
Tasya ambruk di pelukan Ava, "Tasya, tasya" ucap Ava menepuk pipi Tasya lembut.
"A...av..ava" ucap Tasya terbata-bata, senyumannya mengembang menahan rasa sakit yang kini tengah dia rasakan, namun ada rasa bahagia dalam hatinya karena dapat melindungi orang yang dia cintai.
"Iya sayang" ucap Ava yang kini tangisannya pecah, hatinya sakit melihat Tasya terbaring lemah dalam pelukannya.
"A..aaku" Tasya berusaha mengatakan sesuatu.
"Ayo kita ke rumah sakit" ucap Ava memeluk erat tubuh Tasya.
"Maafkan aku Tasya, aku salah selama ini" ucap Ava lagi dan tangisannya semakin menjadi-jadi.
"Ayo kita kerumah sakit sayang" ucap Ava lagi larut dalam tangisnya dan memeluk tubuh Tasya.
"Tasya, Tasya" panggil Ava menepuk pipinya, namun Tasya telah kehilangan kesadarannya.
"Tidak, tidak, Tasya jangan tinggalkan aku seperti ini, aku mohon, aku mohon sayang, kamu harus kuat, bukankah kamu bilang kamu mencintaiku, apa kamu tidak mau mendengar jawabanku" ucap Ava
"Aku mencintaimu Tasya, sangat" ucap Ava lagi menangis hiteris.
__ADS_1
"Tuan apa nona baik-baik saja?" tanya Ben yang melihat tuan bersipuh menangis sambil memeluk tubuh.
"Dia pergi Ben, dia pergi meningalkan aku" ucap lirih Ava.
Mendengar hal itu Ben dengan cepat memeriksa denyut nadi Tasya.
"Tuan denyut nadinya masih ada, sebaiknya kita cepat membawa nona ke rumah sakit" ucap Ben serius.
Tanpa menjawab perkataan Ben, Ava langsung menggendong tubuh Tasya dan membawanya ke mobil.
"Tasya bertahanlah, kamu harus hidup" ucap Ava
"Lebih cepat Ben" ucap Ava meninggikan nadanya.
"Tasya aku mohon bertahanlah" ucap Ava memandangi wajah pucat Tasya.
Setelah beberapa saat mereka pun sampai di rumah sakit, dengan sigap Ava menggendong tubuh Tasya dengan langkah cepat memasuki rumah sakit.
"Dokter!!!" teriak Ava di dalam rumah sakit, bahkan semua orang yang berada disana melihat ke arah Ava.
__ADS_1
"Dokter tolong selamatkan dia" ucap Ava memohon.
Tasya pun dibawa ke dalam ruangan unit gawat darurat, "maaf pak, sebaiknya menunggu diluar" ucap salah satu suster.
"Dolong selamatkan dia suster" ucap Ava berderai air mata.
"Kami akan melakukan yang semaksimal mungkin tuan" ucap suster itu dan menutup pintu ruangan.
Ava yang berada di luar ruangan menatap ke arah kaca buran pada pintu ruangan padangannya kosong, dan seketika dia memukul tembok yang ada disana.
"Bodoh, bodoh, bodoh" ucap Ava sambil memukul tembok dengan keras sehingga tangannya berdarah.
"Tuan" ucap Ben khawatir melihat prilaku tuannya.
"Aku telah menyakitinya selama ini Ben, aku memang pria bodoh, bahkan aku tidak mengenali dia" ucap Ava frustasi, tubuhnya perlahan ambruk kelantai.
Ava masih dalam kesedihannya dia takut Tasya akan pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan dia sendiri. Sekelibat senyuman Tasya muncul dalam pikiran Ava, senyuman tulus yang selalu dia terima namun apa yang gadis itu dapatkan, hanya tatapan dingin, bentakan dan perlakuan kasar dari dirinya
"Tasya aku minta maaf, aku salah Tasya, aku mohon jangan tinggalkan aku, aku gak bisa hidup tanpa kamu Tasya" ucap Ava lirih.
__ADS_1
Ben yang melihat itu makin khawatir pada tuannya, namun apa yang bisa dia lakukan, dan untuk pertama kalinya Ben melihat tuannya sesedih dan tidak berdaya seperti ini, Ava yang dia kenal adalah seorang pria berhati dingin dan tidak memiliki rasa ampun, dan waktu nona Vira menghilang tuannya tidak sampai sesedih ini.