
Hari sudah berganti malam. pesta pun sudah berakhir. semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing. membawa kebanggaan pada diri mereka, karena sudah di undang dan hadir di pernikahan yang begitu mewah. dan para undangan yang dapat ber foto dengan kedua mempelai pun tidak lupa memamerkan foto mereka di media sosial masing-masing.
Brama dan istrinya juga sudah pulang dari pesta pernikahan yang sangat melelahkan bagi mereka. tapi momen pernikahan mereka tidak akan mereka lupakan di sepanjang hidup mereka.
Brama dan Alika pulang ke rumah barunya. yang mereka beli satu bulan sebelum pernikahan di langsung kan.
di kediaman keluarga Askara pun semuanya sudah terlelap dalam tidur. malam semakin gelap, dingin nya angin menembus kulit para penjaga yang masih bekerja di saat semua nya terlelap dalam tidur. mungkin bagi sebagian orang malam yang panjang baru akan di mulai.
matahari sudah memunculkan cahaya. tanda hari sudah pagi. semua orang sudah bersiap untuk memulai aktivitas mereka seperti biasanya.
pagi ini. di ruang makan semua orang sedang menikmati sarapan bersama.
sarapan bersama pagi ini mungkin jadi yang terakhir bagi mereka. karena Erland dan Tesa akan segera pulang ke negara XXX pagi ini.
begitu juga dengan frido dan istrinya yang akan pulang ke kota sebelah.
“Kakak ipar. kami pulang dulu ya,” tesa berpelukan dengan Dania. sarapan sudah selesai, mereka bertiga berada di ruang tamu.
“Kalau ada waktu kakak ipar berkunjung lah ke rumah kami!” sekarang giliran tari yang memeluk Dania.
“Kalau ada waktu aku pasti akan berkunjung nanti. tapi tidak terasa ya, kalian sudah ingin pulang saja. aku jadi merasa sepi tidak ada teman mengobrol,”
“Nia, kau kan bisa menelpon ku. kalau sedang tidak ada teman. aku akan mendengarkan semuanya. sekalipun curhatan mu juga,”
tesa lebih akrab sekarang dengan menyebut nama, tapi itu hanya sesekali saja di antara mereka berdua. karena mereka memang sudah mengenal sejak dulu. Dania dan tesa pernah satu sekolah dulu saat Dania masih tinggal bersama kedua orangtuanya di negara XXX.
apalagi kalau dari segi usia tesa lebih tua satu tahun. tapi karena pangkat Dania lebih tinggi dari dia, ia merasa tidak enak kalau harus memanggil nama di depan banyak orang. meskipun sekarang harusnya Dania yang memanggil nya kakak ipar, tapi karena sudah terlanjur begitu sulit untuk mengubah panggilan.
sekarang semua orang sudah ada di rumah tamu. tesa menghentikan obrolan mereka bertiga. karena Dayen sudah berada di ruang tamu juga sekarang.
“Ibu, kami pamit pulang dulu ya,” Erland memeluk ibunya, begitu juga dengan tesa.
“Iya Bu, nanti kalau kami ada waktu kami pasti akan datang kemari lagi!”
“Tesa, sebenarnya ibu ingin kamu yang tinggal di rumah ini. pasti ibu tidak akan ke kesepian! ”
__ADS_1
“Ibu kan bisa menelpon ku,” tesa melepaskan pelukannya.
“Oma kia juga pulang ya,” Kiara memeluk Dayen sebelum mereka berpisah. ia juga memeluk jellsa yang masih belum berangkat kuliah. sedangkan Airin dan Alyssa sudah berangkat sejak tadi pagi.
begitu juga dengan Tedy ia juga berpamitan dengan semuanya. ia juga memeluk Dayen, begitu juga dengan Adam
“Yasudah Bu, kami pulang sekarang. David bantu Efbran mengelola perusahaan dan selalu temani dia dalam keadaan apapun!” Erland berpesan pada anaknya sebelum pulang.
Ia dan David sudah hampir terpisah selama 20 tahun. setelah tuan besar Edwin meninggal. David sengaja Erland suruh untuk tinggal di sini menemani Efbran yang saat itu memang sangat kesepian setelah kepergian ayahnya.
“Baiklah ayah. Efbran itu sudah aku anggap sebagai saudara ku sendiri,”
ya, meskipun dia menyebalkan! dan ingin selalu menang sendiri.
sikap Efbran yang begitu memang sudah biasa bagi David. mungkin begitulah cara nya tumbuh setelah ayahnya meninggal. ia tidak akan puas sebelum apa yang ia inginkan dapat ia miliki. meskipun sikap nya begitu, semua orang menyayangi nya. bahkan David juga terkadang iri, karena orang tuanya lebih menyayangi Efbran. tapi mereka berdua tetap tumbuh bersama. meskipun terkadang berselisih pendapat juga, layaknya seorang kakak dan adik.
“Kami juga harus pulang bu,” frido juga pamit pada Dayen.
“Apa kalian tidak bisa menunda sehari atau dua hari lagi? ibu sangat merasa sepi kalau kalian pulang secara bersamaan begini. apalagi sekarang Brama sudah pindah, rumah ini pasti akan tambah sepi!”
“Ya Sudahlah. kalian hati-hati di jalan ya!”
“Pasti Bu. ibu juga berkunjung lah kerumah kami.” ujar tari.
frido dan tari sudah masuk ke dalam mobil. klakson mobil di bunyikan setelah mobil meningkatkan rumah utama dan menghilang setelah melewati gerbang. Dayen Kembali masuk ke rumah.
di tempat lain. Efbran sudah berada di apartemen Vania. ia sudah datang ke mari sejak tadi pagi bersama sekretaris nya. Vania meminta Efbran mengantar nya ke bandara hari ini. ia juga akan pulang ke negara XXX. semua barang-barang sudah di masukkan ke bagasi mobil.
Vania berpelukan dengan Efbran sebelum berangkat.
“Sayang aku pasti akan merindukan mu!”
“Kalau urusan pekerjaan ku sudah hampir selesai aku pasti akan menyusul mu. untuk berlibur juga di sana,”
“Benarkah?” Vania tersenyum senang. ia memeluk Efbran lagi sebelum akhirnya berpisah. Vania masuk ke pesawatnya. setelah pesawat lepas landas Efbran dan sekretaris Rey kembali kekantor.
__ADS_1
setelah beberapa jam menempuh perjalanan yang meleleh kan. Akhirnya Vania sudah tiba di kediaman nya di negara XXX.
rumah nya cukup besar dan mewah. tapi masih kalah jauh kalau di banding kan dengan rumah tuan Efbran.
ia melangkah kan kaki nya menuju kamarnya yang ada di atas. belum sempat menaiki tangga untuk masuk ke kamar nya adiknya sudah menunggu nya di bawah.
“kak Vani!”
Stephen berjalan menghampiri Vania.
“Iya ada apa?”
“Kenapa kakak harus meminta tolong lagi kepada tuan Efbran dengan cara berbohong tentang perusahaan Deddy?”
“Kalau tidak aku yang bertindak menurut mu siapa lagi!? kau begitu?” Vania tersenyum meremehkan.
“Dengar Stephen ini urusan ku! lagian juga Efbran itu pacar ku!”
“Aku memang tidak bisa membantu permasalahan Deddy. tapi setidaknya kakak tidak perlu membuat keluarga kita berhutang banyak ke pada tuan Efbran. mungkin sekarang dia tidak masalah, tapi kalau suatu hari dia tau kebenaran nya bagaimana?!”
“Lalu menurut mu kalau kau tidak bisa membantu Deddy, selain aku siapa lagi. kak zigo? kacang yang lupa kulit itu setelah menikah?! atau kak Jhon yang tidak pernah peduli lagi kepada keluarga kita!?”
“Kalau aku jadi kak zigo mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. siapa yang tidak sakit hati saat di paksa menikah oleh orang tuanya sendiri. demi menikahi seorang wanita kaya raya pewaris tunggal perusahaan keluarga mereka. setelah itu Deddy meminta kak zigo untuk mengelola perusahaan itu dan mengambil keuntungan dari perusahaan istrinya itu!”
“Apa lagi ia harus meninggalkan pacarnya
demi menikah dengan seorang wanita yang sama sekali tidak ia kenal apalagi cinta! mungkin kak zigo juga sudah lelah dengan semua sikap egois nya Deddy. maka nya ia tidak pernah kembali lagi ke sini setelah menikah.”
Vania terdiam. apa yang di katakan adiknya memang benar adanya. setelah kedua orangtuanya bercerai masalah tidak pernah henti-henti menerpa keluar nya.
“Ah, sudahlah. lupakan aku lelah ingin istirahat sekarang!”
Vania menaiki tangga menuju kamarnya.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1