
Siang sudah berganti malam. Efbran baru saja menyelesaikan pekerjaan nya. Vania sedang tidur di kamar, tempat tidur yang biasanya Efbran pakai kalau dia sedang lembur di kantor.
Efbran menyandar kan kepalanya, dia masih duduk di kursi kerja nya. kepalanya mendongak ke atas melihat langit-langit ruangan. lelah itu lah yang ia rasakan sekarang. matanya beralih menatap foto seseorang laki-laki yang ada di dekat meja kerjanya. dia mengambil foto itu dan meletakkannya di depan nya, memperhatikan orang yang ada di gambar itu. Efbran tenggelam dalam pikirannya sendiri, menatap wajah ayah nya yang masih terlihat muda di dalam foto itu.
Tokk...Tok
suara pintu di ketuk dari luar. sekretaris Rey segera membukanya.
“Maaf, tuan. apa saya bisa bertemu tuan Efbran?”
“Silahkan.”
laki-laki itu berjalan menuju meja kerja Efbran. setelah sudah berdiri di dekat meja Presdir dia tidak berani berkata apalagi duduk, Efbran masih menatap foto yang ada di tangan nya. matanya belum beralih. laki-laki itu cukup lama berdiri. sampai Efbran kembali meletakkan foto ayah nya ketempat nya semula.
“Ada apa?”
laki-laki ini kaget mendengar Efbran berkata tiba-tiba. "Sa saya hanya ingin menyerahkan berkas ini pada anda tuan." meletakkan nya di meja kerja
Efbran mengangguk
“Kalau begitu saya permisi tuan ” dia menundukkan kepalanya
sebelum ia melangkah kan kaki nya. ia berpapasan dengan Vania yang baru keluar dari kamar, tampaknya ia sudah lama tertidur. Vania membulatkan matanya setelah melihat laki-laki yang ada di depan nya. Alex keluar dari ruangan itu. dia tersenyum smirk, senyuman itu dapat di tangkap oleh mata Vania.
Vania berjalan menghampiri Efbran.
“Sayang, apa itu Alex?” menunjuk seorang yang baru saja keluar
“Tau mengenal nya?”
“Tidak!” jawab nya spontan
“Tapi sayang, kenapa tadi dia bisa ada disini?” Vania kembali bertanya
“Dia bekerja disini.”
“Apaaa!” dia kaget, suara naik beberapa oktaf. Efbran menatap Vania karena kaget dengan teriakannya. dia jadi salah tingkah melihat tatapan Efbran
“Ma.. ma maksud ku. kenapa aku tidak pernah melihat nya sebelumnya?”
“Aku baru saja memindahkan nya ke sini. dulu dia bekerja di perusahaan cabang yang ada di luar kota.”
“Oh begitu. pantas saja aku baru melihatnya”
“Apa kau mengenal nya ? kau sepertinya kaget saat tau dia bekerja di sini?” Efbran kembali bertanya
“Akuu!” Vania menunjuk dirinya sendiri. “Ti.. tidak sayang! aku tidak kenal dengan nya, hanya tahu saja dia teman lama kakak ku dulu.”
__ADS_1
“Apa dia sudah lama bekerja dengan mu sayang?” memilih bertanya dari pada dia penasaran sendiri.
“Sudah hampir satu tahun. dia bekerja di perusahaan cabang.”
What!!, hampir satu tahun. Vania membulat kan matanya, dan berteriak di dalam hati. vania masih tenggelam dalam pikirannya
pantas saja, saat kami membuat perjanjian dia langsung menyetujui nya. ternyata dia sudah bekerja di sini, pintar juga ya dia bisa masuk ke dalam perusahaan ini. Vania
“Tuan!” Sekertaris Rey berjalan mendekat.
“Nyonya besar menyuruh Anda untuk segera pulang! sepertinya paman anda sudah tiba di rumah.”
“Baiklah. apa mau ikut pulang juga dengan ku?” menatap Vania
“Tentu sayang, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga mu yang lain. aku kangen jellsa, Airin dan Alyssa uga”
Vania mendekap tangan Efbran di pelukan kan nya.
mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan di susul sekertaris Rey di belakang.
...----------------...
waktu sudah menunjukkan pukul 19.23 WIB. David baru saja sampai di rumah. tepat sebelum ia melangkahkan kaki masuk ke rumah, suara klakson mobil menghentikan langkahnya. dia berbalik badan memperhatikan seseorang yang turun dari mobil.
“Ayah!"
“Apa kau baru pulang dari kantor?”
“Iya. ku pikir tadi Ayah sudah datang.”
“Penerbangan kami di tunda 2 jam tadi. jadi nya sampai di sini malam hari.” Tesa yang menjawab, ia adalah ibunya David. dia turun dari mobil di susul oleh anak perempuan nya Kiara
“Yasudah, ayo kita masuk!”
“Pak! nanti tolong ambilkan tas yang ada di bagasi mobil ya!” pinta tesa ke pada sopir.
“Baik!”
mereka semua berjalan masuk ke rumah. setelah masuk kedalam mereka di sambut oleh Dayen yang sudah menunggu mereka di ruang tamu sejak tadi.
“Ibu!” Tesa langsung memeluk Dayen sambil cipika-cipiki, karena sudah lama tidak bertemu. wajar saja mereka tinggal di negara yang berbeda.
“Tesa, kau terlihat semakin cantik ya!” Ucap Dayen yang memuji menantunya. Bisa di bilang Tesa adalah menantu kesayangan nya. Dayen selalu memperlakukan Tesa seperti anak sendiri, Sangat berbeda dengan Dania.
“Ibu ini, bisa aja deh,"
“di mana Tedy?”
__ADS_1
“Tedy tidak ikut Bu, semenjak menikah dia jadi sangat sibuk " Erland yang menjawab.
“Iya Bu, apalagi sekarang dia di boyong suaminya tinggal di luar kota.” Tesa ikut menimpali.
Tedy adalah anak pertama Erland dan Tesa yang sudah menikah dua tahun yang lalu.
“Di mana kakak ipar Bu?” Tesa mengalihkan pandangannya melihat tangga menuju ke atas.
“Jam segini dia pasti di kamar.” ucap Dayen dengan acuhnya
“Aku ke atas ya? sudah lama tidak bertemu kakak ipar ” dia menepuk tangan suaminya. Erland menanggapi nya dengan mengangguk
Tesa berjalan menaiki anak tangga
“Kia, juga mau ke atas ya ”
sebelum mendapat jawaban dia sudah berlari mengejar ibunya.
“Apa kau mau bertemu Tante Dania juga?”
“Nanti pasti bertemu Tante Dania juga. sekarang aku ingin bertemu kak jellsa, Airin dan Alyssa.”
mereka berdua berpisah setelah sampai di lantai Atas. Tesa berjalan menuju arah kamar Dania. saat sudah berada di depan kamar dia mengetuk pintu nya beberapa kali.
tok..tok..
“Siapa?” suara dania dari dalam kamar. Tesa iseng dia masih terus mengetuk pintu, tampa ingin menyahuti suara kakak ipar nya.
setelah beberapa menit pintu baru di buka. Dania kesel dengan si pengetuk pintu, karena bukan nya menjawab tapi malah membuat orang emosi dengan terus mengetuk pintu
“Kakak iparrrr!” tesa sudah membentang kan tangan nya seperti orang yang ingin memeluk.
sedangkan Dania Masih diam di tempatnya. dia kaget dan juga tidak percaya. karena dia memang tidak tahu kalau tesa akan datang hari ini.
“Kakak ipar.” tesa kembali memanggil Dania karena Dania hanya diam dan tidak bereaksi.
“Jadii ini benar kau? ku pikir tadi aku hanya berhalusinasi menganggap pelayan sebagai dirimu.”
“Hahaha” Dania tertawa melihat wajah tidak suka tesa kerena di anggap sebagai pelayan.
“Kakak ipar ini,” dia memukul bahu Dania pelan sebelum berpelukan.
“Akuu kangen dengan kakak ipar karena sudah lama tidak bertemu."
mereka berdua berjalan ke kamar meneruskan obrolan mereka. sebenarnya tesa lebih tua satu tahun dari Dania, tapi karena Dania dulu menikah dengan Edwin yaitu kakak nya Erland suaminya jadi dia memanggil nya dengan sebutan kakak.
Tinggalkan jejak kalian ya. dengan komen like dan vote, biar Author tambah semangat nulisnya. dan buat kalian yang udah luangkan waktu untuk baca novel nya Author terimakasih ya. Dan maaf kalau tulisan nya masih berantakan 🙏
__ADS_1
BERSAMBUNG......