
Vania menatap sendu ke arah Efbran. ia masih berharap laki-laki itu bisa luluh melihatnya dengan wajah nya yang masih berlinang air mata.
“Rey, antar dia keluar!”
“Baik, tuan.” sekertaris Rey berjalan menuju sofa yang di duduki oleh Vania
“Ef, kenapa kau mengusir ku? aku masih ingin di sini!”
Efbran tidak memperdulikan ucapan wanita itu. ia bahkan tidak menatap wanita itu lagi.
“Ayo nona saya antar keluar!” ucap sekertaris Rey
“Siapa kamu berhak menyuruh ku keluar dari sini” bentak Vania pada sekertaris itu.
sekertaris Rey tidak bergeming wajahnya masih tenang, ia sama sekali tidak terganggu dengan bentakan keras wanita ini
“Saya sekertaris nya tuan Efbran Nona. seharusnya saya yang bertanya pada Anda, bukan kah tadi tuan Efbran sudah menyuruh Anda untuk keluar dari sini!!”
“bagaimana kalau aku tidak mau?!!” Vania menatap sekertaris Rey dengan tatapan tajam nya
“mari saya antar keluar nona!!” sekertaris Rey sudah menahan geramnya dari tadi pada wanita ini, ia bahkan sangat ingin menyeret wanita ini agar bisa keluar dengan cepat dari sini
“Tidakk mau!!!” bentak Vania dengan keras
“Nona, anda jangan menguji kesabaran saya. saya bisa saja menyeret anda untuk keluar dari sini”
“Dasar brengsek, jadi kau mengancam ku sekarang!!”
“lagian sekarang anda bukan siapa-siapa tuan Efbran lagi kan. untuk apa saya menghormati anda.”
Vania meremas sisi sofa yang ia duduki, ia sangat geram mendengar perkataan sekertaris itu.
sekertaris Rey berjalan satu langkah mendekat pada nya. membuat Vania beringsut ke sisi sofa. sekertaris Rey membungkuk kan kepalanya, netra keduanya bertemu. itu berhasil membuat jantung Vania seperti ingin copot apalagi tatapan sekertaris itu sangat tajam dan juga menakutkan
tapi sekertaris Rey lebih memajukan wajahnya hingga mata mereka tidak saling memandang lagi, kini bibir sekertaris itu tepat berada di dekat telinga Vania. sedangkan Efbran ia tidak melihat itu, karena ia sudah memutar kursi nya ke arah belakang untuk melihat memandang kota dari atas gedung tertinggi grafin gruop. tetapi ia hanya diam pandangan kosong ke depan.
“Dengar nona, jangan anda pikir saya tidak mengetahui apa yang telah anda perbuat selama ini di belakang tuan Efbran.” bisik sekertaris Rey pada Vania.
kaki wanita itu seketika bergetar. matanya kembali berkaca-kaca
apa benar sekertaris ini tau segalanya??...
“saya bisa saja mengatakan semuanya pada tuan Efbran. anda tau sendiri kan bagaimana kalau tuan sudah marah, bisa saja kehidupan anda dan keluarga anda tidak akan tenang lagi” ia berbisik tepat di dekat telinga gadis itu. suara yang dingin dan berat membuat
telinga Vania panas. setiap kata-kata yang di keluarkan oleh sekertaris itu benar-benar membuatnya bergidik ngeri.
“Ss..sa.. saya.. bisa ke.. keluar sendiri!” bibir Vania bergetar membuat nya menjadi terbata-bata berbicara. ia keluar meskipun di dalam hatinya ia masih ingin berbicara banyak dengan Efbran, tapi untuk sekarang ia urungkan dulu apalagi setelah mendengar ucapan sekertaris itu. ia butuh waktu untuk berpikir bagaimana mendapatkan Efbran kembali ke pelukannya. sebelum ia benar-benar keluar Vania menatap Efbran yang hanya terlihat kepala bagian belakang nya saja
sekertaris Rey mengantarkan sampai di ambang pintu, setelah itu ia kembali menutup pintu nya. sedangkan Vania ia mencoba menenangkan diri dan pikirannya. ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan pelan
“Tenang Vania. Efbran pasti tidak akan benar-benar meninggalkan mu. dia bahkan sangat mencintaimu, dia pasti hanya emosi sesaat” ucapnya pada dirinya sendiri
Vania kembali berjalan keluar dari gedung yang menjulang tinggi itu. ia berhasil menyembunyikan kegelisahannya yang tadi. bahkan sekarang wajahnya secerah mentari pagi, apalagi saat ia berpapasan dengan para karyawan ia tersenyum manis seperti tidak ada masalah.
tentu saja Vania ingin di anggap sebagai wanita yang pemurah senyum dan Ramah. bahkan tidak sedikit para karyawan Efbran yang suka dengan hubungan tuan nya dengan wanita ini karena di anggap sangat cocok. Vania benar-benar terlihat seperti wanita yang baik, suka menyapa terlebih dahulu. dan tentu nya wajahnya selalu di hiasi dengan senyuman manisnya. jadi tidak heran jika hampir semua orang terpesona dengan sikap hangat nya itu, apalagi wajahnya juga sangat cantik
...----------------...
setelah memikirkan kemana ia akan pergi. akhirnya Vania memilih untuk pergi ke kediaman nya Efbran. ia masih punya harapan dengan memohon pada Dania yaitu ibu nya Efbran. ia berpikir ini lah jalan satu-satunya, ia akan meminta bantuan Dania agar wanita itu nanti yang akan menjelaskan semuanya padanya anaknya. begitu yang sepintas terpikir di kepalanya
Vania sedikit tersenyum. “aku yakin nyonya Dania bisa membantu ku. kalau dia yang berbicara pada Efbran pasti Efbran akan mendengarkan nya.” Vania merasa sangat percaya diri dengan rencana nya ini. apalagi ia dan nyonya Dania sangat lah Akbar. itu dapat di lihat setiap ia berkunjung ke sana wanita paruh baya itu selalu menyambut nya dengan hangat
setelah menempuh perjalanan hampir 40 menit. kini wanita itu sudah berdiri di ambang gerbang utama. ia memencet bel nya, tidak lama dua orang penjaga laki-laki menghampiri nya.
Vania tersenyum melihat nya. membuat dua orang laki-laki itu membungkuk kepala mereka. karena mereka tau betul siapa wanita yang berada di depan mereka ini.
kedua penjaga itu langsung membukakan pintu gerbangnya. “silahkan masuk nona.” ucap mereka sopan
“thank you.” ucapnya, Vania berjalan sampai di depan pintu
sebelum benar-benar masuk ke dalam Vania berdiri di ambang pintu yang sudah di buka oleh petugas di sana
“apa nyonya Dania ada di dalam” tanya nya pada seorang pelayan wanita yang kebetulan tengah membersihkan ruangan utama.
“ada nona. mari saya antar”. Vania mengikuti kemana arah Pelayan wanita itu membawa nya
“Nyonya sedang berada di taman samping rumah nona.
setelah mengelilingi taman yang cukup luas itu, akhirnya Vania melihat Dania yang sedang duduk di kursi taman
“terimakasih, sudah mengantar ku ya” ucapannya sambil tersenyum pada pelayanan wanita itu
“sama-sama nona. kalau begitu saya permisi ke dalam lagi.” Vania mengangguk. ia langsung berjalan menuju kursi yang diduduki oleh Dania
__ADS_1
“Hmm, selamat sore Nyonya” ucapnya, yang kini sudah berdiri di depan Dania
“Ah, Vania. kapan kamu kemari?” Dania sedikit kaget dengan kedatangan Vania secara tiba-tiba
“Baru saja Nyonya. apa saya boleh duduk di sini nyonya?” menunjuk kursi yang masih kosong di samping Dania
“tentu saja, duduk lah”
Vania duduk di samping Dania. ia masih berpikir apa yang harus ia ucapkan terlebih dahulu, ia harus pandai merangkai kata-kata agar terlihat menyakinkan
“nyonya, saya datang ke sini untuk meminta bantuan anda.” mimik wajahnya sudah berubah sedih
Dania mengernyitkan dahinya. “bantuan apa Vani?” tanyanya
“begini nyonya. Efbran marah kepada ku karena aku sempat meminjam uang nya beberapa Waktu yang lalu, dan di saat yang bersamaan sekertaris Rey menuduh ku berselingkuh dengan teman lamaku. bahkan ia sampai memotret ku dan menunjukkan gambar nya pada Efbran. jadinya Efbran salah paham pada ku ia menganggap uang yang selama ini aku pinjam dari nya hanya untuk bersenang-senang semata. padahal itu sama sekali tidak, aku meminjamnya untuk menutupi kerugian perusahaan kami yang di tipu oleh kolega Deddy ku sendiri. tolong bantu aku menjelaskan nya pada Efbran Nyonya! ia menuduh ku berselingkuh dengan laki-laki lain!!” Vania menggenggam tangan wanita yang masih terlihat segar itu, dengan raut wajah yang memohon
Dania terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan Vania. pikiran nya mengingat beberapa hari yang lalu di saat itu suami nya mengatakan bahwa Vania bukanlah wanita yang baik, wijin mengatakan ia sempat beberapa kali melihat wanita ini tengah bersama laki-laki lain dan tentang orang tuanya Vania yang di tipu itu sama sekali tidak benar.
namun yang sebenarnya terjadi tuan Mark lah yang korupsi hingga menyebabkan ia bangkrut karena ulahnya sendiri. dan tentang Poto Vania bersama laki-laki lain itu, Dania juga sudah mengetahuinya dari suaminya dan juga cerita yang sebenarnya terjadi tentang Vania dan Alex begitu juga dengan pertemuan nya dengan James yang tak lain adalah mantan kekasih Vania sendiri. Dania sudah mengetahui semuanya karena sekertaris Rey yang sudah mengatakan semuanya pada wijin Tampa ada yang ia tutupi termasuk hubungan gelap wanita ini dengan Alex
namun di saat itu wijin sengaja mengatakan pada sekertaris Rey untuk tidak mengatakan berita satu ini pada Efbran bisa saja tuan muda itu tidak terkendali lagi jika mengetahui kebusukan wanita nya satu-persatu.
Dania menarik tangannya dari genggaman wanita ini.
“vania, apa kau pikir kau masih pantas berada di sisi putra ku setelah kau melakukan semuanya.” nada bicaranya Dania masih tenang ia sama sekali tidak emosi meskipun ia tau ucapan wanita ini tadi hanya bohong
“Nyonya apa maksud anda??” ia memasang wajah bingung nya
“aku sudah tau semuanya Vania. kau tidak perlu mengarang cerita lagi, Deddy mu sama sekali tidak di tipu kan melainkan ia lah yang korupsi, dan laki-laki yang bersama mu di sebuah klub malam itu adalah mantan kekasih mu sendiri dan di saat itu kau juga terlihat mesra dengan nya. aku juga sudah tau sampai sejauh mana hubungan mu dan Alex terjalin. lalu apa kau masih berpikir aku mau membantu mu, tentu nya seorang ibu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. dan kamu, kamu bukan wanita yang baik untuk anak ku”
kedua netra Vania membuat mendengar nya. “Nyonya itu tidak benar!!! anda harus percaya pada saya itu semua hanyalah berita bohong!!”
“Semuanya sudah jelas. kau lah yang berbohong. Vani lebih baik kau pergi dari kehidupan Efbran sekarang, aku sudah sangat kecewa pada mu ku pikir kau wanita yang sangat tepat untuk berada di sisi putra ku ternyata aku salah. aku hanya melihat wajah bertopeng mu saja ternyata kau wanita bermuka dua.” manis di depan namun busuk di belakang mungkin begitu lah yang tergambar dari sikap asli Vania
“Nyonya saya mohon, tolong dengarkan saya” Vania kembali menggenggam erat tangan Dania kali ini dengan wajah yang berurai air mata
dania menepis kasar tangannya dari genggaman wanita ini. ia sudah cukup bersabar menghadapi nya namun sepertinya wanita ini masih juga tidak mengerti.
“Lebih baik kau pergi dari sini!! aku sudah tidak mau mendengar ucapan bohong mu!!” kali ini Dania berkata dengan suara keras, membuat Vania terlonjak kaget mendengar. jujur saja selama ia mengenal nyonya Ferdinand ini. inilah pertama kalinya ia mendapat perlakuan tidak menyenangkan, biasanya wanita ini selalu bersikap hangat dan tenang saat bersama nya namun kali ini ia benar-benar melihat sikap lain dari dania
“Pergi sekarang!!!” ucap Dania lagi. karena melihat Vania hanya terdiam
“Tapi, nyon....!”
belum sempat Vania melanjutkan kata-katanya, tapi langsung di potong oleh Dania. ia memanggil penjaga yang sedang bertugas menjaga di setiap sudut rumah. yang posisinya tidak jauh dari mereka duduk
karena mendengar suara keras dari nyonya rumah itu, penjaga laki-laki itu langsung berjalan mendekat bahkan dengan sedikit tergesa-gesa.
“Ada apa, Nyonya?”
“bawa wanita ini pergi sekarang juga. dan pastikan antar dia sampai di gerbang masuk!”
“Baik nyonya!”
“Nona Vania ayo saya antar ke luar.” penjaga itu sudah menarik tangan Vania
“Nyonya.... Nyonya Dania.. Anda harus mendengarkan saya..!!”
Dania sama sekali tidak menoleh pada wanita itu lagi. Vania sudah tidak terlihat lagi, hanya ada suaranya yang berteriak.
setelah sampai di gerbang utama. Vania di dorong keluar begitu saja, lalu penjaga itu masuk kembali. sedangkan Vania ia sudah kehabisan akal bagai mana caranya untuk bisa meyakinkan Efbran lagi, Bahkan rencana tadi gagal total
“Aakkkhh, bagaimana ini...?” Teriaknya frustasi.
untuk saat ini ia memilih untuk kembali ke hotel dulu, lagian sekarang juga sudah hampir malam.
...----------------...
Pagi hari. semua orang sudah melakukan aktivitas nya masingmasing, Tampa terkecuali vania juga. hari ini Vania kembali berencana untuk ke kantor Efbran lagi, ia harus kembali memohon pada tuan muda itu
Saat Vania sudah tiba di depan gedung itu, tepat sekali Efbran keluar dari dalam. Vania langsung cepat-cepat turun dari mobil.
baru saja satu hari tidak bertemu membuat Vania sangat merindukannya. ia bahkan tidak sabar ingin bertemu dengan Efbran, apalagi laki-laki itu memakai kacamata hitam dan jas kantoran yang membuatnya dua kali lipat lebih Tampan
“Ef!” wajah Vania sudah berbinar senang melihat Efbran berjalan mendekat
tapi bukannya berhenti, Efbran malah melewati nya begitu saja seperti tidak ada siapa-siapa di depan nya. ia terus berjalan sampai masuk ke dalam mobil
Vania berjalan mengikuti nya ke arah mobil
“Efbran..!!” seru nya nyaring
tapi belum sempat ia menyusul sampai ke mobil tangannya sudah di tahan oleh sekertaris Rey
__ADS_1
“anda mau kemana nona??”
“lepas aku!!” bentak Vania
“untuk apalagi anda kemari? lebih baik anda pergi dari kehidupan tuan efbran.”
“aku tidak akan menyerah begitu saja. aku pasti akan mendapatkan Efbran kembali!!”
“sangat percaya diri sekali anda ya. apa anda tidak lihat barusan jangan kan tuan Efbran melirik anda melihat anda saja tidak kan!”
“Kurang ngajar, jadi ini sikap asli mu pada ku?!
dasar, mentang-mentang aku dan Efbran sedang tidak baikan kau bisa seenaknya pada ku. lihat saja kalau suatu hari nanti aku bisa mendapatkan Efbran kembali akan aku pasti kau akan di tendang dari sisi nya”
“dari mana datangnya kepercayaan diri mu itu Nona. apa anda yakin kalau saya yang akan di tendang oleh tuan Efbran. bagaimana kalau itu anda! apa anda tidak berpikir bagaimana kalau anda benar-benar akan kehilangan tuan Efbran saya tidak yakin anda bisa makan dengan enak dan hidup dengan tenang ”
“Kauu....!!” tangan Vania sudah terangkat ingin menampar pipi sekertaris Rey. tapi sayang nya tangan nya lebih dulu di tangkap oleh sekertaris itu
“jaga tangan anda ini nona, saya bisa saja mematahkan nya!!” ucapan sekertaris Rey di iringi seringai dingin nya
membuat bulu kuduk Vania berdiri, dia tau betul sekertaris ini memang tidak pernah main-main kalau sudah berbicara. bisa-bisa ia benar-benar akan mematahkan tangannya
“lepaskan, aku!!” Vania masih mencoba menarik kuat tangannya.
karena ini jam istirahat kantor banyak para karyawan yang keluar dari kantor hanya untuk sekedar mencari makan siang di luar.
para karyawan bergerombolan di luar pintu masuk gedung itu. ada kejadian apa pikir mereka. apalagi saat melihat sekertaris Rey mencengkram kuat pergelangan tangan Vania. membuat gadis itu meringis menahan sakit
sekertaris Rey bisa di bilang orang yang paling di takuni para karyawan di sini. sedikit saja mereka melakukan kesalahan pasti akan mendapatkan ganjaran nya
mereka semua masih bergerombolan bahkan sekarang semakin bertambah banyak. seperti sedang mendapat sebuah tontonan yang sangat sayang kalau mereka lewatkan
“apa yang terjadi ya, seperti nya sekertaris Rey sangat marah pada nona Vania?”
“entahlah aku juga tidak tau?”
“ada apa sebenarnya ya?”
ucap para karyawan yang menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Tampa ingin ikut campur mereka semua hanya berdiam diri.
“Lepassss... kan aku sekertaris sialan!!!”
“nona saya sarankan kepada anda lebih baik sekarang anda pulang ke negara anda. anda benar-benar tidak di butuhkan lagi di sini, dan jangan pernah mempengaruhi Nyonya lagi untuk bisa membantu anda”
sekertaris Rey melepaskan cengkraman tangannya. Vania langsung menyentuh pergelangan tangannya yang terasa sangat sakit
“lalu bagaimana dengan Efbran??”
“nona, sudah berapa kali saya bilang tuan Efbran tidak menginginkan anda lagi. lagi pula tuan Efbran juga tidak akan rugi kehilangan anda. melainkan anda lah yang tidak akan mendapatkan uang dari nya lagi”
wanita itu menitikkan air matanya. kali ini kepercayaan diri nya mulai berkurang, apa mungkin Efbran benar-benar tidak menginginkan nya lagi.
“kalau anda ingin hidup tenang pergilah dari kehidupan tuan Efbran, pergi sejauh yang anda bisa”
mendengar perkataan sekertaris Rey tubuh Vania mendadak kaku, bibirnya juga bergetar menahan sesak
sekertaris Rey mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya.“ini cek uang untuk anda nona. tuan Efbran yang menyuruh saya memberikan nya pada anda anggap saja itu sebagai donasi dari nya. uang di dalam sini cukup untuk anda hidup satu tahun ke depan. dan tentang uang yang pernah anda pinjam, anda tidak perlu membayar nya lagi jika anda benar-benar pergi dari kehidupan tuan Efbran”
“jadi sekarang kau ingin menghina ku. aku masih memiliki uang yang cukup untuk ku”
“tidak sama sekali Nona. mungkin ini bentuk perduli nya tuan Efbran kepada anda, dan mungkin juga ini untuk yang terakhir kalinya tuan Efbran perduli kepada anda ”
sebenarnya ia memang sangat membutuhkan uang itu. jika ia benar-benar sudah berakhir dengan Efbran maka benar perkataan sekertaris Rey tadi. bisa-bisa ia memang tidak akan makan dengan enak dan tidur dengan nyaman, terutama untuk Deddy nya. mungkin saja Deddy nya akan sangat marah pada nya jika mengetahui ia dengan Efbran sudah tidak berpacaran lagi.
tapi tingkat harga diri nya terlalu tinggi. hingga Vania menepis tangan sekertaris itu, dan mengakibatkan cek itu jatuh begitu saja.
“aku tidak membutuhkan itu.”
“terserah anda nona, sepertinya saya hanya akan membuang-buang banyak waktu jika hanya untuk berbicara dengan Anda di sini.” sekertaris Rey sudah berjalan beberapa langkah. namun ia kembali lagi. “oh iya nona saya lupa, ini tiket untuk anda kembali ke negara XXX. kalau anda tidak berangkat siang ini juga maka, uang yang anda pinjam harus segera di kembalikan. atau kami juga bisa melapor masalah ini kepada pihak yang berwajib atas dasar penipuan yang anda lakukan”
Vania tidak memperdulikan nya. ia bahkan tidak ingin memandang sekertaris itu lagi. lama tangan sekertaris tergantung di udara, hingga akhirnya vania kembali menepis tangan itu. membuat tiket nya jatuh begitu saja.
sekertaris Rey tidak memperdulikan nya lagi. ia sudah berjalan menuju mobil nya.
“lama sekali!! apa-apa saja yang kau bicarakan padanya”
“maaf tuan. membuat anda menunggu lama” sekertaris Rey menghidupkan mesin mobil nya.
setelah mobil itu tidak terlihat lagi. Vania akhirnya berjongkok memungut cek dan tiket pesawat nya. meskipun ia di buat malu karena di tonton oleh banyak karyawan. namun ia sudah tidak memiliki pilihan lagi setidaknya jika ia sudah tidak bisa mendapatkan uang dari Efbran maka cek ini lah yang sangat ia butuhkan nanti nya.
Vania berjalan keluar dari halaman gedung itu air matanya masih saja jatuh. ia menatap jalanan yang kosong
“Ef, aku tidak akan menyerah begitu saja. mungkin sekarang aku memang kalah tapi akan ku pastikan suatu hari nanti aku akan kembali mendapatkan mu. jika aku tidak bisa mendapatkan mu maka tidak ada satu perempuan pun yang boleh bersama mu”
__ADS_1
BERSAMBUNG.......