
Aku bangun dengan semangat, Habis Sholat Subuh aku langsung jogging dan berenang.
Sudah lama aku tidak berenang, biasanya aku seminggu tiga kali berenang tapi sekarang tidak ada waktu karena kesibukanku.
Aku puas banget berenang di temani sama adikku Reva.
Sedangkan Mama dan Papa hanya menemani kami di kursi dekat kolam renang.
Sesekali aku isengin adikku, otomatis dia kesel tapi itu yang membuat aku selalu rindu padanya karena kalau dia marah, seperti anak kecil sambil ngadu sama Papa.
Papa dan Mama yang mendapat aduannya hanya tersenyum, dan akhirnya malah aku yang ngalah dan minta maaf padanya.
Karena jarang - jarang kami berenang bersama, dan ini yang bikin aku kangen dengan keluargaku.
Selesai berenang, Aku pun sarapan terus izin ke Papa dan Mama untuk pergi ke Bogor. Sedangkan Reva masih lanjut berenangnya.
Setelah mendapat izin dari mareka, Akupun berangkat dengan mobil Kijang Innova.
Aku menghubungi Faisal untuk segera ke tempat yang telah kami setujui.
Akhirnya aku pun sampai di kafe Seroja sesuai dengan jadwal jam 9 pagi.
Begitu aku masuk ke dalam kafe, terlihat sudah ada Faisal dan juga Yunus.
Setelah berbincang dan membayar minuman, Kamipun berangkat ke Bogor.
Di sisiku duduk Faisal sebagai penunjuk arah.
", Ren...Kita ke rumah Pamanku dulu y?", baru habis itu kita ke Pondok Pesantrennya ?", Kata Faisal.
", Baiklah, gimana enaknya saja Sal?", Kataku.
Oh Iya sebelum itu kita beli buah dulu ya, sebagai oleh - oleh, " Kataku.
", oke.. Ren, ", Jawab Faisal.
Setelah membeli buah, kemudian kami lanjutkan perjalanannya.
Tak terasa sudah dua jam perjalanan kami.
Sampailah kami di rumah Paman Faisal.
Rumah sederhana yang sangat asri dengan pepohonan yang membuat rumah itu terasa teduh.
Kami di sambut dengan ramah oleh Paman Faisal dan Keluarganya.
Dan kemudian aku utarakan maksudku, untuk memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren. ", apakah bisa buat mondok sebentar, Paman?", Kataku panjang.
", Iya Paman sendiri sudah mendengar ceritanya dari Faisal.
Kebetulan di Pondok Pesantren Nurul Ilmi bisa menerima seperti yang Nak Rendi mau?", walaupun cuma sebentar mondoknya," Kata Paman Hanafiah.
", INSYA ALLAH saya siap paman Hanafiah?", karena itu yang saya inginkan, dan untuk biaya masuknya akan saya lunaskan segera", Kataku mantap.
",ALHAMDULILLAH...Paman senang mendengarnya!". Kata Paman.
Terus...Ini yang mau mondok cuma Nak Rendi seorang?", tanya Paman Hanafiah.
", Tidak!!.. Paman", kataku.
", INSYA ALLAH, kami berdua Paman?", Sedangkan Faisal katanya masih ada kerjaan yang harus di selesaikan.
Baiklah kalau begitu... habis makan siang kita ke sana, sekarang kalian istirahat dulu ya?", Kata Paman.
__ADS_1
", Baik Paman!", Jawab kami serentak.
Sesudah makan siang kamipun berangkat ke Pondok Pesantren di daerah kampung Santri, cuma 500 meter dari rumah Paman Hanafiah. Dan kami cuma berjalan kaki ke sana, hitung - hitung sambil melihat suasana kampung ini.
Kenapa namanya kampung Santri?", karena penduduk di sana mayoritas anak Santri.
Baik muda maupun tua selalu mengaji dan sholat berjamaan di mesjid dalam Pondok Pesantren.
Rata - rata kegiatan mareka itu selalu berhubungan dengan Pesantren.
Jadi tidak heran masyarakat di situ terkenal dengan nama Kampung SANTRI.
Sampailah kami disana, kami turun dan langsung ke rumah Pak Kyai Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Ilmi Bapak Kyai Haji Abdul Somad.
Paman Hanafiah pun mengutarakan maksud dan tujuan kami.
Pak Kyai Abdul Somad pun terlihat gembira, dan Beliau secara terbuka menerima kami untuk menimba ilmu disini.
", Kalau Ananda berdua sudah yakin mau menuntut ilmu disini?", kapan rencana masuknya?",
Karena lebih cepat lebih baik", Kata Pak Kyai Abdul Somad.
", INSYA ALLAH dalam minggu ini Pak Kyai!!".
Sekarang kami mau melihat - lihat dulu, suasana di Pondok Pesantren ini! ", Jawabku mantap.
",Baiklah kalau begitu, Silahkan di lihat - lihat, nanti di temanin sama Pak Hanafiah ya?".
Mungkin sesudah di lihat jadi secepatnya bisa mondok?", Kata Pak Kyai sambil tersenyum.
", Baik Pak Kyai!", Kalau begitu kami permisi", Pamit Paman Hanafiah sambil mencium tangan Pak Kyai di ikuti oleh kami bertiga.
Sesudah Kami di perlihatkan ruangan dan kamar untuk mondok, Aku cukup senang karena tiap - tiap kamar terdiri dari 15 orang santri.
Kebetulan juga aku nanti di tempatin satu kamar dengan Yunus dan juga Santri yang sudah Mahasiswa sama seperti kami, bedanya kami kuliah di Jakarta sedangkan mareka kuliah di Bogor.
Lalu MI ( MADRASAH IBTIDAIYAH atau setingkat dengan SD).
Lalu MTS ( MADRASAH TSANAWIYAH atau setingkat dengan SMP).
dan MA ( MADRASAH ALIYAH atau setingkat dengan SMA).
Aku senang mengetahui bahwa mareka juga tidak hanya mendapatkan ilmu agama tetapi juga dapat pendidikan formal layaknya sekolah umum.
Cukup melihat - lihat kami pun bermaksud pulang ke rumah Paman.
Sedangkan Paman masih ada tugas yang harus di selesaikan. Setelah pamit dengan Paman, Kamipun kemudian pergi dari Pondok itu.
" Sal!!", Nus!!", gue pengen liat - liat ini kampung, kalian mau ikut nggak?, " Kataku.
" Nggak lah Ren!", Gue balik aja sama Faisal ke rumah Paman, nanti gue tunggu disana!", Kata Yunus.
"oke...Kalau gitu kita misah ya?", Kataku.
Oke, sampai nanti, Assalamu'alaikum...", Kata Yunus berbarengan dengan Faisal.
'Wa'alaikum Salam...", Kataku sambil melangkah pergi.
Tak terasa aku sudah berjalan jauh dari tempat kami berpisah tadi.
Aku terkesan dengan suasana kampung ini, terasa nyaman dan asri...begitu indah.
Orang kampung sini terkenal ramah, setiap berpapasan selalu menunduk sambil memberi salam, akupun selalu menjawab dengan tersenyum.
__ADS_1
Tiba di tengah lapangan dan sawah yang luas, aku baru menyadari bahwa ini sudah jauh dari Pondok. Sepertinya aku tersesat.
Aku bingung mau balik, lalu aku lihat ada beberapa anak kecil sepertinya baru pulang sekolah seusia anak - anak TK.
Aku berlari mengejar mareka, karena mau tanya jalan balik ke arah Pondok Pesantren.
Mareka di temani oleh seorang perempuan Muslimah, sepertinya Guru mareka atau salah satu Ibu dari anak - anak tersebut.
", Assalammu'alaikum....", kataku memberi salam.
"Wa'alaikum Salam... ", Jawab beberapa anak kecil itu sambil menoleh melihatku, sedangkan wanita yang bersama mareka diam saja dan tanpa melihat kepadaku, karena posisi mareka membelakangi aku.
Maaf dek?", numpang tanya?, arah ke Pondok Pesantren Nurul Ilmi kemana ya?", Tanyaku pada mareka.
", Om ini siapa ya?", Tanya adik pakai hijab pink ramah.
Nama saya Rendi...!!", Panggil saja Mas Rendi, jangan Om hehehe", Kataku ramah.
Oh.. Mas Rendi, nama saya Maryam, ini sudah jauh dari Pesantren Mas? Sepertinya Mas salah jalan deh?", Katanya lagi.
Mas nanti muter balik terus lurus saja ke depan, nah di pertigaan itu mas belok kanan, lalu lurus saja sampe ketemu Pesantren Nurul Ilmi, " kata Maryam menjelaskan.
", Waduh terima kasih ya dek Maryam untuk informasinya, " kataku sambil tersenyum.
Maryaaaamm...!!!", Ayo pulang?, Panggil wanita yang bersama Maryam tadi tanpa melihat ke belakang.
", Baik bu?, sebentar...", sahut Maryam.
Sudah ya Mas Rendi, saya sudah di panggil sama Bu Aisha?", kata Maryam sambil berlari kecil untuk menyusul wanita tadi.
", Ya...terima kasih dek?, jangan lari nanti jatuh!", kataku sambil memutar melangkah pergi.
Bruukk... Tiba - tiba terdengar suara orang jatuh,
aku lihat ternyata Maryam jatuh kepeleset dan lututnya berdarah.
Aduuhhh... Sakit bu...", tangis Maryam sambil memegang lututnya yang berdarah.
", Jangan nangis ya anak Sholeha, sini ibu obati ?", Jawab wanita itu sambil memeluk dan membelai Maryam serta mengoleskan obat merah kemudian menempelkan Hansaplast. Obat itu selalu tersedia dalam tas untuk jaga - jaga saja.
Aku berlari menghampiri mareka.
Dek Maryam tidak apa - apa kan?", Tanyaku panik sambil melihat ke arah Maryam, sedangkan wanita itu langsung membelakangiku.
Hmmm... Alhamdulillah tidak apa - apa Mas Rendi, ini sudah di obati sama ibu Aisha", Jawab Maryam.
Ayo sayang?, kita pulang", Ajak wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
", Baik Bu...", Jawab Maryam sambil meraih tangan Bu Aisha.
", Mari Mas Rendi kami pulang dulu, Assalamu'alaikum..", pamit Maryam.
Iya..."Wa'alaikum Salam", Jawabku.
Tiba - tiba wanita yang bersama Maryam menoleh kepadaku, sambil mengangguk kepalanya ke arahku dan tersenyum.
×× Deg...Deg...Jantungku seakan berhenti, aku terpana melihatnya. Hatiku rasanya tak karuan. Seakan akan Bumi ini bergetar dan aku tidak merasakan getarannya.
", SUBHANALLAH....dialah wanita yang selama ini aku cari, yang membuat hatiku bergetar.
Siapakah dia?, mungkinkah dia Ibunya Maryam.
Aku penasaran ingin tau tentang wanita yang sudah menggetarkan hatiku, " Batinku".
__ADS_1
Ketika aku sudah menguasai hatiku, akupun menyadari ternyata Maryam dan wanita yang bernama Aisha sudah hilang dari pandanganku.
Akupun melangkah dengan hati senang karena aku sudah menemukan wanita idamanku.