Mengejar Cinta Wanita Arogan

Mengejar Cinta Wanita Arogan
12. kecurigaan Efbran


__ADS_3

setelah puas berbelanja di mall Vania meminta Efbran menemani nya untuk makan siang karena ini sudah waktunya jam makan siang.


mereka memilih makan siang di mall.


Efbran meminta kepada petugas untuk menyiapkan ruangan private untuk ia dan Vania.


tiga orang pelayan masuk membawa buku menu.


“Silahkan nona anda ingin pesan apa?” salah satu dari mereka bertanya.


“Yang ini saja.” Vania menunjuk salah satu menu yang ada di buku.


“Tuan Efbran Anda ingin pesan apa?”


“Seperti biasanya saja.”


“Baik tuan.”


mereka menundukkan kepalanya sebelum berjalan ke luar.


pelayan itu langsung menuju dapur dan mengatakan apa yang di minta tuanya. kepada koki dapur.


“Tuan Efbran memesan menu seperti biasanya.”


“Baiklah, saya akan segera menyiapkan nya.”


mereka semua sudah tau, semua makanan kesukaan Efbran. termasuk menu makan siang nya karena tuan Efbran sering datang ke sini hanya untuk makan siang atau makan malam. wajar saja karena mall ini adalah miliknya, dari pada makan di tempat lain dia lebih memilih makan di tempat ini.


makan siang sudah selesai di sajikan di atas meja. Vania sudah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Enak, ini sangat enak!”


“Kalau kau mau, kau bisa makan makanan ini


sebanyak yang kau inginkan,” Efbran menyuapi makanan miliknya ke mulut Vania.


“Emm, punya mu juga tidak kalah enak sayang,”


sekertaris Rey memasuki mall. setelah bertanya ke pada petugas di mana tuan Efbran. setelah mengetahuinya ia langsung naik ke atas.


kini ia sudah melihat di mana tuanya. sekretaris Rey berdiri tidak jauh dari Efbran. ia sengaja tidak ingin mendekati tuan nya sekarang karena tidak ingin menganggu mereka.


setelah Efbran selesai dengan makanan nya. sekretaris Rey mendekat. ia berdiri di belakang Efbran.


“Maaf menganggu waktu anda tuan,”


Efbran menoleh. " Ada apa Rey?"


“Ayah dan yang lainnya mengajak anda untuk mengunjungi makan tuan besar Edwin. tuan,”


“Apa mereka sudah berangkat ke sana?”


“Belum tuan. mereka semua masih menunggu anda,”


“Katanya saja pada mereka untuk pergi lebih dulu aku akan menyusul nya.”

__ADS_1


"Baik, tuan"


mereka semua sudah berada di dalam mobil. sektaris Rey yang menyetir nya.


...----------------...


di tempat lain semua rombongan sudah pergi terlebih dahulu. setelah sekertaris Rey mengabari mereka untuk tidak menunggu Efbran.


setelah melewati perjalanan Akhirnya semuanya tiba juga di parkiran pemakaman. mereka menggunakan dua mobil yang berbeda.


setelah nya mereka semua berjalan masuk bersama menyelusuri pemakaman.


tepat di depan, makam Edwin sudah terlihat.


mata Dania mulai berkaca-kaca. hatinya selalu sedih saat datang ke tempat ini.


aku datang sekarang. aku merindukanmu! tak terasa sudah hampir 20 tahun kau meninggalkan kami.


Dania mendekati makam Edwin tangan nya mengelus batu nisan almarhum suaminya. Air mata Dania sudah tidak tertahankan lagi.


“Sudah lah kak,” tesa memeluk nya. sambil menangis juga.


Erland mendekati batu nisan Edwin. “Aku benar-benar tidak menyangka kau sudah meninggalkan kami selama hampir 20 tahun.”


“Kita pernah berjanji dulu saat kita masih muda, untuk menjalankan bisnis bersama. meskipun semua itu tidak tercapai, tapi Efbran dan David sekarang sudah sukses menjalankan bisnis mu dulu, bahkan lebih sukses dari pada kita dulu. anak laki-laki mu Sangat tampan mirip dengan mu.”


wijin dan frido yang berada di belakang Erland ikut menangis. begitu juga dengan Dayen yang menangis di pelukan anak bungsu nya Brama.


setelahnya mereka semua duduk bersama dan mengirimkan doa' untuk almarhum.


“Kak, kalau kau masih berada di sini, kau pasti bangga melihat anak-anak mu sudah tumbuh dewasa sekarang. bahkan Efbran anak yang kau banggakan saat kecil itu kini sudah menggantikan posisi mu sebagai direktur utama.”


wijin menarik nafas nya berat


“Aku berjanji akan menjaga mereka semua di sepanjang hidup ku. termasuk istri yang sangat kau cinta.” wijin menatap Dania dengan penuh air mata.


di parkiran mobil tuan Efbran sudah tiba.


mereka bertiga berjalan memasuki pemakaman.


sebenarnya aku malas sekali ke sini. membuang waktu saja, aku kan masih ingin menghabiskan waktu bersama Efbran. Vania


rombongan keluarga sudah berjalan meninggalkan pemakaman. tepat sekali berpapasan dengan Efbran.


“Apa kalian semua sudah ingin pulang?”


“Iya Ef, kami sudah lama disini. apa kau tidak apa-apa kalau mengunjungi makam ayah mu sendiri? kalau tidak paman bisa meminta David menemani mu disini?” ucap Erland.


“Tidak perlu paman, Rey selalu menemani ku.” melirik sekataris Rey yang berdiri di samping nya.


“Baiklah, kalau begitu ayah dan yang lainnya akan pulang sekarang.” ucap wijin


mereka semua berpisah. Efbran dan sekretaris Rey berjalan ke depan. makan Edwin sudah terlihat, begitu juga dengan Vania yang mengikuti dari belakang.


Efbran sudah berjongkok di depan makam ayahnya. tangannya mengelus nisan ayahnya. sekretaris Rey juga ikut berjongkok di samping Efbran. kecuali Vania dia masih berdiri.

__ADS_1


“Ayah, dulu hampir setiap hari aku datang ke sini bersama ibu. tapi akhir-akhir ini aku benar-benar sibuk, tidak bisa mengunjungi mu seperti dulu. dan aku juga sangat berterimakasih kepada Tuhan. dia memberi ku saudara seperti Rey meskipun kami bukan saudara kandung,”


“Tapi tetap saja kalau bukan karena ayah yang dulu mengadopsi Rey mungkin aku tidak akan memiliki saudara laki-laki seperti nya.”


jangan terlalu memuja tuan. saya yang seharusnya berterima kasih pada ayah. karna bisa memiliki keluarga seperti kalian, dan memiliki adik laki-laki seperti anda. saya berjanji akan selalu menjaga anda!


“Rey apa kau tidak ingin menyapa ayah?” Efbran menoleh pada sekataris Rey.


“Saya ingin tuan.”


Vania hanya berdiri diam memperhatikan dua laki-laki di hadapannya.


hp di dalam tasnya berdering. ia langsung memeriksanya.


“Mmm, sayang aku angkat telpon dulu ya di sana?” Efbran menjawab dengan anggukan.


“Terimakasih ayah. saya juga bangga bisa berada dekat di sisi tuan Efbran.”


ia kembali mundur ke belakang Efbran.


“Hanya itu yang ingin kau katakan?”


sekertaris Rey tersenyum tipis. “Saya tau tuan pasti masih ingin bicara banyak dengan ayah.”


“Lebih baik sekarang kita sama-sama berdoa untuk ayah.”


Vania sudah berjalan cukup jauh. ia menelpon balik si penelepon yang tadi meneleponnya.


tit.. tit..


halo. telpon di angkat


“Jau bisa tidak, tidak menggangguku sekarang!!? kau tau kan kalau aku sedang bersama Efbran sekarang?”


ya aku dengar kalian sedang berkencan. maaf sudah mengganggu waktu nya haha. tertawa kecil.


“Jangan banyak basa-basi! apa yang kau inginkan sampai menelpon ku? dengar ya aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni mu!”


wah-wah tenang lah aku hanya ingin minum malam ini bersama mu. bagaimana?


“Haha, apa kau bilang. minum! bersama mu! apa aku tidak salah dengar? dengar ya Lex dari pada menghabiskan malam yang membosankan bersama mu, lebih baik aku menghabiskan waktu ku bersama Efbran.”


Vania! kau jangan main-main dengan ku! kau pikir kekayaan ayahmu saat ini hasil dari bisnisnya? atau kau masih berpikir kalau ayah mu hidup selama ini dengan uang tuan Efbran hasil tipuan mu itu.


haha. Vania, aku bisa saja membocorkannya kepada tuan Efbran kalau selama ini kau dan ayahmu hanya menipunya. apalagi sekarang aku sudah menjadi orang kepercayaan di perusahaan nya.


kurang ngajar dia benar-benar ingin mengancam ku.Vania


“Baiklah malam ini, tapi aku ingin kau berjanji tidak mengatakan rahasia ini pada siapapun!?”


“Rahasia apa?!”


Vania kaget dia langsung menoleh. tepat sekali Efbran sudah berdiri di belakang nya bersama sekretaris Rey.


jangan lupa like, komen, vote dan terus dukung author dengan komentar kalian ya. dan jangan lupa saran dan kritik nya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2