
Ava yang kini masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah sepanjang jalanan yang dia lalui.
"Tasya aku minta maaf" guman Ava lirih di dalam mobil.
Dia telah mengetahui semua, gadis kecil yang selama ini dia cari adalah Tasya, orang yang selama ini dia perlakukan dengan kasar. Ava benar-benar merasa menyesal mengapa dia langsung percaya pada perkataan Vira waktu itu dan tidak menyelidiki secara teliti.
"Araghhh wanita sia**n, berani sekali dia membohongiku" umpat Ava, kini perasaan bercampur ada rasa bersalah terhadap Tasya dan rasa marah pada Vira karena Vira berani membohongi Ava.
"Aku akan membuat perhitungan padamu wanita sia**n" tidak habis-habisnya Ava mengumpat kesal, dia benar-benar merasa bodoh.
Ava mengambil ponselnya dan menelpon Ben, dan beberapa saat Ben pun mengangkat telpon Ava.
"Iya ada apa tuan?" tanya diseberang sana.
"Dimana Tasya?" tanya Ava memastikan keadaan Tasya.
"Ohhh tadi nona keluar dengan Reina tuan" jawab Ben.
"Apa!!! mengapa kau membiarkan Tasya keluar" bentak Ava pada Ben.
“Maaf tuan, saya rasa nona bosan di dalam mension terus sehingga Reina mengajaknya keluar untuk membeli perlengkapan tuan" ucap Ben sopan
"Aku tidak mau tau, kau cari Tasya dan bawa dia balik ke mension" ucap Ava dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Baik tuan" ucap Ben
TUT TUT
Panggilan pun berakhir, Ava memukul batang stirnya, "araghhh" Ava merasa frustasi.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya" ucap Ava, dia pun menambah kecepatan mobilnya.
Ava tidak mau terjadi sesuatu pada Tasya, Ava yang merupakan seoarang mafia memiliki banyak musuh, dan semua musuhnya akan melakukan segala macam cara untuk menjatuhkannya, seperti halnya Vira dulu, Lucas yang memanfaatkan Vira untuk menjatuhkan Ava karena Vira merupakan orang penting dalam hidup Ava dulu namun tidak untuk sekarang karena Ava sudah mengetahui siapa gadis kecil yang selama ini dia cari dan wanita itu adalah Tasya.
......................
Tasya segera kembali ke tempat dia terakhir kali bersama Reina. Disana Reina telah menunggu Tasya.
"Tidak apa, ayo kita harus cepat balik sebelum tuan Ava menyedari kamu keluar mension" jawab Reina.
Mereka pun memasuki mobil itu dan pak supir melajukan mobilnya menuju ke mension Ava.
Beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi Tasya dan Reina pun sampai di mension, mereka pun turun bersamaan, disana juga ada Ben yang menunggu mereka dan langsung menarik tangan Reina ke dalam Mension, sedangkan Tasya yang melihat itu merasa takut akan terjadi sesuatu terhadap Reina karena telah membawanya keluar.
"Auww ada apa Ben?" tanya Reina dengan nada kesal karena Ben memegangi tangannya dengan kuat.
"Mengapa kau membawa nona Tasya keluar" ucap Ben datar.
__ADS_1
"Aku hanya kasihan padanya, dia pasti sangat bosan berdiam terus di mension ini" ucap Reina yang tak kalah datarnya dan memegangi tangannya yang terasa perih.
"Apa kau tau, tadi tuan Ava menelponku dan tuan telah mengetahui semuanya" ucap Ben yang membuat Reina sedikit terkejut
"Apa kau yang memberi tahu tuan" ucap Reina menyelidik.
"Memang aku yang memberi tahu tuan, aku tidak bisa berbohong" ucap Ben
"Dasar bodoh, mengepa kau memberi tahu tuan, nanti tuan akan menyakiti Tasya" ucap Reina merasa kesal
"Beraninya kau mengatakan aku bodoh!" suara Ben semakin meninggi
"Maaf tuan Ben, ini bukan salah kak Reina, aku yang ingin keluar" ucap Tasya memecah keributan di antara mereka.
"Mengapa kamu meminta maaf Tasya, kamu tidak bersalah" ucap Reina dan menghampirinya.
“Dan juga sebaiknya kamu balik ke kamar, biar aku dan Ben yang mengurus semua ini" tambah Reina lagi
"Tapi" ucap Tasya terpotong.
"Tidak ada tapi-tapian Tasya, atau semuanya akan bertambah sulit nanti" ucap Reina lembut.
Mendengar itu Tasya pun berlalu namun hatinya masih belum tenang, bagaimana kalau nanti Ava akan menghukum Reina dan Ben karena dirinya, lebih baik kalau Ava hanya menghungkum dirinya saja.
__ADS_1