
Malam pun datang, bintang bertaburan di langit, Tasya yang tidak bisa tidur, memilih berdiam diri di taman dan menulis sesuatu pada buku kecilnya.
*Dear Malam
Dulu ada seorang pria kecil tampan...
Dia berkata akan menikahiku...
Aku hanya tersenyum mendengar hal itu...
Dia memberikanku bunga mawar merah, bunga pertama yang ku terima dari seseorang...
Namanya Ava...
Entah mengapa namanya sama dengan Ava, pria yang kini sangat aku cintai...
Dia memiliki senyuman yang manis, hidung mancung, bulu mata yang lentik, dan dimple pada pipinya...
Jika suatu saat nanti Ava kecil itu akan datang, aku akan tetap mencintai Avaku yang sekarang...
Walaupun Avaku tak pernah menganggapku ada*...
Tanpa sadar air mata Tasya keluar tanpa permisi, dia mengingat perkataan Ava yang menginginkan dia pergi untuk selama-lamanya darinya.
"Ava apa aku harus benar-benar pergi?” guman lirih Tasya.
Tasya pun menatap narnar ke langit, dia melihat bulan dan bintang-bintang.
__ADS_1
"Kita bagaikan bulan dan bintang walaupun dekat tapi tidak akan pernah bisa bersama" guman Tasya menahan air matanya dengan tangan.
"Dan untuk mendapatkanmu seperti aku yang melihat bintang pada siang hari di tengah teriknya matahari, terlalu mustahil" guman Tasya lagi.
Tasya pun menutup buku kecilnya, namun tidak beranjak dari tempatnya dia masih ingin berdiam diri disana.
......................
Akhirnya Ava pun sampai di mensionnya, dia langsung masuk mension dan mencari keberadaan Tasya, namun tidak menemukannya.
"Tasyaa" ucap Ava berteriak.
"Dimana Tasya?" tanya Ava pada maid yang berada disana.
"Nona sedang berada di taman tuan" ucap maid sopan.
tanpa pamit Ava langsung menuju taman, namun langkahnya terhenti.
"Vira" ucap Ava dengan wajah serius.
"Pasti kamu berpikir mengapa aku bisa berada disini, itu sangat mudah" ucap Vira dengan senyuman devilnya.
"Untuk apa kau kemari, apa Lucas yang menyuruhmu" ucap Ava datar.
"Wahhh ternyata kamu sudah tau, pantas saja kamu layak menjadi seorang bos mafia" ucap Vira sambil tertawa.
"Apa tujuanmu" ucap Ava mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Apakah untuk mengatarkan nyawa" ucap Ava lagi
Seketika tubuh Vira bergetar ketakutan, suasana yang tadi biasa saja berubah menjadi mencemgkam, tapi sebisa mungkin dia tampil dengan biasa saja.
“Hahaha lucu sekali" ucap Vira berusa menetralkan dirinya.
"Lucu?" ucap Ava
"Kau bukanlah gadis kecil itu, dan kau berani sekali membohongiku!!" bentakan Ava menggelegar membuat siapa saja di mension itu dapat mendengarnya.
"Kau belum pernah melihat kemarahan ku yang sebenarnya jal***ng" ucap Ava dengan kata-kata kasar
"Ja... jadii, kau sudah tau" ucap Vira gugup, kini dia benar-benar tidak bisa menetralkan dirinya, Ava yang melihat itu hanya tersenyum kecut.
"Ya aku sudah tau" ucap Ava dengan nada mengejek.
Vira yang merasa ketakutan, menarik pistol dan menodongkannya ke arah Ava, "mati saja kau" ucap Vira.
DORR
Mata Ava membulat besar, tubuhnya kini dipeluk oleh Tasya.
"Kamu tak apa" tanya Tasya mendongak ke atas menatap wajah Ava.
Ava yang kini masih syok, tangannya yang memegang pinggang Tasya penuh dengan darah, wajah Tasya semakin memucat dan ambruk dalam pelukan Ava.
"Tasya, Tasya" ucap Ava sambil menepuk pipi Tasya.
__ADS_1
"Mengapa kamu melakukan ini" ucap Ava yang kini air matanya lolos dari tempatnya.
Sedangkan Vira menjatuhkan pistolnya, dia segara berlari sekuat tenaga meninggalkan mension itu.