
Setelah suster itu pergi, segara Tasya mencari celah untuk pergi dari mension itu, bukan perkara mudah untuk Tasya keluar dari mension itu karena penjagaannya yang super ketat.
*Bagaiman ini?* bantin Tasya saat sudah berada dekat dengan pintu gerbang, namun dilihatnya ada dua orang yang bejaga disana.
"Ahhh aku bisa lewat belakang" guman Tasya, di mension Ava memang terdapat jalan keluar di bagian belakang mension, itu dikarenakan untuk berjaga-jaga dari serangan musuh. Tasya mengetahui jalan itu karena Reina pernah mengatakannya.
Tasya bangkit dari persembunyiannya dan menuju ke arah belakang mension seperti seorang maling yang mengendap-ngendap.
Sampai di belakang mension, Tasya melihat pintu itu terbuka, mungkin dewa sedang membantunya untuk melarikan diri. Segera Tasya keluar melalui pintu itu dan saat di luar pintu terdapat gang kecil disana.
Tasya membalikan tubuhnya ke belakang, menatap ke arah mension Ava, ada raut sedih dalam wajahnya, "maafkan aku Ava" guman Tasya. Hatinya tidak rela meninggalkan mension itu, walaupun banyak kenangan buruk yang dia alami namun tetap saja hatinya tidak rela untuk pergi.
Air mata Tasya luruh membasahi pipinya, "kamu harus pergi Tasya, apa yang kamu harapkan? apa kamu berharap Ava akan membalas cintamu" guman Tasya.
Setelah beberapa menit menenangkan hatinya, Tasya pun pergi meninggalkan mension Ava dengan berat hati, "selamat tinggal Avaku, semoga kamu bahagia". Tasya menyusuri gang kecil itu, lumayan memakan waktu untuk sampai di jalan raya.
Setalah sampai di jalanan besar, dilihatnya kendaraan yang berlalu lalang serta orang-orang yang sedang berjalan-jalan.
"Aku harus kemana?" guman Tasya, dia tidak tau harus kemana, bahkan dia tidak membawa uang sama sekali.
"Desi, yaa aku harus minta bantuan Desi" ucap Tasya bersemangat.
Tasya pun mencari telepon umum di samping jalan, dia berencana akan menghubungi Desi, Tasya terus berjalan menyusuri jalan, dan tak jauh dari tempatnya saat ini, Tasya melihat telepon umum, segara dia menuju sana.
__ADS_1
Tasya pun masuk ke dalam, disana dia menekan nomor Desi. Sambungan terhubung namun belum ada tanda Desi mengangkat telpon Tasya. Tasya berusaha menghubungi Desi beberapa kali karena panggilannya tidak diakat oleh sahabatnya.
"Des,, tolong angkat" guman Tasya lirih.
Dan akhirnya, panggilan itu terhubung dan terdengar suara Desi di seberang sana, " halo" ucap Desi.
"Des, ini aku Tasya" ucap Tasya.
"Tasya ini beneran kamu?, kamu dimana? kenapa kamu gak ngabarin aku? kamu tau aku khawatir banget sama kamu" cerocos Desi seperti seorang ibu yang khawatir pada anaknya.
"Des,, bisa gak kamu tanya aku satu-satu, aku jadi bingung harus jawab yang mana" ucap Tasya.
"Sya kamu jahat banget yaa, aku itu bener-bener khawatir sama kamu Sya" ucap Desi
"Hehehe iya, iya aku tau kok, makasi ya Des kamu dah khawatir sama aku" ucap Tasya terharu.
"Aku di jalan XXX" ucap Tasya.
"Kenapa kamu bisa ada disana?" tanya Desi.
"Nanti aku ceritain, kamu bisa jemput aku kan Des?" ucap Tasya.
"Ohhh ya udah kamu tunggu aku, sekarang aku kesana. Inget kamu harus ceritain semuanya ke aku" ucap Desi.
__ADS_1
"Iya Des, makasi ya" ucap Tasya.
"Sama-sama Sya" balas Desi.
Pembicaraan merekan pun berakhir, Tasya kini sedang menunggu Desi disana, sedangkan Desi segera menuju ke tempat dimana Tasya berada.
......................
IKLAN
Author: Hai guyss, apa kabar?
Reader: Baik thor, kok jarang up sih thorr????😒
Author: Maaf ya guyss author jarang up😢 author lagi ada banyak tugas dan juga lagi persiapan buat cari universitas😢
Reader: Tapi kan gak perlu selama itu up-nya thor...
Author: Sekali lagi maaf yaa guyss... btw maksi ya guyss udah mau baca cerita abal-abalan aku ini😘
Reader: Iya thor, semangat yaa, upnya banyakin
Author: Pasti author usahin dehh.
__ADS_1
Reader: Harus thor
Author: Hehehe iya dehh