Mencintai Seorang Mafia Kejam

Mencintai Seorang Mafia Kejam
Desa Kenangan


__ADS_3

Seorang pria tampan menuruni mobil, "akhirnya aku kembali kesini" Ucap Ava mengehela nafasnya.


Ava melangkahkan kakinya di padang bunga yang luas, "masih tetap sama" ucap Ava menghela nafasnya.


Tangan Ava memetik bunga aster berwarna ungu, Ava mencium bunga itu, pikirannya melayang pada gadis kecil yang membuatnya jatuh hati, saat tengah membayangkan gadis kecil itu sekelibat bayangan senyuman Tasya muncul dalam pikirannya.


"Tasyaa" guman lirih Ava, ini baru pertama kalinya dia menyebut nama itu langsung dari mulutnya.


"Mengapa kamu sangat mirip dengan gadis kecil itu" ucap Ava menatap bunga aster yang tengah dia penggang.


"Tapi gadis kecil itu adalah Vira, tapi mengapa aku menjadi ragu, araghh" Ava bingung, dia meragukan kebenaran yang dia ketahui sekarang.


Setelah beberapa saat berdiam di padang bunga itu, Ava pun beranjak pergi. Di perjalanan Ava berhenti di kedai kecil yang dulu sering dia lewati yang tak jauh dari padang bunga itu.


"Ternyata memang tidak ada perubahan" Ava pun turun dari mobil dan duduk di kursi kedai itu yang sudah disiapkan untuk para pembeli.


"Tuan mau minum apa?" ucap wanita paruh baya pemilik kedai tersebut kepada Ava.


"Aku tidak sedang berbelanja, aku hanya ingin bertanya" ucap Ava datar


Aura yang tadinya biasa saja berubah menjadi mencengkam.

__ADS_1


"Ahh iya,, tuan mau bertanya apa?" ucap wanita paruh baya tersebut.


"Apa kau tau gadis kecil yang dulu sering bermain di padang bunga itu, itu sudah sekitar 13 tahun yang lalu" ucap Ava.


Nampak wanita paruh baya itu sedang mengingat-ngingat sesuatu.


"Ohhh gadis kecil itu" jawab wanita paruh baya itu


"Apa kau mengenalnya?" tanya Ava lagi


"Ya aku mengenalnya, namanya Tasya putri, dia anak yang baik dulu dia sering membantuku, tapi orang tuanya kecelakaan sehingga membuatnya meninggal, dia pun pindah ke kota tinggal bersama pamannya" jelas wanita paruh baya itu.


Bagai tersambar petir, pikirannya kini berkecamuk, Ava takut kalau selama ini dia salah mengira siapa gadis itu.


"Bisa kau jelaskan ciri-ciri dari gadis yang kau maksud!" tanya Ava lagi pada wanita itu.


"Ohhh gadis itu sering menggerai rambutnya, dia sering menggunakan gaun putih, dan senyumannya sangat manis" jawab wanita itu.


Ava pun menelaah apa yang dibicarakan wanita paruh baya itu, tidak salah lagi itu memang benar gadis kecil yang dia cari selama ini, gadis penyelamat sekaligus orang yang berhasil membuatnya jatuh hati.


"Jadi selama ini aku telah menyiksa orang yang kujanjikan akan membahagiankannya" guman Ava, dadanya mulai sesak dia mengingat semua bentakkan, perlakuan kasar yang dia lakukan terhadap Tasya.

__ADS_1


Tanpa pamit Ava pun berlalu dengan langkah cepat menuju mobilnya dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Di dalam mobil tanpa Ava sadari air matanya terjatuh, dia mengingat senyuman tulus Tasya walaupun dia telah mendapat perlakuan kasar.


"Tasya aku minta maaf" guman Ava sambil meningkatkan kecepatan agar secepatnya sampai di kota mengingat Desa itu sangat jauh dari kota memakan waktu yang cukup lama.


......................


Setelah lama berbincang, Tasya meminta pamit pada Desi, dia takut sampai Ava mengetahui dia keluar maka akan menimbulkan masalah pada Reina karena Reinalah yang membantunya keluar.


"Des aku harus balik" ucap Tasya bangkit dari duduknya.


"Baru juga sebentar" keluh Desi


"Maaf Des aku harus balik, aku harus kembali bekerja" ucap Tasya.


"Huhh, baiklah" dengus Desi.


"Aku pergi yaa" pamit Tasya lagii, dan langsung memeluk Desi.


"Iya iya, hati-hati" ucap Desi membalas pelukan Tasya.

__ADS_1


Tasya pun melepas pelukannya dan berlalu pergi sambil melambaikan tangannya tak lupa tersenyum tulus untuk sahabatnya itu demikian juga Desi.


__ADS_2