Mencintai Seorang Mafia Kejam

Mencintai Seorang Mafia Kejam
Kekhawatiran Desi


__ADS_3

Nampak seorang perempuan cantik tengah mondar- mandir sambil menelpon seseorang.


"Araghh, kamu dimana Tasya!" Desi sangat khawatir karena beberapa minggu ini Tasya sama sekali tidak ada kabar.


"Seharusnya aku tidak meninggalkan dia di rumah sakit sedirian!" Desi melempar ponselnya ke kasur.


Akhir-akhir ini Desi tengah menyelidiki masalah apa yang terjadi pada sahabatnya tersebut, tetapi dia sama sekali tidak mendapatkan informasi, tapi itu tidak membuat dia menyerah.


Desi tengah frustasi karena Tasya menghilang tanpa jejak, bahkan dia telah melakukan pencarian tapi masih tidak menemukan Tasya, hal ini dikarenakan penjagaan dan informasi mengenai Ava sangat sulit untuk diterobos oleh siapapun.


"Kamu tidak boleh menyerah Des" Desi menyemangati dirinya sendiri.


Desi pun memberingkan dirinya ke kasur dan berusaha menutup matanya karena akhir-akhir ini dia tidak bisa tidur memikirkan masalah Tasya dan sekarang Tasya malah menghilang.


......................


PRANGGG


Suara pecahan guci, Tasya tidak sengaja menjatuhkan guci yang bernilai ratusan juta. Saat dia tengah bersih-bersih tangannya terpeleset sehingga membuat guci itu terjatuh.


Wajah Tasya tampak terkejut dan takut "apa yang harus kulakukan" Tasya segara bersimpuh dan mengambil pecahan guci tersebut.

__ADS_1


"Apa kamu tidak punya mata!" Bentakkan Ava menghampiri Tasya yang tengah bersimpuh.


"Maaf aku tidak sengaja" ucap Tasya pelan dan badannya begetar takut saat Ava semakin mendekat.


"Tidak sengaja, kamu tau harga guci itu, bahkan dengan gajimu tidak akan bisa membelinya!" bentak Ava lagi.


"Maaf..." ucap Tasya lirih


"Kamu kira dengan kata maaf bisa menyelesaikan semuanya!" Ava menatap tajam ke arah Tasya.


"Aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja" ucap Tasya dengan raut wajah sedih, dan air matanya yang tertahan.


*Deg, apa-apaan ini kenapa aku jadi kasihan melihat dia, dan kenapa jantungku berdetak cepat, ***** Batin Ava.


"Soal kemarin, aku mabuk jadi itu tidak seperti yang kamu pikirkan" ucap Ava dan berlenggang pergi.


Tasya hanya bengong menatap kepergian Ava, dia kira Ava akan berbuat kasar karena dia telah memecahkan guci itu namun hari ini Ava nampak berbeda dia tidak sekasar kemarin-marin.


"Aku tau kamu pria yang baik Ava" ucap Tasya sambil membersihkan pecahan guci tersebut.


"Tasya, ada apa ini?" Reina menghampiri Tasya, dia mendengar suara Ava yang seperti toa sehingga dapat didengar walaupun dalam jarak jauh dan langsung menuju ke sumber suara.

__ADS_1


"Ahh tidak apa, aku tidak sengaja memecahkan guci ini" jawab Tasya dengan raut wajah bersalah.


"Kamu tidak apa kan, apakah kamu tidak diapakan oleh tuan?" tanya Reina.


"Tidak.." jawab Tasya menggelengkan kepalanya.


"Ohh, baguslah" ucap Reina tersenyum ke arah Tasya.


"Sini biar ku bantu" Tawar Reina


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya" balas Tasya


"Baiklah, lain kali kamu harus hati-hati" ucap Reina memperingati Tasya.


"Iyaa, terima kasih" balas Tasya yang masih setia memungut pecahan guci tersebut.


......................


Diruangan Ava nampak frustasi, dia mengacak rambutnya kasar dan menghempas tubuhnya ke sofa.


"**** kenapa aku menjelaskan soal itu kepadanya, bisa-bisa nanti dia berpikir aku peduli dengan kejadian kemarin araghhh" Ava menutup wajahnya yang sudah memerah dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Dan apa tadi? Dia nampak biasa saja, sedangkan aku? aku malah terus memikirkan kejadian itu, tidak ini tidak bisa dibiarkan, aku seoarang bos mafia kenapa harus terpengaruh oleh gadis itu" ucap Ava dengan dirinya sendiri.


__ADS_2