
-Mension Ava-
Ava terbangun dari tidurnya, dia memegangi kepalanya yang terasa pusing akibat minum terlalu banyak kemarin.
"Ssshhh" ringis Ava
Ava mengedarkan pandangannya, dia melihat selimut tengah memenutupi tibuhnya yang tengah berada di sofa.
"Kenapa aku bisa ada disini dan siapa yang menyelimutiku?" guman Ava.
Saat dia melihat ke arah meja dekat dengan sofa yang dia duduki terdapat secangkir teh hangat disana, tanpa berpikir panjang Ava langsung mengambil teh itu dan meminumnya.
Setelah meminum teh tanpa sisa, Ava bangkit dan berlenggang pergi ke kamarnya. Saat tengah dalam perjalanan dia bertemu Ben asistennya.
"Ben!" panggil Ava
Ben yang mendengar panggilan tuannya pun datang mendekat ke arah Ava.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ben sopan.
"Siapa yang memapah dan menyelimutiku kemarin?" tanya Ava datar.
"Nona Tasya tuan" jawab Ben
"Hemmm, baiklah kau boleh pergi" ucap Ava sambil mengibaskan tangannya.
__ADS_1
Ava melanjutkan langkahnya menuju kamar, setelah sampai di kamar dia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
......................
"Hahaha" tawa seorang pria memenuhi ruangan, setelah mendengar laporan dari bawahannya, yang menyatakan bahwa keadaan Ava yang kacau akan kehilangan Vira.
"Ini belum seberapa, kau akan lebih menderita setelah mengetahui yang sebenarnya" seringai pria itu.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya tuan?" tanya bawahan pria itu yang tak lain adalah Lucas Prince Calisto, musuh beyuyutan Ava.
“Biarkan saja dulu, kita akan bermain santai" ucap Lucas dengan senyum devilnya.
Lucas juga merupakan seorang mafia, dia sangat iri pada Ava yang lebih unggul darinya sehingga dia menghalalkan segala cara agar bisa menjatuhkan Ava.
......................
"Argghh" Ava mengacak rambut basahnya, bagaimana tidak pasalnya kemarin malam dia menggenggam tangan Tasya dan tidak membiarkan Tasya pergi dari sisinya, bahkan dia hampir saja mencium Tasya.
"Apa yang telah aku lakukan" Ava tampak frustasi dan malu atas apa yang dia lakukan kemarin malam.
"Bagaimana kalau dia berfikir tidak-tidak" ucap Ava.
"Tidak, tidak kenapa aku harus mengikirkannya, arahhh ada apa denganku" tiba-tiba jantung Ava berdetak cepat saat mengingat kejadian itu.
Ava memegangi dadanya, dia merasa sesuatu yang aneh pada dirinya, sebelumnya dia tidak pernah terpengaruh oleh siapapun selain Vira, tapi hari ini Tasya mampu membuat Ava merasa malu dan jatungnya berdetak cepat.
__ADS_1
"Huhh sadar Ava dia hanya gadis jal**ng yang membuat Vira menghilang" Ava menghela nafasnya, dan menepis semua perasaan aneh yang dia rasakan.
"Dia hanya gadis jelek, bahkan tidak ada menariknya sama sekali" lanjut Ava
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu dari luar, "masuk!" jawab Ava dan langsung merubah ekspresinya menjadi datar.
Ben masuk karena telah mendapat persetujuan dari Ava.
"Makanan anda telah siap tuan, apakah anda akan sarapan disini atau di ruang makan?" tanya Ben sopan.
"Aku akan makan di ruang makan saja" ucap Ava
"Ohh yaa, bagaimana dengan gadis itu?" tanya Ava pada Ben.
"Mengenai nona Tasya, dia baik-baik saja tuan, dia mengerjakan tugasnya dengan baik" jelas Ben
"Baguslah, kalau begitu kau boleh keluar" ucap Ava datar.
Ben melangkah keluar, senyumannya mengembang, dia sangat yakin Tasya memiliki posisi penting di dalam hati tuanya.
*Akhirnya tuan mau membuka hati untuk orang lain* batin Ben
Ben sama sekali tidak menyukai Vira, Ben tau Vira wanita yang licik yang memiliki rencana jahat, sebenarnya jika dia bisa dia akan melarang tuannya untuk dekat dengan Vira namum apa daya dia hanya seorang asisten yang tidak bisa mengatur kehidupan majikannya.
__ADS_1