
Sudah Lima hari kami di sini, semua sudah membaur saling tolong menolong.
Keadaan saat ini, mareka sedikit demi sedikit sudah mulai menerima semua cobaan ini.
Anak - anak yang tadinya sangat takut, berangsur - angsur mulai bisa tertawa, dan mulai bermain dengan kawan - kawannya.
Kami dari tim Relawan di bantu masyarakat sekitar, kami mulai mengajar membaca, menulis untuk anak - anak usia sekolah, dikarenakan sekolahnya hancur akibat gempa.
Terpaksa mareka belajar seadanya, kalau malam kami juga mengaja mengaji, di bantu sama pak ustadz yang ada di tempat pengungsian ini.
Setiap sore saya dan tim dari LSM mulai main bola dengan anak - anak, terlihat dari wajah mareka sangat gembira.
kami juga merasa senang melihat tawa mareka seakan - akan derita yang mareka alami sudah sedikit sirna.
Kami juga maklum untuk memulihkan kondisi seperti semula, itu butuh waktu yang panjang tetapi kami berusaha sedikit menghibur menghilangkan luka yang mareka derita akibat Gempa Bumi dan Tsunami.
", Ren.... ", sapa Pak Iwan.
", Iya Pak ", jawabku.
Besok pagi kita ke desa Lhong, itu dampaknya juga sangat parah, kemungkinan masih ada Mayat - mayat yang tersisa, kita gerak cepat ya.
Tolong kamu kasih tahu ke yang lain bahwa besok pagi kita berangkat ke desa Lhong ", kata Pak Iwan.
", Baik Pak !!", saya akan memberitahukan kepada Tim.
", Baiklah kalau begitu saya mau pergi dulu mau ketemu Pak Keuchik atau Kepala Desa untuk memberitahukan tentang hal ini ", kata Pak Iwan. ", Baik Pak ", jawabku mengakhiri .
Setelah berbincang dengan Pak Iwan, aku langsung memberitahukan kepada Yunus dan juga Mas - Mas dari LSM, mareka semua sangat antusias dan siap langsung ke daerah Lhong.
Setelah memberitahukan kepada semuanya, akupun kemudian pergi ke dapur umum untuk membantu Ibu - ibu yang sedang memasak untuk makan malam.
Sesudah itu akupun kemudian pamit untuk sholat Maghrib.
Sesudah mengajar anak - anak mengaji, akupun pergi ke tenda untuk istirahat.
Pagipun tiba, kami semua sudah siap, begitu mobil Tentara sampai kamipun langsung berangkat ke daerah Lhong bersama dengan beberapa bapak - bapak dari TNI.
Sampai didaerah Lhong, kami turun dari mobil, bau amis begitu menyengat hidung, sepertinya masih ada beberapa mayat yang belum di kuburkan.
Kami langsung mencari di kerentuhan rumah dan toko, ternyata memang benar ada empat korban, kami langsung mengangkat reruntuhan dengan di bantu alat - alat berat dari Bapak TNI.
Setelah memakan waktu setengah jam, kami langsung mengangkat Jenazah itu yang sudah sedikit hancur akibat Gempa dan Tsunami, kami langsung membawa Mayat - mayat yang tidak beraturan lagi untuk segera di kuburkan.
__ADS_1
Setelah semua di bersihkan, dengan di bantu Masyarakat sekitar juga TNI kami semua berhasil membersihkan daerah LHONG.
Dan juga berhasil membangun tenda untuk Pengungsi yang ada di daerah Lhong.
Setelah semuanya selesai di daerah Lhong kamipun kembali ke daerah Lhok Nga karena waktu sudah mau Mahgrib.
Aku dan teman - teman langsung pergi mandi sesudah itu melaksanakan Sholat Mahgrib berjamaah, baru kemudian pergi ke dapur untuk makan malam.
Tak terasa kami sudah lima hari berada di LHOK NGA.
Sudah saatnya kami kembali ke daerah LAMPUUK.
Semua yang runtuh - runtuh disini sudah kami bersihkan, Meunasah atau Musholla sudah kami dirikan.
Sekolah terbuka sudah kami buka buat anak - anak sekolah karena sekolah mareka sudah rata dengan tanah, kami dirikan sebuah tenda untuk sekolah di bantu Ibu - ibu yang pernah mengajar.
Juga di bantu gadis - gadis usia remaja dalam membantu adek - adek dalam belajar.
Kami membangun Sebuah Bale untuk tempat Mengaji, semua di kerjakan dengan Gotong Royong dari Tim kami, LSM, TNI, juga masyarakat sekitar semuanya.
Semuanya selesai dengan baik . Dan besok pagi kami semua akan pamit untuk kembali ke daerah Lampuuk.
Pagi sekali mobil TNI datang dan siap mengantar kami kembali ke Lampuuk.
kami akan menetap di daerah Lampuuk sebelum bertolak ke Jakarta.
Pak Keuchik dan Masyarakat sekitar menyaksikan kepergian kami,.
Kamipun berat berpisah karena satu minggu disini, sudah seperti layaknya sodara tetapi kami harus kembali ke Lampuuk untuk menjalankan penyelesaian yang belum rampung.
Sekitar Satu Jam perjalanan, Akhirnya kami sampai di daerah Lampuuk.
kami di sambut layaknya habis meraih kemenangan dalam sebuah pertandingan.
Tampak mareka sangat antusias menyambut kami layaknya seorang Presiden, ada rasa haru di balik senyuman kami.
Kamipun langsung turun dari mobil dan menyalami mareka, karena sudah satu minggu tidak bertemu, dan Aku serta Yunus langsung memeluk Malik secara bergantian karena rindu.
", Gimana di daerah Lhok Nga... Ren?", Parah tidak? " tanya Malik.
", Sama Lik ??, tapi lebih parah daerah Lhong karena semua Rumah dan Bangunan rata dengan tanah, cuma yang tersisa bangunan Mesjid.
", Rumah ALLAH seperti ada yang menjaga dari terjangan Tsunami kemaren, Aku sendiri Takjub, benar - benar kalau ALLAH sudah berkehendak tiada yang tidak mungkin.
__ADS_1
Apalah kita yang hanya seperti debu di tangan, sekali tiup maka akan hilang dari muka bumi ini, jadi apa patut kita sombongkan? " kataku panjang lebar.
Terlihat Yunus dan Malik diam sambil menyelami perkataanku.
", Yuk.. Sekarang kita beres - beres sekalian kita liat apa yang bisa kita bantu lagi, sebelum nanti kita ketemu lagi tuk Sholat Zhuhur berjamaah ", kataku.
Sambil berjalan masuk ke tenda untuk menaruh tas, disusul dengan Yunus.
Ketika aku mau keluar dari tenda aku melihat Yunus yang sedang memengang kepalanya.
", masih pusing Nus, " tanyaku karena tadi waktu di mobil kami sedikit berbincang.
", iya bro... Sedikit !!", Jawab Yunus, sambil memilih merebahkan badanya yang sedikit demam.
" Udah Nus minum obat terus istirahat,
mudah - mudahan sembuh dan bisa Sholat Zhuhur berjamaah " kataku sambil menepuk bahunya.
", Thank's ya Ren....lo memang Sahabat gue " jawab Yunus sambil tersenyum dan minum obat.
Setelah melihat Yunus langsung menarik selimutnya, aku langsung menuju ke dapur umum untuk membantu Ibu - ibu disana.
"Assalamu'alaikum Ibu - ibu..." kataku memberi salam.
", Wa'alaikum Salam jawab mareka serentak.
Duh si ganteng udah balik lagi hehehe jadi semangat ", kata Ibu Fatimah sambil tersenyum.
", iya betul bu, semenjak Nak Rendi membantu kami disini, masakan kami semua jadi enak dan juga kami jadi semangat memasaknya " , seloroh Ibu Ida sambil di amini yang lain.
" , ah Ibu bisa aja, Rendi kan cuma membantu, selebihnya memang masakan Ibu - ibu semua yang enak dan bikin ketagihan " jawabku sambil tersenyum.
Akupun membantu Ibu - ibu juga di bantu Bapak - bapak yang lain untuk menyiapkan masakan untuk makan siang seluruh pengungsi.
Tak terasa kami semua sudah menyelesaikan beberapa masalah dalam pembangunan.
Meunasah sudah berdiri, juga Bale - bale untuk anak - anak mengaji dan sekolah.
Semua sudah kembali ceria walaupun masih ada beberapa yang masih sedikit trauma, kami pun paham tidak mudah melupakan tragedi ini.
Karena sebagian dari mareka ada yang kehilangan anak dan suami itu yang membuat mareka susah melupakannya untuk saat ini.
Aku berharap semoga nanti di tahun - tahun yang akan datang lambat laun mareka bisa melupakan musibah ini, " harapku dalam hati sambil menatap tenda pengungsian ".
__ADS_1