Mengejar Cinta Wanita Arogan

Mengejar Cinta Wanita Arogan
33. Halusinasi Vania


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. malam ini Vania sedang berada di sebuah bar, sudah cukup lama ia tidak datang ke sini setelah terakhir kalinya ia bermasalah dengan Alex.


tapi malam ini kepalanya terasa sangat berat. bahkan air matanya pun tak mampu lagi mengutarakan nya. sebelum kemari ia bertengkar hebat dengan Deddy nya. bisa-bisanya Deddy benar-benar menjadikan nya bahan taruhannya dengan Alex. bahkan ia sudah memperotesnya dengan Deddy nya, tapi Mark malah mengatakan bahwa ini hanya sementara saja, karena hanya Vania lah satu-satunya umpan yang bisa membuat Alex tunduk dan mau mengikuti keinginannya


Vania ada yang tahan jika tinggal satu rumah dengan Deddy nya, jadi pantas saja jika kakak-kakaknya tidak ingin kembali lagi pada Deddy nya


tapi lebih hancur lagi saat mengingat bahwa kini dirinya tidak suci lagi. ketakutan nya jika Efbran mengetahui semua ini semakin menghantui pikiran nya. sudah beberapa kali ia menelpon nomor itu tapi selalu tidak aktif. bahkan ia sudah kehabisan akal untuk bisa menghubungi Efbran, air matanya pun tidak bisa ia tahan lagi. jantungnya pun ikut berdetak dengan kencang rasa takut untuk kehilangan Efbran jauh lebih besar dari pada masalahnya dengan Deddy nya. sudah beberapa hari ini ia tidak keluar kamar, bahkan untuk makan pun para pelayan yang membawakan nya ke kamar


dan sampai malam ini Vania tidak mampu lagi untuk menahan semuanya. ia benar-benar pergi ke bar berniat untuk menghilangkan rasa stress nya sejenak. sudah beberapa gelas ia habiskan, tapi Vania masih sadar


“Tambah lagi” Vania meletakkan gelas ke empatnya. tapi ia kembali mengisi gelas ke lima dan meminumnya sampai tandas. tidak perduli sudah semabuk apa dia sekarang. yang ada di dalam pikirannya hanya minum dan minum


di sisi sebelah sana ia samar-samar melihat seorang laki-laki sedang tersenyum pada nya


“James!” gumam nya pelan. tapi ia menggeleng kan kepalanya mencoba menghilangkan rasa pusing nya yang memulai menjalar ke seisi kepalanya. ia kembali menatap laki-laki itu, tapi kali ini yang ia lihat Efbran sedang berdiri di sebelah sana sambil tersenyum dan tangan nya mengisyaratkan agar Vania mendekat pada nya.


gadis itu menurut, yang ia lihat di hadapannya hanyalah Efbran. tapi ia juga tidak percaya bahwa Efbran benar-benar akan menyusul nya. mungkin ini alasan kenapa pacarnya itu susah untuk di hubungi. ternyata dia diam-diam memberi ku surprise dengan sengaja tidak memberi tahu ku untuk datang kemari. pikir Vania gembira


tapi sepintas pikirannya mengingat dari mana Efbran tahu ia ada di sini. setahunya laki-laki itu tidak suka dengan tempat berbau alkohol seperti ini. tapi secepat kilat ia mengubah pikiran, mungkin saja itu bisa terjadi karena Efbran sedang memberi kejutan padanya


“Sayang” Vania langsung mendekap tubuh pria itu kedalam pelukannya


“Aku merindukan mu” ia bahkan membenamkan wajahnya di dada pria itu


“Hey, Vani. kau kenapa?” pria itu melepaskan pelukan Vania pada dirinya.

__ADS_1


Vania mendongakkan wajahnya ke atas melihat wajah pria yang lebih tinggi dari nya, masih sama yang ia lihat hanyalah Efbran. tapi jelas-jelas yang ia dengar bukan seperti suara Efbran. Vania kembali memejamkan matanya sambil tangannya menepuk pelan kepala nya


“Vania kau kenapa? aku James! apa kau masih ingat?”


Vania kembali membuka matanya, sekarang yang ia lihat benar-benar James. seketika raut wajahnya berubah, terbang sudah hayalan nya tadi


ternyata bukan Efbran ya. apa aku tadi hanya berhalusinasi?


“Vania!” laki-laki itu menyadarkan Vania dari lamunannya


“Hmm, James. sorry aku pikir kau pria ku tadi, tapi ternyata aku hanya berhalusinasi!” sedikit tersenyum namun terlihat menyediakan


“No problem! lalu apa kau hanya sendiri ke sini?”


“Ya, seperti yang kau lihat”


“Aku dan dia tinggal beda negara. jadi kami sangat jarang bertemu”


“Apa itu alasan mu berhalusinasi tadi. rindu dengan pacar mu?”


“ya, sedikit ada masalah dengan kami. jadi aku hanya ingin menghibur diri ke sini ”


“semua orang selalu mengatakan begitu. tapi aku tidak yakin kau datang ke sini hanya karena ingin menghibur diri. aku kenal dengan mu tidak hanya setahun dua tahun vani, tapi sejak kita masih kecil. jadi aku tahu semuanya tentang mu”


Vania masih diam tidak ingin menjawab

__ADS_1


“Aku juga hapal semuanya sikap mu. kau pasti sedang ada masalah kan, yang pastinya bukan masalah sepele?”


“jangan bahas apapun sekarang Jams, aku datang ke sini ingin melupakan semua masalah ku. bukan mengungkitnya kembali”


Vania berjalan menuju kursi dan ia duduk di sana. James juga ikut duduk sana, tapi sebelum itu tidak lupa ia memesan dua gelas wine


“Tidak apa kalau kau tidak ingin bercerita aku paham. bagaimana kalau aku membantu menghilangkan rasa sedih mu”


pesanan James sudah terhidang di depan mata mereka. James memberikan satu gelas wine itu pada Vania, Vania mengambil nya dan meminumnya sampai tandas. James tergelak melihat itu, ternyata Vania tidak berubah pikir nya masih sama seperti dulu. selalu menumpahkan kekesalan nya dengan minum. tak mau kalah James juga menghabiskan minuman nya dalam sekali teguk


“Tambah lagi!” ucap Vania sambil tersenyum. tampaknya wanita itu sudah terlihat kehilangan kesadaran dan mulai melupakan masalah nya satu persatu


mereka berdua kembali meminum. entah sudah berapa gelas yang mereka minum, tapi yang jelas, gelas itu berjejer di atas meja


Vania tidak tahan lagi menumpang berat tubuhnya, ia bahkan sekarang bersandar di dada bidang pria itu sambil sesekali menciumi bau parfum pria itu. sangat wangi, kedua nya benar-benar mabuk


bahkan James juga ikut memeluk Vania yang sedang bersandar padanya. “Aku merindukan kau yang dulu Vani” racau nya tak sadar


“Aku juga merindukan mu ef.” bahkan kini Vania kembali berhalusinasi


“Aku sangat mencintaimu” ia berkata tepat di dekat telinga laki-laki itu


Vania mendongakkan kepalanya. ia benar-benar melihat Efbran yang sedang memeluknya. mereka berdua saling bertatapan, tapi dengan penglihatan yang lain. sedangkan James, ia tidak berhalusinasi yang ia lihat hanyalah Vania, wanita yang pernah ia cintai di masa lalu


tatapan keduanya semakin dalam, bahkan kini hembusan napas mereka saja sampai di rasakan oleh masing-masing.

__ADS_1


“Cupp..” mereka benar-benar saling berciuman. entah setan apa yang merasuki keduanya, yang jelas ciuman itu semakin panas. bahkan kini Vania masih berpikir bahwa laki-laki yang menciumnya ini adalah Efbran.


BERSAMBUNG......


__ADS_2