Mencintai Seorang Mafia Kejam

Mencintai Seorang Mafia Kejam
Perasaan Aneh #2


__ADS_3

"Dasar gadis bodoh" guman Ava yang sekarang tengah berada di kamar Tasya.


Ava menatap Tasya yang tengah terpejam, dia seakan mengagumi wajah Tasya yang cantik yang selama ini ditutupi oleh kaca mata tebal dan jalininan rambutnya itu.


Tengah malam Ava mengendap-ngendap masuk ke kamar Tasya seperti maling di mensionnya sendiri, Ava juga tidak habis pikir mengapa dia bisa melakukan hal yang sememalukan ini.


"Sebenarnya ada apa denganku, mengapa aku jadi peduli dengan gadis ini" guman Ava yang masih setia memandangi wajah Tasya.


*Huhh,, liatlah wajahnya begitu damai seperti tidak memiliki masalah* batin Ava


Setelah beberapa saat memandangi wajah Tasya, Ava pun hendak pergi dari kamar itu, dia tidak ingin ada yang tau kalau diam-diam dia masuk ke kamar Tasya.


Saat Ava hendak pergi, dia mendengar racauan dari Tasya sehingga langkahnya terhenti dan berbalik ke arah Tasya.


"Ava jangan pergi, aku takut, aku mencintaimu Ava" racau Tasya.


Ava yang mendengar itu mengembangkan senyumannya dan pipinya mulai memerah tanpa dia sadari.


"Baiklah gadis bodoh aku akan memaafkan mu kali ini karena kau sedang sakit, tapi lain kali jika kau berani menggodaku lagi, aku akan memberimu hukuman" senyuman Ava mengembang dan tangannya mengelus puncak kepala Tasya, sehingga Tasya mulai tenang kembali.


Melihat Tasya yang mulai tenang, Ava pun pergi dari kamar itu secepatnya.

__ADS_1


Sesampainya di kamar mewahnya tersebut, Ava mengehempaskan tubuhnya ke kasur dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Hahaha, apa yang telah kulakukan, aku seorang bos mafia dan ini adalah mensionku tapi tadi aku seperti pencuri yang takut ketahuan" Tawa memenuhi ruangan, dia tidak habis pikir mengapa dia melakukan hal seperti itu, Ava bukan takut melainkan gengsi, dia tidak mau ada yang tau kalau dia sudah mulai membuka hati untuk Tasya tanpa dia sadari.


KRINGG


Suara handphone membuyarkan tawa Ava, dia langsung mengambil ponsel di sakunya.


"Ya ada apa?" Tanya Ava datar, dia merasa kesal karena panggilan tersebut dianggapnya mengganggu pikirannya yang kini tengah memikirkan Tasya.


"Va gua udah nemuin keberadaan Vira, gua gak bisa ngomong lewat telpon, gua bakal langsung ke mension lu" jelas Vino diseberang sana.


"Gua akan langsung jelasin semuanya setelah gua sampai di mension lu" ucap Vino


"Ok!" jawab Ava dan langsung mematikan telpon secara sepihak seperti biasanya.


"Dasar gorlila sedeng!" umpat Vino, dia merasa kesal akan sifat yang menjengkelkan Ava, tapi mau apalagi dia juga tidak bisa melawan selain itu dia juga menganggap Ava sebagai saudaranya sendiri.


Disisi lain Ava tengah menunggu kedatangan Vino, "akhirnya aku menemukanmu byy" ucap Ava.


Setelah beberapa waktu Vino pun sampai di mesion Ava, para maid menyambutnya dengan hormat, mereka tau Vino merupakan sahabat sekaligus tangan kanan Ava.

__ADS_1


"Selamat datang tuan Vino" sapa Ben.


"Ayolah Ben kau tidak perlu seformal itu padaku" ucap Vino yang kini merangkul pundak Ben.


"Hahaha baiklah" jawab Ben tertawa renyah.


"Dimana tuan arogan itu?" Tanya Vino yang sedang mengatai Ava.


"Aku disini, dan ya kau beraninya berkata aku adalah pria arogan!" wajah datar menatap Vino dan Ben.


"Hohoho ternyata sudah disini tohh" ucap Vino mendekat ke arah Ava.


"Dimana Vira?" tanya Ava tanpa basi-basi.


"Baiklah aku akan memeberitahumu" jawab Vino.


"Kau tidak memiliki pilihan Vin" ucap Ava dengan tatapan mengejeknya.


"Yaa aku tau" balas Vino.


Ben yang sedari tadi memeperhatikan kedua sahabat masa kecilnya hingga sekarang merasa geli, pasalnya Ava dan Vino memang terus berselisih dan dia akan menjadi penengah diantara mereka.

__ADS_1


__ADS_2