Mencintai Seorang Mafia Kejam

Mencintai Seorang Mafia Kejam
Hilang kendali


__ADS_3

Tasya mengerjapkan matanya, dia mengedarkan pandangannya dan dia merasa bingung mengapa dia bisa berada di kamar, setaunya dia sedang berada di taman.


"Siapa yang membawaku ke kamar?" ucap Taysa


Tasya pun bangkit dari matras yang menjadi tempat tidurnya.


CEKLEK


Suara pintu terbuka, "kamu sudah sadar" ucap Reina yang kini tengah memegang nampan yang berisi makanan dan obat.


Reina pun mendekat ke arah Tasya, "sebaiknya kamu istirahat dulu" ucap Reina menuntun Tasya kembali duduk ke matras.


"Aku tidak apa-apa" jawab Tasya dengan senyuman


"Ini aku bawakan makanan, kamu makanlah dan jangan lupa minum obatmu" ucap Reina memberikan nampan yang dibawanya tadi.


"Terima kasih kak" ucap Tasya dengan tulus.


Reina yang mendengar Tasya yang memanggilnya sebagai kakak merasa bahagia, entah mengapa Reina sangat ingin memberikan seluruh kasih sayangnya kepada Tasya.


"Tidak perlu sungkan, dan yaa kamu bisa mamanggilku kakak mulai sekarang" ucap Reina dengan senyuman sambil mengelus rambut Tasya dengan lembut.


"Makanlah, aku masih ada pekerjaan yang harus aku urus" lanjut Reina bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Ohh iya, sekali lagi terima kasih" ucap Tasya


Reina pun keluar, sedangkan Tasya segara memakan makanan yang dibawa Reina.


Setelah beberapa saat Tasya pun menyelesaikan acara makannya.


"Aku harus kembali bekerja" ucap Tasya


Tasya pun keluar dengan nampan yang dibawa Reina tadi dan melanjutkan kerja seperti biasanya.


Tasya yang kini berada di ruang tamu sedang membersihkan meja, mengelap semua barang dengan hati-hati.


TAK TAK TAK


Suara langkah terdengar di telinga Tasya, dia membalikan badannya dan melihat sosok pria tampan yang mampu membuat jantungnya berdetak seakan mau copot dari tempatnya.


"Ikut aku!" suara bentakkan Ava.


"Tolong lepaskan aku" pinta Tasya yang kini telah mengeluarkan air mata.


Tanpa mendengarkan permintaan Taysa yang memohon pada Ava agar dilepaskan, Ava malah semakin menguatkan tarikan rambutnya dan menyeret Tasya ke arah kolam.


BYURR

__ADS_1


Ava menghempaskan tubuh Tasya ke kolam, Tasya yang tak bisa berenang pun tenggelam.


"Tolong, tolong aku" Tasya meminta tolong.


Ava hanya menatap ke arah Tasya, dia tidak percaya kalau Tasya tak bisa berenang.


"Dengan berpura-pura seperti itu, apa kau pikir aku akan percaya, aku muak melihatmu, mengapa kau tidak mati saja" ucap Ava.


Tasya yang kini masih berusaha berenang tapi Tasya bisa mendengar semua yang dikatakan Ava, hatinya sakit bahkan orang yang dia cintai mengharapkan dia mati.


Ben yang melihat semua itu langsung meluncur ke dalam kolam dan menyelamatkan Tasya. Ben menuntun tubuh Tasya ke pinggir kolam, Ava yang melihat itu pun semakin marah, dia melihat Ben yang beraninya menyentuh tubuh Tasya tanpa seijinnya.


"Ben!!!" Bentak Ava yang kini dengan emosi yang memuncak.


"Maaf tuan atas kelancangan saya" ucap Ben


"Jangan pikir karena kau tumbuh besar bersamaku, aku akan mentoleransi semua kelakuanmu!" ucap Ava menggelegar.


"Dan kau wanita jal**ng, kau ternyata pandai menggoda pria, aku salut atas kelebihan mu yang menjijikkan itu" ucap Ava yang menatap jijik Tasya.


"Ava...kamu salah paham" ucap Tasya dengan tatapan sedih, ia merasa hatinya hancur.


"Tutup mulutmu! dan jangan pernah memanggil namaku dengan mulut jal**ngmu itu!!" bentak Ava lagi.

__ADS_1


Ben yang mendengar kata-kata kasar dari Ava hanya bisa kasihan melihat Tasya.


*Tuan anda akan benar-benar menyesal telah memperlakukan wanita sebaik nona Tasya* batin Ben.


__ADS_2