Mengejar Cinta Wanita Arogan

Mengejar Cinta Wanita Arogan
8. Membahas pernikahan


__ADS_3

Erland masih mengobrol dengan ibu nya di ruang tamu tesa. dan Kiara masih berada di atas


“Silahkan masuk tuan,” kata seorang penjaga saat melihat frido dan istrinya tiba.


“Ibu,” tari memeluk hangat Dayen


“Ternyata kau sudah datang lebih dulu kak?” frido duduk di sebelah Erland.


frido adalah anak ke empat Dayen. yang tinggal di luar kota, dia sudah menikah tiga tahun yang lalu dengan istrinya tari. Dayen memiliki lima orang anak laki-laki, tampa ada anak perempuan. anak pertamanya Edwin sudah lama meninggal.


“Di mana kak tesa?” tari melihat kanan kiri.


“Dia di atas, mungkin bertemu kakak ipar.” jawab Erland.


tari menganggukkan kepalanya.


“Di mana Brama Bu?” tanya frido


“Jam segini dia pasti belum pulang. setahu ibu dia sedang sibuk mengurus bisnis baru nya.” jawab Dayen


“Bagai mana dia itu, sudah mau menikah tapi masih saja menguras pekerjaan nya! seharusnya dia sudah menyiapkan diri untuk hari pernikahan nya!” ucap Erland sekarang karena dia anak yang tertua, dia memang harus bersikap tegas.


orang yang mereka tunggu akhirnya tiba. Brama datang bersamaan dengan wijin yang baru saja pulang dari kantor.


“Kak aku tidak menyangka kalian datang secepat ini.” Brama duduk di sofa kosong sebelah Dayen.


“Sebagai kakak yang tertua, memang seharusnya begitu kan?”


jam sudah menunjukkan waktunya makan malam. tapi mereka semua masih asyik mengobrol. di tambah lagi dengan kedatangan tesa dan Dania. tari dan tesa tak habis cerita untuk mereka bicarakan begitu juga dengan Dania yang sekali-kali ikut menimpali


“Brama, pesta pernikahan mu akan di adakan di mana?” tanya Dayen


“Terserah saja, aku tidak mempermasalahkan itu bu. asal aku bisa menikah saja,”


“Kalau menurut kalian bagaimana?” Dayen menanyakan nya pada anak laki-laki nya yang lain.


“Cari saja tempat senyaman-nyaman nya untuk kita mengadakan pesta.” jawab frido


“Ibu sangat ingin mengadakan pesta pernikahan di rumah. lagi pula setiap ada keluarga kita yang menikah selalu mengadakan nya di gedung. kali ini ibu sangat ingin mengundang teman-teman ibu untuk datang ke rumah,”


“Efbran pasti tidak akan setuju kalau pesta di adakan di rumah Bu.” Dania yang menjawab.


bola mata Dayen tertuju padanya. Dania menunduk kepala nya. ia tidak ingin pandangannya bertemu dengan tatapan tajam Dayen.


“Apa kau pikir aku bertanya pada mu?”

__ADS_1


“Meskipun hak rumah ini di miliki Efbran. tapi dia cucu ku. tidak ada salahnya aku mengadakan pesta di sini kan?”


“Sudah lah Bu, pesta pernikahan ku bisa di adakan di mana saja. di gedung juga tidak masalah,”


“Aku akan menanyakan nya langsung pada Efbran nanti. paling juga wanita ini yang membuat alasan memakai nama Efbran untuk melarang ku melakukan pesta di rumah ini!”


“Tapi bu....” Dania ingin menjelaskan. tapi saat ia melihat wijin menempel kan jari telunjuk di bibir yang artinya diam saja tidak perlu berkata apa-apa lagi, dia langsung refleks diam.


mobil sekertaris Rey memasuki pintu gerbang hingga akhirnya berhenti di depan halaman rumah. sekertaris nya segera turun membuka pintu mobil belakang. setelah nya Efbran keluar mengandeng tangan vania untuk masuk bersama.


“Sayang, seperti nya semua keluarga mu sudah datang aku jadi sedikit malu,”


“Kenapa harus malu? kau datang ke sini bersama ku,”


mereka sudah sampai di ruang tamu.


“Ef, kau sudah pulang, kemari lah!”


Efbran duduk di sofa yang masih kosong. begitu juga dengan Vania.


“Ef, apa kau yang mengundang nya kemari?” pertanyaan nya mengarah pada Efbran, tapi mata Dayen tertuju pada Vania.


“Iya, aku juga mengundang nya untuk hadir di pesta pernikahan paman Brama,”


“Ehemm Efbran! Oma dan yang lainnya setuju untuk mengadakan pesta pernikahan di rumah ini. boleh kan?” dia berkata dengan nada yang sangat lembut dan hati-hati


“Bukannya biasanya juga selalu mengadakannya di gedung? buat pesta di gedung seperti biasanya!”


“Tapi ef, Oma sangat ingin sekali ini saja untuk mengadakan pestanya di rumah saja. lagian rumah ini juga sangat luas!”


“Buat pesta di gedung seperti biasanya. Aku tidak ingin banyak orang yang datang ke rumah ku!”


jelas tak terbantahkan. Dayen hanya terdiam Tampa bisa berkata apa-apa lagi. dia menatap sinis Dania.


“Baiklah sepertinya sekarang sudah hampir lewat jam makan malam. ayo kita makan dulu!”


“Aku ingin mandi dulu,” Efbran berdiri. Vania juga refleks ikut berdiri.


“Kalau kau bosan di sini, kau bisa ke kamar tamu.”


“Baiklah.” Vania mengikuti Efbran yang menaiki tangga menuju ke lantai atas. saat sudah berada di atas, Vania berbelok menuju kamar tamu, untuk membersihkan diri juga. sedangkan Efbran dia memencet tombol lift menuju kamar nya di atas.


makan malam. semuanya sudah berada di meja makan. malam ini sangat berbeda seperti biasanya karena biasanya sangat sepi. hanya Dayen, Dania, Airin dan Alyssa. yang kerap makan malam bersama. itu pun Tampa pembicaraan yang hangat. biasanya hanya dentingan sendok makan yang beradu dengan garpu. karena yang lain kerap menghabiskan waktu makan malam di kantor. jellsa juga biasanya pulang larut malam, karena banyak tugas di semester akhir, atau dia lebih memilih nginap di rumah temannya.


“Ef, kau tidak mengajak wanita ini nginap di sini kan?” tanya Dayen.

__ADS_1


“Saya pulang nyonya,” jawab Vania


“Ya, aku juga berharap begitu,” ujar Dayen dengan tersenyum.


dasar nenek peyot. kalau suatu hari nanti aku benar-benar akan mendapatkan cucu mu ini, percaya lah akan aku tendang kau dari sini!


makan malam sudah selesai. yang lain sudah masuk ke dalam kamar. melepaskan penat dari perjalanan jauh, Efbran dan sekertaris Rey masih berada di ruang kerja.


di ruang tamu. Vania dan Dania sedang mengobrol.


“Kapan kau tiba di sini Vani?” tanya Dania


“Tadi siang nyonya, tapi aku langsung ke kantor Efbran tadi.”


“Bagaimana kabar Deddy mu?”


“Deddy baik. seperti biasanya nyonya. bisnis nya juga berjalan dengan lancar atas bantuan ef dulu.”


“Benarkah?”


“Iya, Deddy juga baru saja mendirikan perusahaan cabang.”


“Aku juga turut senang. karena Deddy mu tidak terus- terusan di tipu seperti dulu lagi,”


“Terimakasih nyonya atas dukungan nya, ini juga atas bantuan efbran.”


“Apa sudah mau pulang?” Efbran keluar dari ruangan kerjanya.


“Hm, iya ini juga sudah larut malam. nyonya saya pulang dulu ya.”


“Baiklah”


“Sayang apa pekerjaan mu sudah selesai?” Vania mengandeng tangan Efbran, berjalan keluar.


“Sudah.”


mereka berdua sudah berada di dalam mobil sekarang.


“Apa kau tidak apa-apa tidur di apartemen?”


“Tidak masalah, biasanya juga aku selalu tidur di apartemen mu kan?”


“Baik lah, aku akan menemanimu. tidur di apartemen juga malam ini.”


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2