Mencintai Seorang Mafia Kejam

Mencintai Seorang Mafia Kejam
Tak Harus Diceritakan


__ADS_3

Pintu taksi terbuka, Tasya keluar dari dalam taksi setelah membayar uang taksi. Ia langsung menuju dengan langkah cepat ke depan villa milik Desi, tangannya mulai menekan bel.


"Ting Nung" Bunyi bel yang ditekan Tasya beberapa kali, raut wajahnya masih terlihat ketakutan akan hal tadi.


Nampak pintu terbuka, dan tanpa dipersilakan Tasya langsung masuk ke dalam villa menghampiri Desi.


"Tasya?" Desi kebingungan melihat Tasya datang ke rumahnya dengan raut wajah kusam.


"Sya ada apa, kenapa wajah kamu panik banget?" tanya Desi kepada Tasya


"Aku takut Des" suara lirih Tasya tanpa mau menjelaskan kepada Desi.


"Takut kenapa Sya, apa ada orang yang mau celakain kamu?" tanya desi lagi


"...." Tasya hanya diam dengan rasa panik dan ketakutan dalam pikirannya.


Melihat sahabatnya seperti itu Desi pun berhenti bertanya, dia tau Tasya belum mau menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Desi menuntun Tasya masuk dan menutup pintunya.


"Sya sebaiknya kamu tenangin diri kamu dulu" Desi menggenggam tangan Tasya dan mengajaknya menuju kamarnya.


Sampai di kamar, Desi mendudukan Tasya di kasur, ia menatap sahabatnya itu, tampak raut wajah ketakutan disana. Desi hanya bisa menghela napasnya. Dia bepikir akan bertanya besok pada Tasya.


"Sebaiknya kamu istirahat Sya"


Hanya dibales anggukan oleh Tasya.


Mereka tidur bersebelahan, nampak Desi sudah tertidur namun Tasya masih terjaga, ia memunggungi Desi.

__ADS_1


*Ava apa itu benar kamu? tapi mengapa kamu sekejam itu, bahkan kamu tidak berpikir saat menembak pria itu.* Batin Tasya


"Apakah Ava melihatku tadi" suara lirih tasya tanpa di dengar Desi.


"Kalo dia melihatku, Apakah dia akan membunuhku karena diam-diam mengintip dia?" Banyak pertanyaan yang terlintas di benak Tasya.


Tasya membalikan badannya dan menghadap ke arah Desi, ia menatap wajah Desi.


"Apakah aku harus menceritakan semua yang ku lihat pada Desi?"


"Tidak, sebaiknya Desi tidak mengetahuinya" Tasya takut jika Desi akan dalam bahaya maka dari itu dia memutuskan tidak akan memberi tahu desi.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi tapi Tasya masih terjaga banyak pertanyaan yang terlintas dalam benaknya, ia merasa bermimpi dengan apa yang ia lihat tadi, orang yang ia cintai telah melakukan sebuah kejahatan yaitu membunuh seseorang.


Dan jam terus bejalan dan Tasya pun dapat memejamkan matanya.


Matahari terbit, sinarnya masuk melalui jendela dan menerpa wajah Desi dan Tasya.


Desi terbangun terlebih dahulu, ia melihat lingkaran mata hitam pada mata Tasya.


"Pasti dia gak tidur semalam, sebenarnya apa yang terjadi sihh Sya" Desi menatap Tasya yang masih terpejam, ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Tasya pun mulai terbangun dari tidurnya, ia mengerjap kelopak matanya, terasa sinar matahari yang begitu terang. Ia melihat ke samping nampak sahabatnya telah bangun terlebih dahulu darinya.


CKLEK


Suara pintu terbuka, Desi pun telah selesai mandi dan menghampiri Tasya yang terduduk di pinggir kasur.

__ADS_1


"Kamu dahh bangun, gak mandi?"


"Ehhh iya" jawab Tasya lirih


"Ya udah aku tunggu nanti di bawah, kita sarapan bareng" senyum desi dan di bales anggukan oleh Tasya.


setelah beberapa menit, Tasya menuruni tangga ia melihat Desi sedang menunggunya di meja makan. terdapat roti dan selai coklat di meja tersebut.


"Sini Sya, kita sarapan"


Tasya pun mendekat ke arah meja dan duduk di sebelah Desi. keheningan terjadi dan Desi pun mulai bertanya soal kemarin.


"Sya sebenarnya kamu kenapa sihh kemarin?" Tanya desi pada sahabatnya tersebut.


"Aku gak papa kok des" jawab Tasya dengan senyuman.


"Kalo gak papa, kenapa kemarin kamu panik dan ketakutan kayak gitu?" tanya Desi lagi yang semakin penasaran, pasalnya Tasya tak mau menjelaskan.


"Aku bener-bener gak papa kok Des, kamu tenang aja" sahut Tasya meyakini Desi.


"Baiklah, tapi kalo ada masalah kamu harus cerita sama aku Sya, aku kan sahabat kamu"


"Iya Des"


*Maaf des aku belum bisa cerita sama kamu, aku takut kamu kenapa-kenapa* batin Tasya sambil menatap desi.


Sarapan pun selesai mereka bersama-sama pergi ke kampus.

__ADS_1


__ADS_2