
Sepertinya orang yang sedang mengemudi di depan itu sudah terbiasa dengan keadaan ini. ia mengabaikan semua nya, seperti tidak terjadi apa-apa. tampa memperdulikan apa yang sedang terjadi di kursi belakang.
“Emm sayang.” Vania mengerang, apalagi saat Efbran menelusuri lehernya. kini ciuman itu berpindah ke bibir, Vania menyentuh kelapa Efbran dan meremas rambutnya.
Trett.. Tret..
tiba-tiba beberapa pesan masuk lagi di hp nya. itu berhasil menghentikan kegiatan mereka. “Sebentar sayang.” Vania mengambil tasnya dan mencari di mana asal suara itu.
sebenarnya ia malas sekali mengeceknya, karena sudah tau pesan itu dari siapa. tapi dari pada ia terus-menerus mendapatkan kiriman pesan yang selalu saja menggangunya, lebih baik ia harus segera mengakhiri ini pikirnya.
Vania, ayolah kau mau menyuruh Deddy menunggu mu berapa lama lagi? apa sampai Dedy di seret oleh polisi. dengar Vania, kalau sampai publik tau masalah ini, tidak hanya Deddy yang di rugikan. tapi juga kamu, karier mu pasti akan ikut terancam. isi pesan yang Vania terima
dia berpikir, setelah tau apa yang ingin ia tulis. ia segera mengarahkan jari lentiknya di layar hpnya.
Deddy, aku tau. aku juga harus berpikir bagai mana caranya merayu Efbran dulu? klik pesan pertama terkirim
dedyd tau kan, ini bukan kali pertamanya aku berbohong padanya hanya gara-gara Deddy. aku tau apa yang harus aku lakukan sekarang, jadi Deddy bersabar lah dulu. Klik pesan kedua terkirim
“Siapa?” tanya Efbran karena melihat pacarnya itu sedang serius me otak-atik hpnya.
“Bukan siapa-siapa sayang, hanya teman ku saja yang iseng mengirimi pesan. sepertinya mereka tidak tau kalau aku sekarang berada di negara AA.”
Vania sedang berpikir, apa yang akan ia lakukan sekarang. tiba-tiba ia menggenggam tangan Efbran.
“Sayang!” raut wajahnya sudah berubah, yang tadi nya secerah matahari pagi kini sudah berganti seperti awan yang sedang mendung.
“Ada apa?” tangannya mengangkat dagu Vania ke atas
“Kau tau kan, kalau selama ini aku hanya memiliki seorang Deddy yang selalu menemani ku.”
“Hmm, lalu kenapa?” tangannya mengelus kepala Vania
“Deddy di tipu oleh koleganya sendiri. mereka membawa kabur semua uang perusahaan, dan menuduh Deddy sebagai pelaku utamanya.” ucap nya lirih.
“Sayang, kau bisa membantu kami kan? cuma kamu orang satu-satu yang bisa ku harapkan!” dia menunduk kepalanya. “kau tau kan, kalau kakak laki-laki ku zigo baru saja menikah. mana mungkin kami bisa meminta bantuan kepadanya, dia juga baru memulai bisnisnya. sedangkan kakak ku yang satunya sudah lama kami putus Komunikasi, sejak Deddy dan mommy bercerai. pasti mereka juga tidak akan perduli lagi dengan keluarga kami. kalau hanya mengandalkan gajih adik ku Stephen tidak akan cukup untuk membayar semuanya kerugian itu, dan membersihkan nama Deddy sebagai pelaku yang di tuduh.”
Vania mengembuskan napasnya pelan, setelah panjang lebar ia berbicara. dia memang sudah menyusun kata-kata di dalam pikirannya sejak tadi, agar semua yang ia ucapkan sesuai ekspektasi dan tidak menimbulkan kecurigaan. dia tau ini bukan pertama kalinya ia meminta tolong dengan alasan Deddy nya. jadi dia harus berhati-hati dalam berkata.
“Kenapa Deddy mu bisa di tipu lagi? apakah seceroboh itu bisa di tipu berulang-kali?”
__ADS_1
“Aku juga tidak tau, seperti nya Deddy memang tidak memiliki keahlian dalam bidang bisnis.”
dan lagi-lagi orang yang ada di kursi depan itu hanya duduk diam sambil mengemudi, tampa mau ikut campur dengan urusan dua orang di kursi belakang. dia hanya diam tampa menguarkan suara sedikitpun, mungkin dua orang ini juga tidak menyadari lagi jika masih ada satu manusia di dalam mobil ini selain mereka berdua.
“Sayang, kau bisa membantu kami kan? aku janji akan mengganti uang mu setelah perusahaan Deddy kembali normal.”
matanya sudah berkaca-kaca, tidak lama air bening sudah membasahi pipinya. dia tau ini adalah senjata paling ampuh agar orang di depan nya ini bisa kasihan padanya.
karena Efbran adalah tipikal orang yang tidak tahan melihat seorang wanita menangis di depan nya, apalagi kalau itu dirinya pikirnya. dia sesenggukan air matanya masih membanjiri pipinya.
“Baiklah, aku akan membantu Deddy mu. jangan seperti ini!” tangannya menyentuh pipi Vania dan membersihkan sisa air mata, lalu Efbran mengangkat dagu Vani ke atas. Cup dia mencium bibir itu lagi
“Tidak usah sampai menangis begini juga!”
Dia menenangkan Vania dalam pelukannya.
Hha kena kau, aku tau kau pasti tidak akan membiarkan ku menangis sambil memohon pada mu kan. dia tersenyum smirk, lalu memeluk pinggang Efbran
“Kau butuh uang berapa? Rey akan mengurus nya nanti.” tangan nya masih mengelus kepala Vania.
“Tidak banyak sayang, hanya 28 miliar. uang itu kami gunakan untuk membayar semua kerugian.”
“Iya tuan. anda tentang saja nona saya akan mengurus nya setelah ini.”
“Terimakasih, sekretaris Rey.” Senyum di wajahnya sudah mengembang sekarang, ia merasa menang karena sudah berhasil merayu pacar nya. bahkan hanya dalam hitungan menit
Mobil memasuki parkiran, sekretaris Rey keluar membukakan pintu mobil untuk tuan nya.
Vania dan Efbran sudah berjalan lebih dulu, sekretarisnya mengikuti mereka dari bekang
“Hm sayang, ternyata baru delapan bulan aku tidak ke sini sudah banyak yang berubah ya?” sambil tangannya meraih tangan Efbran
“Selamat siang tuan.” sapa para staff wanita yang berpapasan dengannya
Vania semakin mempererat gandengan tangannya, kepalanya ia sandarkan di bahu Efbran. ia sengaja melakukannya
Staff wanita yang menyapa Efbran tadi, menundukkan kepalanya saat pandangan nya bertemu dengan vania.
mereka memasuki lift, setelah beberapa menit pintu lift pun terbuka. mereka sudah berada di lantai tertinggi gedung, Efbran berjalan ke meja kerjanya sedang kan Vania masih mengamati ruangan itu yang sudah banyak berubah, baik dari desain interior ruangannya yang terlihat semakin mewah
__ADS_1
“Sayang, apa pekerjaan mu masih banyak? aku pijat ya!” tangannya sudah berada di bahu Efbran dan mulai memijat nya.
Efbran meraih tangan itu dan mencium nya. “Apa kau tidak lelah? istirahat lah dulu!” menunjuk sofa yang ada di sudut ruangan.
“Aku tidak lelah.” tangannya masih memijat
tidak lama sekretaris Rey masuk. “Saya sudah mentransfer uang nya ke rekening anda nona.”
“Terimakasih, sekretaris Rey.” sambil tersenyum tipis
“Sama-sama nona.” dia kembali ke meja kerjanya yang berada di sebelah kiri meja Efbran.
tiba-tiba hp yang berada di dalam tas Vania kembali berdering. dia mengambil tas nya, dan mencari asal suara itu, setelah ia menemukan nya tertulis nama Deddy di layar hp nya.
"Sebentar ya sayang, aku mengangkat nelpon nya dulu."
“Hmm, baiklah.” matanya kembali melihat layar monitor
“Aku mengangkat nya di sana saja ya, aku tidak ingin menganggu kalian.” menunjuk balkon. Efbran hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.
setelah sampai di balkon, ia menekan tombol hijau nya.
“Iya Ded, ada apa?”
bagaimana, kau sudah membicarakannya pada tuan Efbran.
“Hem, tenang saja. Deddy tidak perlu khawatir," dia tersenyum smirk.” uang itu sudah di tangan ku,"
Hahaha, kerja bagus Vania.
“Aku akan langsung mengirimkan uang ini pada Deddy. tapi Dedy harus ingat, aku mau ini permintaan terakhir Deddy pada ku! aku tidak ingin terlibat apa pun lagi. aku takut kalau Efbran curiga padaku apalagi alasan ku selalu tentang perusahaan Deddy!”
Vania, Vania! bukankah kau mengatakan kalau tuan Efbran itu tergila-gila pada mu, jadi untuk apa kau takut. lagi pula percuma saja kau punya pacar seorang CEO kaya-raya kalau tidak bisa menikmati kekayaannya.
lagi pula uang yang kau dapatkan itu tidak ada nilai nya Juga di mata tuan Efbran, mungkin uangnya juga tidak akan terlihat berkurang.
“Aku tau itu, tapi bukankah Deddy selama ini memang hidup dengan menikmati kekayaan Efbran! seharusnya Deddy dulu tidak mengkhianati tuan Harris, dan tidak mengambil alih perusahaan nya. pasti dia akan mengajari Deddy tentang bagai mana mengelola perusahaan, dan tidak akan bangkrut terus-terusan seperti sekarang!”
dengar Vania! kalau aku dulu tidak mengkhianatinya, mana mungkin kau bisa hidup enak sampai sekarang. bahkan mungkin tuan Efbran juga tidak akan tertarik pada mu karena kau jelek dan miskin.
__ADS_1
BERSAMBUNG......