Mencintai Seorang Mafia Kejam

Mencintai Seorang Mafia Kejam
Keluar Mension


__ADS_3

"Bagaimana caranya aku bisa keluar dari mension ini? penjagaannya sangat ketat, sangat mustahil" guman Tasya sedari tadi memikirkan cara agar dapat keluar dari mension untuk menemui Desi.


Tasya melihat jam di dinding yang menyatakan pukul 13:02, dia harus keluar sejam lagi untuk bertemu dengan Desi.


"Huhh" Tasya menghela nafasnya keluar.


Tasya pun keluar kamar, dia sudah pasrah, jika memang takdir mengijinkan dia bertemu Desi maka pasti akan ada jalan.


Tasya bekerja seperti biasa, melajutkan semua aktivitasnya yang biasa dia kerjakan.


"Tasya" panggil Reina membuat Tasya mengarah ke hadapan Reina


"Iya" jawab Tasya


"Apakah kamu mau ikut denganku membeli perlengkapan makanan?" Tanya Reina.


Mendengar Reina mau mengajaknya keluar merupakan suatu anugrah, dia baru saja memikirkan cara agar bisa keluar dan sekarang Reina mengajaknya keluar.


"Ahhh iyaa aku mau" jawab Tasya cepat.


"Ya sudah bersiaplah kita akan berangkat sekarang" ucap Reina


"Ohhh iya" jawab Tasya sambil mengikuti Reina dari belakang menuju pintu utama.


Disana sudah terdapat mobil dan supirnya, Tasya hanya bengong.


"Tasya ayo masuk" ajak Reina memasuki mobil


"Ehhh kita pergi dengan mobil" ucap Tasya polos


"Iyaa, memang kamu mau jalan kaki, supermaket sangat jauh" kekeh Reina melihat tingkah Tasya.

__ADS_1


"Ohhh" Tasya pun memasuki mobil begitu pun dengan Reina dan pak supir.


"Ayo jalan pak" ucap Reina pada pak supir.


"Baik nona" balas pak supir.


Disepanjang jalan Tasya mengarahkan pandangannya keluar jendela, sudah lama dia tidak pernah keluar.


"Tasya" Ucap Reina disamping Tasya.


"Whh iya" jawab Tasya


"Apa kamu ingin menemui seseorang?" Tanya Reina.


Tasya mengerutkan keningnya, darimana Reina tau kalau dia memang ingin menemui seseorang yang tak lain adalah Desi sahabatnya.


"Ehh itu,, aku ingin menemui Desi sahabatku" jawab Tasya lirih, dia berharap Reina akan mengijinkannya.


"Baiklah" ucap Reina.


"Apakah boleh?" jawab Tasya sumriah


"Boleh, tapi hanya sebentar" ucap Reina lagi.


"Aku janji tidak akan membuat masalah" ucap Tasya gembira dan menjulurkan kelingkingnya.


"Pak kita berhenti di situ" ucap Reina memerintahkan pak supir.


"Baik nona" jawab pak supir.


Mobil pun berhenti di pinggir jalan, Tasya turun dari mobil, dia melambaikan tangannya setelah mobil itu mau berjalan.

__ADS_1


"Huh... setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan" guman Reina di dalam mobil.


Reina tidak sengaja mendengar Tasya bahwa dia ingin keluar untuk bertemu Desi, dia merasa kasihan pada Tasya dan merencanakan semua ini, walaupun dia tau akibatnya akan fatal jika Ava mengetahui semua ini.


Tasya pun melanjutkan jalannya ke cafe dimana tempat dia biasa mengahabisakan waktu dengan Desi.


Sampai di Cafe, Tasya sudah melihat Desi duduk menunggu kedatangannya.


"Desi...” panggil Tasya.


Desi yang mendengar panggilan, menoleh ke sumber suara, "Tasya" ucap Desi.


Tasya menghampiri Desi dan duduk di bangku berhadapan dengan Desi.


"Tasyaa,, kamu darimana aja selama ini?" ucap Desi


"Kenapa kamu gak ada kabar, apa kamu tahu aku sangat khawatir, aku sudah mencarimu namun tetap saja tidak dapat menemukanmu" ucap Desi lagi.


"Itu aku hanya keluar kota" jawab Tasya bohong


"Dan ini mengapa kamu memakai pakian pelayan?" Tanya Desi.


"Ohh itu aku juga bekerja sebagai pelayan" jawab Tasya kelagapan.


"Syaa sebaiknya kamu jujur sama aku" ucap Desi serius


"Maaf,," suara lirih Tasya


"Ikay kalau kamu belum mau jujur, tapi jika kamu membutuhkan bantuan aku akan selalu ada" jawab Desi.


"Terima kasih Des" jawab Tasya tanpa sadar air matanya jatuh, dia terharu bisa memiliki sahabat yang begitu peduli dengan dirinya.

__ADS_1


"Don’t worry" jawab Desi tersenyum dan mereka pun berpelukan.


__ADS_2