Menggetarkan Hati

Menggetarkan Hati
Menemui Ustadz Ahmad Ma'ruf


__ADS_3

Kajian Ceramah sudah selesai pukul 11 siang, semua Masyarakat sudah membubarkan diri, tidak terkecuali dengan para wanitanya, semua sudah mulai meninggalkan Mesjid.


Kami keluar dari Mesjid dan melihat banyak dari Santri pria yang mencuri pandang melihat Aisha, tetapi yang di lihat cuek tidak membalas tatapan para pengemarnya. Aisha terlihat menunduk dan tidak memperdulikan panggilan dari para penggemarnya.


Lalu Aku dan Yunus menuju pelataran depan Mesjid, tampak beberapa wanita tadi tersenyum ke arah kami, Aku langsung menunduk tetapi tidak dengan Yunus, dia membalas senyum para gadis itu dengan lambaian tangan.


Aku berusaha melihat ke arah tadi Aisha keluar Mesjid tetapi Aisha sudah hilang dari pandanganku.


"Iiihhh gimana sih!, yang disenyumin cowok ganteng itu, eh yang balas kecebong nangka!, kampret...", Ucap Indah kesel.


" Hahaha...Iya mana genit lagi pake lambaian tangan, " Ucap Euis.


" Iiiihhh... kesel banget liatnya," Kata Ayu.


"Betul Yu!, cowok idaman kita kayaknya pemalu hehe,"Jawab Fatma.


"Yukkk kita samperin sekalian kenalan hehe,"Jawab Euis yang melangkah ke arah kami di ikuti sama teman-temanya.


Akhirnya mareka memberanikan diri untuk berkenalan dengan kami, Aku sendiri merasa tidak enak, karena masih dalam lingkungan Mesjid dan masih banyak Santri-Santri yang berlalu lalang keluar masuk Mesjid.


"Assalamu'alaikum..," Ucap Ayu, ditemani sama teman-temannya.


"Wa'alaikum Salam!, "Jawab Kami sambil menghentikan langkah menuju pintu pagar.


"Maaf sepertinya Akang-akang ini bukan orang sini ya?, " Tanya Fatma.


"Betul Dek!, Kami dari Jakarta," Jawab Yunus ramah.


"Kalau boleh tau, Akang yang pake koko hitam, siapa ya namanya?, "Tanya Euis.


"Ooh itu namanya Mas Rendi, saya Yunus!, " Jawab Yunus sambil promosiin dirinya tapi sayang di cuekin sama mareka.


" Ooo...namanya Mas Rendi...cakep namanya kayak orangnya," Goda Indah.


Aku cuma tersenyum, sekaligus malu juga di samperin wanita masih di lingkungan mesjid, semua Santri yang lalu lalang melihat ke arah kami, Akhirnya aku mencolek Yunus untuk segera pergi dari mareka.


" Maaf ya Neng-Neng!, Mas Rendinya masih ada urusan yang harus di kerjakan, jadi kami pamit dulu ya?, " Ucap Yunus.


" Baiklah Kang!, Salam ya buat Mas Rendi dari kami..," Ucap Euis.


" Insha Allah nanti disampaikan, sekarang kami permisi ya? " Assalamu'alaikum..,"Ucap Yunus sambil berlari mengejarku yang sudah duluan pergi karena merasa malu dengan kejadian ini.


"Ren....tunggu!! " Kata Yunus.


"Ayuk Nus...nanti keburu siang kita ke rumahnya Pak Ustadz Ahmad," Ajakku.


"Iya Sob...eh fans lo tadi nitip salam, "Kata Yunus.


"Wa'alaikum Salam, " Jawabku datar.


" Nus... Lo liat Aisha tidak, sudah pulang belum ya?, " Tanyaku.


"Nggak tau...gue nggak liat," Ucap Yunus ketus.


" Kok marah... Nanti nggak ganteng lagi loh hehe, "Ledekku.


" Habissss.. Semua naksir lo Ren!!!, sisain kek atu buat gue, kan gue mau kayak elo hehe, "Jawab Yunus.


" Terus salah gue...salah temen gue ( meniru ucapan salah satu Artis terkenal) hahaha, " Jawabku sambil tertawa


" Hahaha... Nggak kok Ren, gue tadi cuma becanda, gue nggak akan cemburu dengan lo Sob?, "Ucap Yunus tulus.


" Gue tau!!!, Hehehe...ya sudah yuk!!...kita ke rumah Pak Ustadz ahmad, " Ajakku.


" Ya!!!, " Kata Yunus sambil merangkul bahuku.


Setelah kami berjalan sekitar 20 menit sampailah kami disebuah rumah yang lumayan besar dan di samping rumah itu ada Sekolah TPA.


" Assalamu'alaikum...," Sapa kami berdua.


" Wa'alaikum Salam , " Terdengar ada suara dari dalam rumah sambil membuka pintu.


" Maaf Dek?, Numpang tanya apa bener ini rumah Pak Ustadz Ahmad Ma'ruf, " Tanya Yunus.

__ADS_1


" Iya Kang...Akang- Akang ini siapa dan dari mana?, " Tanya gadis itu ramah.


"Nama saya Yunus dan ini teman saya Rendi, kami dari Jakarta dan sekarang sedang mondok di Pesantren Nurul Ilmi, kami ada perlu dengan Pak Ustadz!, " Ucap Yunus.


" Maaf adek ini siapa ya?, " Tanya Yunus lagi.


"Saya Farida, biasa di panggil Ida, saya anak pemilik rumah ini!, " Ucap Ida.


" Ooo.. Begitu,...Pak Ustadznya ada Dek?," Tanya Yunus, sedangkan aku diam saja sambil tersenyum.


"Kebetulan ada, Abi sedang di kolam ikan, Silahkan masuk Kang?, " Ucap Ida sedikit malu.


" YA ALLAH ganteng banget cowok yang pakai baju koko hitam.... Hmmm ini mah idaman aku banget!!!, " Batin Ida.


" Terima kasih!, " Jawabku sambil melangkah masuk ke dalam rumah bersama Yunus.


" YA ALLAH suaranya bagus banget!!!!, Mau dong jadi yang halal untuknya, " Kata Ida dalam hati sambil melangkah pergi memanggil Abinya.


" Nus...sepertinya anak Pak Ustadz Ahmad mirip sama gadis yang bareng sama Aisha tadi ya?, " Kataku.


" Ah masa... Kok gue tidak perhatiin ya?, " Ucap Yunus.


" Iya Nus...mirip...masa lo tidak liat?, "Kataku.


" Iya sorry!!!...soalnya tadi gue fokus ngeliat Aisha, habis doi cantik banget, jadi yang lain kagak keliatan hehe "Jawab Yunus.


" Awas ya itu gadis idaman gue.... Jangan lo embat singkong!, " Kataku kesel.


" Iya sorry, gue juga nggak tega liat sobat gue menderita batin wkwkkk, " Ledek Yunus.


" Iya gue percaya sama lo....awas aja ketahuan, gue kempesin perut lo yang buncit itu hahaha, " Ledekku kembali.


" Aduh Mak...ampyun... ekke takutttt hehehe..." ucap Yunus sambil ngelambai.


" Hahaha udah ah...tapi beneran deh cewek ini mirip dengan cewek yang bareng dengan Aisha, tapi nggak tau juga, mungkin saja aku salah... soalnya liatnya juga dari jauh hehe, " Jawabku.


X


X


Selain sebagai Pendakwah, Pak Ustadz juga memelihara Ikan, selain buat konsumsi sendiri ada juga buat di bagi ke tetangga, sanak saudara serta ada juga yang di jual.


Pak Ustadz merekrut anak-anak muda di kampung Santri untuk membantu di tambak ikannya, sekalian membuka lahan pekerjaan agar pengangguran berkurang.


Dengan adanya tambak Ikan tersebut anak-anak muda menjadi rajin bekerja serta menjadi pelajaran bagaimana menjadi seorang peternak ikan serta kelak bisa membuka lahan sendiri.


Tak lama sesudah meninggalkan Yunus dan Rendi, Ida langsung menemui ayahnya untuk memberitahukan tentang kedatangan tamu tersebut.


Tampak dari jauh Pak Ustadz Ahmad Ma'ruf sedang asyik memberi makan ikan di temani sama Ummi dan beberapa karyawan yang di tugaskan menjaga kolam.


" Abi..., " Panggil Ida lembut.


"Ada apa Da?, " Tanya Ummi.


"Abi....ada yang nyariin Abi di depan, katanya dari Jakarta!!, " Jawab Ida.


" Hmm Jakarta, sepertinya Abi tidak ada janji dengan orang?, " Jawab Abi.


Ayolah Bi... Sepertinya penting, " Kata Ida lagi sambil menarik lengan Abi untuk segera pergi.


" Iya.. Bi!!!... Ayuk Kita liat siapa tamu itu?, " Ajak Ummi.


Mareka pun menemui kedua tamu tersebut. Ida dan Ummi melihat sekilas ke ruang tamu kemudian langsung ke dapur untuk membuat minuman.


" Assalamu'alaikum!!!, " Ucap Ustadz Ahmad.


" Wa'alaikum Salam!!, " Jawab kami serentak seraya berdiri.


Silahkan duduk, Ananda berdua dari Jakarta?, " Tanya Ustadz Ahmad.


" Betul.. Pak Ustadz, Nama saya Yunus, ini teman saya Rendi...kami sekarang mondok di Pesantren Nurul Ilmi tapi cuma mukiman," Jawab Yunus sambil memperkenalkan diri dan Salaman, begitu juga denganku.


" Maaf ada apa Ananda berdua menemui saya, apa ada yang bisa saya bantu?, " Tawar Pak Ustadz.

__ADS_1


" Iya Pak Ustadz, saya ada perlu sedikit dengan Pak Ustadz, " Jawabku sambil malu- malu.


" Oooh begitu sepertinya ini serius, apa masalah hati?, " Ucap Pak Ustadz sambil tersenyum.


Aku sedikit kaget kenapa Pak Ustadz bisa tahu, tetapi aku berusaha bersikap biasa saja.


Tiba-tiba Ida datang sambil membawa minuman dan kue, di temani sama Ummi juga.


" Ini istri saya, namanya Ummi Zainab, sedangkan itu putri saya namanya Farida, " Ucap Pak Ustadz mengenalkan keluarganya.


Aku dan Yunus tersenyum sambil mengangkat tangan di dada sebagai tanda salaman dan di balas sama mareka berdua.


" Silahkan di minum dan di cicipi kuenya Nak?, " Ucap Ummi Zainab.


" Iya Mi??, Terima kasih," Jawabku dan Yunus.


Sepeninggal Ummi Zainab dan Farida, Mulailah aku mengutarakan maksud dan tujuanku kepada Pak Ustadz Ahmad Ma'ruf.


" Saya ingin meminta tolong Pak Ustadz sebagai perantara saya meminang Aisha, " Kataku.


" Kenapa dengan Saya, kan bisa minta tolong dengan Ustadz di Pesantren, " Jawab Pak Ustadz Ahmad.


" Begini Pak Ustadz, saya mendengar kalau Bapak adalah teman dekat dari Orang Tuanya Aisha, " Jawabku.


Awalnya Pak Ustadz Ahmad menolak tawaranku, tapi aku memohon akhirnya beliau mau membantu untuk berbicara dengan OrangTua Aisha semampunya, tapi kalau di tolak mungkin ini sudah menjadi takdirku.


" Hmm... ( diam sambil berpikir), Ya sudahlah akan saya bantu semampu saya, tapi kalau tidak berhasil tidak apa-apa ya?, " Kata Pak Ustadz.


" Baik Pak Ustadz.., " Jawabku sambil tersenyum.


" Terus rencana Nak Rendi Apa sekarang?, " Tanya Pak Ustadz.


" Begini pak!!!, Saya ingin Mengkhitbah Aisha secepatnya, apapun syarat akan saya akan penuhi, " Jawabku tenang.


" Ananda Rendi sudah kenal dengan Aisha, sahabat Putri saya??, " Tanya Pak Ustadz.


" Saya belum mengenal dia secara pribadi tetapi kami pernah bertemu satu kali, dan itu langsung membuat saya ingin melamarnya?, " Jawabku mantap.


" Hahaha...Bagaimana bisa baru ketemu sekali langsung mau melamarnya tanpa kenal dulu orangnya, " Ucap Pak Ustadz Ahmad.


" Betul Pak Ustadz!!, Justru itu yang menjadikan saya untuk lebih ingin mengenal Aisha, menikah dulu baru pacaran!!, " Jawabku.


" Nak Rendi???.... ( pelan suaranya sambil menatap tulus ke arahku), sudah banyak yang melamar Aisha, mulai anak Lurah, Pria lulusan Luar Negri, Dokter, Polisi, Guru juga Ustadz pesantren tapi semua di tolak sama Abahnya, entah seperti apa kriteria calon mantunya, " Kata Pak Ustadz lembut.


" Justru itu yang membuat saya datang kesini untuk meminta tolong sama Pak Ustadz, agar mau meminang Aisha Untuk saya, " Jawabku.


" Hmm... Sebenarnya ini berat ( sambil menarik nafas), tapi saya akan bantu Nak Rendi... Apapun hasilnya Nak Rendi harus siap, Gimana?, " Tanya Pak Ustadz.


" Baik Pak, akan saya terima dengan lapang dada, " Jawabku.


" Tapi begini!!!, seumpama Aisha sudah ada yang lamar maka kita harus mundur, karena kita tidak mungkin mengambil hak orang lain, Gimana kamu siap..kan?, " Tanya Pak Ustadz Ahmad.


" Saya siap Pak!!, Apapun itu akan saya terima dengan hati ikhlas, " Jawabku mantap.


"Berdoalah semoga Lamaranmu di terima sama Orang Tuanya Aisha, " Ucap Pak Ustadz Ahmad.


Tak jauh dari ruang tamu, ternyata diam-diam Farida mendengarkan pembicaraan antara pemuda itu dengan Abinya.


" YA ALLAH.. Ternyata pemuda ganteng itu datang untuk melamar Aisha, " Ucap Ida dalam hati.


" Sungguh Aisha beruntung, sepertinya pemuda itu tidak hanya baik tapi juga pinter dan sholeh...semoga Sahabatku Aisha bahagia bersamanya " Doa Ida dalam Hati.


" Coba kalo aku yang di lamar tentu aku minta sekarang juga Abi menikahkan aku dengannya hehee, tapi sudahlah jodoh itu sudah Allah yang atur, besok aku akan memberitahukan kepada Aisha tentang lamaran pemuda itu hehehe, " Kataku dalam hati sambil tersenyum dan kembali ke kamar.


Sesudah percakapan di ruang tamu, lalu terdengar Azan Zhuhur, Pak Ustadz mengajak kami untuk Sholat Zhuhur Berjamaah, kemudian habis Sholat Berjamaah kamipun di jamu makan siang, sungguh permintaan yang tidak bisa kami tolak.


Sesudah makan siang, kami pun pamit kepada Pak Ustadz Ahmad dan Ummi Zainab. Tampak Yunus celinggukan mencari keberadaan Farida, tapi sang Idola sepertinya sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu.


Aku menyadari gelagat Yunus, akhirnya sambil tersenyum aku merangkul Yunus untuk segera pulang ke Pesantren karena nanti sore kami akan balik ke Jakarta.


Sesudah menjauh dari rumah Pak Ustadz Ahmad, Aku mulai menggoda Yunus.


" Sudah Nus!!!, Minggu depan Kita balik lagi kesini, siapa tau kamu bisa dekat dengan pujaanmu itu, " Ucapku

__ADS_1


"Iya Sob!!, Aamiin..." Jawab Yunus sambil tersenyum kearahku.


__ADS_2