
Ava masih berdiam diri luar ruangan UGD, dia nampak kalut dan kacau, berjam-jam Ava menunggu namun tidak ada yang ke luar memberitahukan keadaan Tasya.
"Tuan tenanglah" ucap Ben sopan, dari tadi dia melihat tuannya mondar-mandir.
"Bagaimana aku bisa tenang Ben, sementara aku belum tau keadaan Tasya" ucap Ava lirih.
Di tengah perbincangan Ava dan Ben, tiba-tiba dokter pun keluar dari ruangan dengan wajah yang tak bisa dijelaskan.
"Dokter!!!, bagaimana keadaan Tasya dokter!?" Ava langsung bertanya pada dokter itu, ia benar-benar cemas.
"Dokter tolong katakan!" ucap Ava meninggikan nadanya, karena dokter tidak menjawabnya namun dari raut wajah dokter itu sepertinya sesuatu yang tidak ingin dia dengar, tapi tetap saja dia harus mengetahui keadaan Tasya.
"Dokter!" ucap Ava sambil tangannya memegang kerah baju dokter itu.
"Tuan tenanglah" ucap Ben memenangkan Ava.
"Ada apa dengan nona Tasya dokter?" tanya Ben
"Nona Tasya kritis, peluru itu mengenai jantungnya, sangat tipis untuk dia bisa hidup" ucap dokter itu.
__ADS_1
"Apa kau bilang!" ucap Ava emosi
"Apa kau tuhan hah, berani sekali kau berkata seperti itu, dia pasti akan hidup" ucap Ava membentak dokter itu.
"Tuan mohon tenanglah, dokter tolong usahakan yang terbaik untuk nona Tasya" ucap Ben.
"Kami akan melakukan yang terbaik tuan" ucap dokter itu.
"Aku ingin masuk" ucap Ava langsung ingin masuk tanpa meminta izin, namun tidak diizinkan
"Mohon maaf tuan Ava, untuk sekarang nona Tasya tidak bisa dikunjungi" ucap dokter itu sopan
"Aku tidak mau tau, aku ingin memenemuinya" ucap Ava dengan emosi.
"Dimana aku harus berganti?" tanya Ava datar.
"Suster tolong antarkan tuan Ava" ucap dokter memerintahkan salah satu suster.
"Baik dok" ucap suster.
__ADS_1
"Mari tuan ikuti saya" ucap suster sopan pada Ava.
Ava langsung mengikuti suster itu, setelah beberapa saat Ava pun memasuki ruangan dimana Tasya berada, disana Ava tidak dapat membendung air matanya yang tadinya kering kini basah lagi, dia memandangi wajah Tasya yang pucat, dengan banyak alat medis yang melekat pada tubuhnya.
"Sayang" ucap Ava lirih, Ava duduk di samping Tasya.
"Aku minta maaf, aku mohon bukalah matamu, jangan membuatku tersiksa seperti ini, aku mohon" ucap Ava dengan sesenggukan, dia memegang tangan Tasya dan memciumnya beberapa kali.
"Sayang apa kamu tau, selama ini aku mencarimu hingga aku merasa tidak ada harapan namun ada wanita yang mengaku sebagai dirimu dan bodohnya aku langsung percaya" ucap Ava lirih
"Maafkan aku karena tidak mengenali dirimu, apakah kamu masih ingat" ucap Ava tersenyum kecut.
"Ingat dengan janji itu, dimana aku berjanji akan menikahimu" lanjut Ava lagi.
"Kamu juga mengatakan kalau kamu mencintaiku, jadi sadarlah, dan menikahlah denganku, aku berjanji akan menjadikanmu wanita paling bahagia di dunia ini bersama anak-anak kita nanti" ucap Ava dengan air mata yang berderai.
Ava terus berbicara pada Tasya kini yang bahkan pernafasannya dibantu oleh alat, setelah beberapa saat Ava keluar dari ruangan walaupun hatinya tidak ingin jauh dari Tasya namun itu sudah menjadi aturan rumah sakit dia tidak boleh lama-lama berada diruangan Tasya.
Dengan perasaan sedih dan amarah bercampur menjadi satu Ava pergi dari rumah sakit, sebelum itu dia melihat dari kaca pintu ruangan
__ADS_1
"Aku pergi dulu sayang, aku akan membalas orang yang telah melakukan semua ini" guman Ava.
"Ben tolong perketat penjagaan dan segera beritahu aku jika terjadi sesuatu pada Tasya" ucap Ava datar dan berlalu pergi