
-Kantor Ava-
Ava termenung duduk di kursi kebesaraannya, pikiran melayang entah kemana, dia merasa frustasi karena tidak bisa menemukan kekasihnya itu, Vira seakan hilang ditelan bumi
"Arghh" Ava membanting semua benda yang berada di mejanya, dia sangat marah dan takut akan terjadi sesuatu kepada Vira. Bagaimana tidak, Ava memiliki banyak musuh dan mungkin saja mereka akan menyakiti Vira, dimana Vira merupakan orang penting dalam hidup Ava.
Tok, Tok Tok
Suara ketukan pintu dari luar, "masuk!" suara datar Ava memerintahkan orang itu yang tak lain adalah Vino.
Vino masuk ke ruangan Ava, dia sangat terkejut melihat situasi ruangan itu yang sangat berantakan, banyak kertas yang beserakan dan pecahan-pecahan kaca. Vino terdiam melihat itu semua sehingga ucapan dari Ava membuat dia tersadar kembali.
"Lu udah tau Vira dimana?" tanya Ava yang tampak frustasi.
"Maaf Va, gua belum bisa nemuin Vira, dan gua rasa ada yang janggal, kayaknya Vira disembunyiin seseorang" jawab Vino menjelaskan pada Ava.
Ava semakin frustasi, dia semakin takut kalau Vira benar-benar disembunyikan oleh musuhnya tapi siapa, sia mengacak rambutnya kasar.
"Gua gak mau tau lu harus temuin dia!" bentak Ava yang membuat Vino menelan ludahnya.
"Sekarang lu keluar!" lanjut Ava
Vino keluar tanpa sepatah katapun, dia tau sekarang Ava sedang dalam mood yang sangat buruk.
Di dalam ruangan Ava tampak semakin frustasi karena laporan dari Vino yang ia dapat, laporan yang tidak ia harapkan.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara gadis ja***ng itu!" Ava teringat akan Tasya, dia merasa sangat membenci gadis itu dan parahnya Ava tidak tega untuk membunuh Tasya yang dimana Ava akan langsung membunuh orang yang membuatnya kesal, namun saat melihat tangis Taysa membuat Ava tidak tega membunuhnya.
"Awas saja nanti kau jal**ng" seringai Ava.
......................
-Mension Ava-
Tasya sedang mengobati luka di sekujur tubuhnya karena Ava. Dia meringis kesakitan merasakan perih pada luka yang dioleskan obat, dan tanpa dia sadari air matanya keluar, mengingat perlakuan kasar Ava padanya.
"Hiks hiks" tangis Tasya memenuhi ruangan yang terasa pengap itu.
Tasya mengusap pipinya, "Kamu harus kuat Tasya" Tasya menyemangati dirinya sendiri.
"Tasya" suara Reina memangil Tasya dari luar.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Reina
"Aku tidak apa-apa" jawab Tasya sembari tersenyum, dia merasa senang bahwa di mension ini masih ada orang yang mengkhawatirkan dirinya.
"Sungguh?, sini biar aku lihat" Reina mendekat ke arah Tasya.
"Kamu sudah oleskan obat?" Tanya Reina lagi
"Sudah" jawab Tasya.
__ADS_1
"Lain kali kamu harus berhati-hati dalam kerja, tuan Ava memang memiliki termpramen yang buruk" jelas Reina pada Tasya yang dibalas anggukan Tasya.
"Apa kamu sudah makan" tanya Reina
"..." Tasya tidak membalas dan hanya menunduk, memang benar dia belum makan seharian ini.
"Yasudah kamu masuk saja, nanti aku bawakan makanan" balas Reina sambil tersenyum
“Ehh iya, terima kasih Rei" balas Tasya.
*Reina sangat baik, kenapa aku merasa begitu dekat dengannya* batin Tasya.
......................
00:00
Ava datang memasukkan mension dalam keadaan mabuk berat. Dia pergi ke bar milikinya dan minum terlalu banyak. Dia berjalan sempoyongan dan hampir jatuh namun Tasya datang menangkap tubuh Ava agar tidak terjatuh.
#Flashback On#
Tasya terbangun karena meresa tenggorokannya kering dan sia berencana ke dapur untuk mengambil air. Dia berjalan menuju dapur yang lumayan jauh dari kamarnya.
Tiba di dapur dia langsung mengambil gelas dan menuangkan air ke dalam gelas dan meminum habis tampa sisa.
Saat Tasya keluar dari dapur, dia mendengar suara mobil, dia tahu bahwa itu mobil Ava, Tasya mendekat ke arah pintu utama disana dia melihat Ava yang berjalan sempoyongan dan akan terjatuh.
__ADS_1
#Flashback Off#
Kini Tasya memapah Ava menuju sofa, dari jauh Ben asisten mension melihat kejadian itu dan hanya membiarkannya begitu saja, Ben tau Tasya orang yang baik dan dia yakin Tasya mampu merubah Ava suatu saat nanti.