Mencintai Seorang Mafia Kejam

Mencintai Seorang Mafia Kejam
Rumah Sakit


__ADS_3

"Ahhh kepala ku sakit" Tasya mengerjapkan matanya perlahan.


Dia mengedarkan pandangannya tampak impus yang terpasang di tangannya serta bau obat-obatan yang khas menandakan bahwa sekarang dia berada di rumah sakit.


"Siapa yang membawa ku ke rumah sakit?" Tasya merasa bingung karena yang dia tahu bahwa dia sedang menangis di kamar hotel.


Dan saat Tasya benar-benar memulihkan kesadaraannya, dia kembali mengingat kejadian itu, dimana dia tidur berdua dengan Ava di sebuah kamar hotel, bahkan dia tidak tau mengapa itu bisa terjadi.


"Tasya! akhirnya kamu sadar" Desi datang dari arah pintu dan langsung menghampiri Tasya.


"Kamu mau minum?" Tanya Desi yang melihat tangan Tasya meraih gelas di meja namun meja itu agak jauh dari tempat tidurnya sehingga membuatnya kesulitan untuk mengambil minuman.


"Sini biar aku aja yang ngambilin" tawar Desi dan dibalas anggukan oleh Tasya.


Desi memberikan minuman itu pada Tasya, Tasya langsung meneguk air itu tanpa sisa sedikitpun, dia merasakan tenggorokan yang benar- benar kering.

__ADS_1


Desi pun duduk disamping Tasya, dan manuruh gelas yang telah kosong itu di meja.


"Sebenarnya kamu kenapa sihh Sya, kenapa kamu bisa di dalam kamar hotel, dan juga kenapa badan kamu luka-luka gini?" akhirnya Desi menuntaskan pertanyaan yang ingin dia tanyakan saat Tasya sadar.


"Aku.. aku" jawab Tasya ragu-ragu.


"Sya please jujur sama aku, siapa yang udah nyakitin kamu?" Desi menggenggam tangan Tasya dan menatap mata Tasya dengan penuh selidik.


*Apa aku harus bilang sama Desi?, tapi kalo sampai dia tau, dia tidak akan terima dan pasti Desi akan membuat perhitungan pada Ava, jika itu sampai terjadi Desi akan dalam masalah, sebaiknya aku tidak memberi tahu dia* Batin Tasya


"Syaa..." Desi membuyarkan lamunan Tasya.


"Sya please jujur sama aku, aku tau kamu ada masalah, dan siapa yang nyakitin kamu Sya biar aku yang kasih pelajaran sama tu orang" oceh Desi dengan hati yang menggebu- gebu.


"Aku gak inget Des" jawab Tasya dengan tatapan sendu.

__ADS_1


"Fyuhh, ya udah" Desi merasa kecewa karena Tasya tidak mau jujur kepadanya.


"Kamu istirahat aja, kalo gitu aku keluar dulu" Desi melenggang pergi, dia menutup pintu perlahan.


"Kayaknya aku harus cari tau sendiri" Desi tetap menyelidiki apa yang terjadi pada Tasya, dia tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu, wajahnya mulai merah padam menahan amarah dan tangannya terkepal.


Sedangkan di dalam ruangan, Tasya masih dipenuhi dengan ingatan-ingatan akan kejadian itu, dimana Ava mencekik, manampar, dan mendorongnya bahkan bebicara kasar serta membentaknya, tanpa disadari air mata Tasya pun keluar tanpa pamit.


"Mengapa ini harus terjadi hiks" Tasya menangis pelan, dia tidak mau ada yang tau bahwa dia sedang menangis.


"Ava maafkan aku" Tasya merasa bersalah, karena kesalahpahaman ini membuat Ava dan kesasihnya mengakhirnya hubungan mereka.


Tasya tidak menyalahkan Ava akan kejadian itu, dia sama sekali tidak membenci Ava akan perlakuan kasar yang dia dapat dari Ava, dia meresa dia dan Ava hanyalah korban, namun siapa yang telah melakukan semua itu.


"Ava kamu salah paham, percayalah aku tidak melakukan semua itu" Air mata Tasya terus mengalir.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Ava" lanjut Tasya dengan suara lirih.


Tasya memegang dadanya yang terasa sesak dan sedih, saat dia mengingat tatapan Ava yang begitu membecinya. Dia terus menangis hingga matanya terpejam kembali.


__ADS_2