
di negara yang sama. namun di kota yang berbeda, Vania malam ini sedang berada di sebuah klub malam. ini adalah kebiasaannya yang jarang diketahui semua orang.
ia sedang menikmati minuman nya bersama dua temannya.
“Cheers!” ucap mereka bersama sambil bersulang mendentingkan gelas. lalu meminumnya
“Van, enak sekali ya jadi kamu. aku jadi iri!” ucap Kalia teman nya
“Iya Van. aku juga iri, aku melihat postingan foto-foto mu di Instagram. semua yang kau miliki terlihat sangat mewah,” ucap salah satu teman nya lagi.
Vania tersenyum. “ Ya, itu di karenakan pacarku selalu memanjakan ku. bahkan dia selalu menuruti apapun yang aku inginkan,”
“Kalau aku ya, yang jadi kamu Van. aku gak bakal ngelirik cowok lain!”
“Kenalkan kami dong Van. sama teman-teman nya tuan Efbran!” ucap lety
“Iya Van. kan masih ada yang jomblo. ku dengar juga tuan David baru saja putus dari pacarnya, dia kan tidak kalah keren juga dari tuan Efbran,”
“Kalian harus bisa membuat mereka jatuh cinta duluan lah. seperti aku. bahkan tuan Efbran tergila-gila pada ku!” ucap Vania dengan menyombongkan diri.
ketika sedang asyik mengobrol dengan teman-teman nya. tiba-tiba satu tangan melingkar di pinggang Vania. ia kaget dan langsung menoleh. setelah menoleh dan melihat siapa yang ada di depan nya sekarang ia tambah kaget lagi. Alex berdiri di samping nya dengan tersenyum pada Vania
Vania langsung menepis tangan itu.
“Kau! beraninya menyentuh ku. untuk apa kau disini?!”
“Bukanya ini tempat umum, jadi siapa saja boleh ke sini kan. lagi pula aku sudah lama tidak datang ke sini,”
Alex mendekat pada Vania. “Temani aku malam ini!” bisik nya di dekat telinga Vania
“what if i don't want to?” [bagaimana jika saya tidak mau?]. ucap Vania dengan menatap balik Alex. dengan tatapan tajam nya
sejak kapan dia pulang dari negara AA.
“Vania apa kau tidak pernah penasaran dengan perjanjian yang ku buat dengan Dedy mu?” ucap Alex dengan tersenyum menyeringai.
“Heh, apa urusannya dengan ku. yang membuat perjanjian itu kan kau dengan Dedy ku. aku tidak terlibat apapun.”
“Kau memang tidak terlibat. tapi Dedy mu yang melibatkan kan mu,”
Alex berjalan meninggalkan Vania. senyum di bibir nya masih terlihat
“What do you mean, Alex?” [apa maksudmu, Alex?. ucapnya dengan setengah berteriak
Vania berjalan mengejar Alex
“Vani, mau kemana?” ucap lety. tapi Vania tidak menanggapinya ia terus berjalan mengejar Alex
“Apa yang terjadi?” Lety dan Kalia saling bertatapan
Kalia mengangkat bahunya. tanda ia juga tidak tau
__ADS_1
“Alex!”
Vania sudah berdiri di hadapan Alex sekarang.
“Kenapa? mau menemani ku minum malam ini?” tangannya menyentuh dagu Vania.
“Sudah berapa kali aku tegaskan, jangan menyentuh aku! atau aku bisa mengadukan mu pada Efbran!!”
“Dengar Vania Efbran hanya pacarmu tidak lebih dari itu. kau juga menyukai nya karena dia kaya kan?”
“Itu tidak penting sekarang. aku hanya ingin tahu apa maksud mu! kenapa aku terlambat dalam perjanjian itu?”
“Vania! Vania. apa Dedy mu tidak pernah mengatakan nya pada mu?”
“Aku ingin kau jelaskan! jangan kembali bertanya pada ku!”
Alex mendekat kan bibir nya di telinga Vania
“Deddy mu berjanji padaku. kalau aku bisa mencuri data perusahaan milik tuan Efbran, ia akan memberikan mu pada ku!” Alex tersebut smirk
“Tidak mungkin! Deddy tidak mungkin melakukan itu?!”
“Kalau kau tidak percaya tanya kan saja langsung pada Deddy mu! dan apa kau juga tau, kalau data itu sudah bocor di tanganku?”
“Kau!” tangan vania sudah terangkat ingin menampar Alex. tapi secepat kilat Alex menangkap tangan itu.
“Lepas kan aku!!"
sekuat tenaga Vania memberontak
“Hey, Alex sejak kapan pulang dari luar negeri?” ucap seorang wanita dari arah belakang. Alex menoleh dan langsung melepaskan tangan vania
Gladys tersenyum ramah pada mereka
“Hey, Gla aku baru pulang kemarin.” jawab Alex
tatapan Gladys tertuju pada Vania.
“Vania sudah lama ya kita tidak bertemu?”
“Ah, iya Gla. kapan kau pulang dari luar kota?”
“Sudah hampir satu Minggu aku berada di kota ini. aku berniat untuk tinggal di sini lagi.”
“Wah, benarkah?” ucap Vania pura-pura antusias
Vania menatap Alex dan Gladys secara bergantian.
aku punya ide sekarang. kalau Alex bisa menjebak ku dengan perjanjiannya itu, maka aku akan lebih dulu mempermalukan nya. aku akan menjebak nya dengan Gladys malam ini. toh mereka juga pernah berpacaran dulu, ya meskipun sekarang sudah tidak lagi. aku akan merekam mereka, dan itu akan menjadi senjata untuk membungkam mulut Alex. Vania sambil tersenyum smirk membayangkan rencana yang akan ia lakukan.
“Hmm Gla, kita kan sudah lama tidak bertemu bagaimana kalau malam ini kita minum bersama? lagian kau dan Alex kan juga sudah lama tidak bertemu?”
__ADS_1
“Boleh juga, bagaimana kalau kita duduk di sana!”
mereka berdua berjalan menuju meja yang masih kosong. Alex mengikuti mereka dari belakang
saat mereka sudah duduk di meja. Vania menawarkan diri untuk memesankan minuman
ia berjalan ke belakang. sedangkan Alex dan Gladys masih mengobrol
Vania menghampiri teman-temannya yang tadi. ia berbisik di telinga lety
“Untuk apa?” kata lety
“Sudah jangan banyak tanya, berikan obatnya pada ku!”
Vania tidak menyadari kalau seseorang sedang memperhatikan mereka
setelah mendapatkan apa yang ia inginkan Vania kembali ke tempatnya. kini tiga kelas minuman sudah berada di hadapannya sebelum ia membawa nya ke depan. Vania memasukan obat per**sang ke dua gelas minuman itu.
Setelah sampai di mejanya. Vania memberikan minuman itu untuk Alex dan Gladys, dan satu untuk nya. tentu saja minumannya Tampa obat apapun
“Ayo di minum!”
tring.... satu pesan masuk ke hp nya Alex
tuan. minuman yang ada di depan tuan dan nona Gladys itu sudah di campur obat perangsang oleh nona Vania.
setelah membaca pesan itu Alex menoleh menatap anak buahnya. ia tersenyum
hp Vania di dalam tas nya berdering.
“Aku angkat telpon dulu ya sebenarnya.” Vania berjalan sedikit menjauh dari kursi yang ia duduki
“Hmm, Gla apa bisa kau ambilkan tisu yang ada di meja belakang mu itu?” pinta Alex
“Oh, sebentar ya,”
Gladys berjalan untuk mengambil kan tisu itu. tidak butuh waktu lama Alex menukar minuman Gladys dengan minuman milik Vania.
aku tau apa maksudmu sekarang, ternyata kau ingin menjebak ku. tapi sayang nya kau tidak cukup pintar untuk itu.
Alex menatap punggung Vania yang masih menelpon
“Ini tisu nya,”
“Thanks, gla.”
“Yasudah ayo kita minum!” ucap Vania ia sudah kembali duduk.
mereka mengangkat gelas lalu mendentingkan nya. Vania menatap Alex yang sudah meneguk minumannya.
“kena kau sekarang”
__ADS_1
BERSAMBUNG*..........