijinku kau membawa orang lain masuk ke sini!" ucap Ava dengan tatapan mencengkam ke arah Ben, Ben yang menerima tapapan tersebut hanya bisa menundukkan pandangannya.
"Maaf tuan atas kelancangan saya" jawab Ben sopan
"Untuk apa kau memanggil dokter?" tanya Ava datar.
"Nona Tasya sakit tuan" jawab Ben
"Sakit?" ucap Ava mengangkat satu alisnya.
"Iya tuan, nona Tasya ditemukan tergeletak di taman dan sekarang nona sedang deman tuan" ucap Ben menjelaskan apa yang sedang terjadi
"Dasar wanita bodoh, jadi dia menuruti kataku hanya karena aku meminta dia tetap disana" guman Ava, dia merasa bersalah dan marah.
"Apakah dia sudah diberi obat?" Tanya Ava
"Belum tuan, tapi nona akan segara diberi obat jika telah siuman tuan" jawab Ben.
__ADS_1
"Ohh baiklah kau boleh pergi" ucap Ava
"Baik tuan" jawab Ben berlenggang pergi.