
Sampailah kami di Pesantren, Kami langsung menuju ke rumah Pak Kyai Abdul Somad, karena tadi beliau amanah kepada anak Santri kalo melihatku dan Yunus untuk segera ke rumah Bapak Kyai Abdul Somad.
"Assalamu'alaikum...."Ucap kami berbarengan.
"Wa'alaikum Salam " Terdengar suara menyahut dari dalam rumah.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan kami di persilahkan masuk dan menunggu di ruang tamu, sedangkan bibi yang membantu di rumah Pak Kyai langsung masuk ke dalam untuk memberitahukan tentang keberadaan kami.
Sesudah menunggu 10 menit tampaklah Bapak Kyai Abdul Somad, kami langsung berdiri dan mencium tangan Beliau. Maaf sebelumnya saya memanggil kalian berdua untuk datang ke rumah saya ", Ucap Pak Kyai.
" Iya tidak Apa-apa, Pak Yai, " Jawab kami pelan karena segan juga.
" Begini... Saya mau tanya apa Ananda berdua betah mondok disini?", Tanya Pak Kyai.
"Alhamdulillah kami betah, tetapi kami yang harus minta maaf karena sudah merepotkan Pak Yai dan pengurus disini untuk menerima kami mondok tapi hari libur saja ", Jawabku.
" hehehe... Tidak apa- apa nak?, yang penting kalian suka dengan kegiatan yang ada di dalam Pondok, "Jawab Pak Kyai ramah.
" Alhamdulillah kami suka Pak Yai, dan juga kami mohon izin karena sering keluar Pondok?, "Jawabku lagi.
" Hmm... Tidak apa- apa, mungkin kalian ada keperluan, silahkan....asal tidak berbuat yang aneh - aneh " ucap Pak Kyai bijak.
" Baik Pak Yai, " Jawab kami serempak.
" Begini Ananda berdua saya panggil kesini karena ada hal yang ingin saya tanyakan kepada Nanda berdua", Ujar Pak Kyai.
Sebenarnya saya sedikit tidak enak hati kepada Nanda berdua, begini.... ( Pak Kyai menarik nafas dalam). "Hmm...maaf sebelumnya apa Nak Rendi sudah punya teman dekat atau pacar? " Tanya Pak Kyai pelan, sekaligus membuat kami berdua kaget tidak percaya dengan pertanyaan yg di ajukan oleh Pak Kyai.
", Sebetulnya.... Maaf Pak Kyai... ( ucapku pelan).. saya belum punya pacar tetapi sekarang saya sedang melakukan ta'aruf dengan seorang gadis, " Jawabku jujur sambil menunduk.
" Oh begitu...( terdengar seperti nada kecewa), sebenarnya.... saya mau menjodohkan anak perempuan saya dengan Nak Rendi, tetapi kalau Nak Rendi sedang ta'aruf ya tidak apa - apa, saya urungkan niat saya, mungkin belum jodoh saja, " Jawab Pak Kyai dengan suara yang sedikit menyiratkan kekecewaannya.
" Maafkan saya Pak Yai, bukannya saya menolak pinangan Pak Yai, tetapi saya tidak pantas...anak Pak Yai wanita pintar juga sangat sholeha dan sekarang sedang kuliah di Al Azhar Kairo Mesir... Saya rasa alangkah sepadan bila Beliau menemukan lelaki yang sholeh juga pintar seperti dirinya, " Jawabku sambil menangkupkan tangan tanda minta maaf.
__ADS_1
Aku dan Yunus terdiam tidak tau harus bagaimana, tetapi kebenaran walaupun pahit harus di ungkapkan, itu sudah prinsipku" Batinku dalam hati.
" Sebenarnya... Banyak yang minta anak saya untuk jadi menantunya, Saya melihat bahwa Nak Rendi cocok untuk Anak perempuan saya, terkadang... adab dan etika lebih baik dari pada punya Ilmu tinggi tapi etikanya rendah, makanya saya sendiri memilih Nak Rendi, Ilmu bisa di pelajari, tetapi kalau Akhlak jelek maka tidak ada gunanya juga punya ilmu yang tinggi.
Makanya saya melihat bahwa Nak Rendi pantas untuk menjadi menantu saya, Tetapi saya terlambat, sekarang Nak Rendi sedang Ta'aruf dengan wanita pilihan Nak Rendi sendiri dan saya mendoakan yang terbaik untuk Nak Rendi, " Ucap Pak Yai pelan dan bijak.
" Baiklah Nak.... Saya lega sudah mendengar semuanya dari Nak Rendi, percayalah saya tidak marah, mungkin belum berjodoh saja hehehe. Jangan karena perjodohan ini, kalian nanti tidak jadi mondok disini? " Kata Pak Kyai Abdul Somad lagi sambil menyungingkan senyum.
" Tidak Pak Yai...kami tetap mondok disini karena bagi kami ini sudah rumah kedua kami, " Jawabku sambil tersenyum.
"Alhamdulillah... Saya senang mendengarnya, walaupun kamu tidak menjadi menantu saya, tetapi saya senang kamu menjadi Santri di Pondok saya, dan kita semua sudah dewasa, mana yang terbaik untuk Ananda berdua, maka itu akan menjadi doa saya untuk Ananda berdua, " Jawab Pak Kyai.
" Aku dan Yunus terharu mendengarnya, tentu bahagia sekali mempunyai seorang Kyai yang berjiwa besar, Beliau tidak marah kepadaku tapi malah mendoakan yang terbaik bagi kami berdua, tentu pemimpin seperti ini yang kita harapkan, tidak main paksa karena hak seseorang dalam menentukan pilihan hidupnya, " Batinku sambil tersenyum haru sekaligus bangga bisa mengenal Kyai Abdul Somad yang berhati Emas.
" Terima kasih untuk doanya Pak Yai, mudah- mudahan kita semua dalam lindungan kasih sayang Allah SWT, dan sekali lagi kami juga mengucapkan banyak - banyak terima kasih untuk kesempatan menimba ilmu di Pondok Pesantren ini, " Kataku mantap
" Sama-sama Nak... Jangan sungkan untuk datang kemari, pintu rumah terbuka buat Santri yang mau konsultasi atau diskusi hehe.." Ujar Pak Kyai.
" Baiklah kalau begitu Nak...hati- hati di jalan, Salam buat keluarga masing- masing ya? " Ucap Pak Yai mantap.
" Insya Allah Pak Yai.... Kami pamit dulu " Assalamu'alaikum..." ucap kami serentak sambil mencium tangan beliau.
" Wa'alaikumus Salam..." Jawab Pak Yai.
Kami pun akhirnya pamit kembali ke Pesantren. Sampai di Pesantren, semua sudah menunggu kedatangan kami, semua menatap kepadaku dan Yunus. Aku bingung dengan tatapan mareka penuh selidik seperti kami habis merampok saja.
" Assalamu'alaikum.... Sapaku kepada mareka.
" Wa'alaikumus Salam... " Jawab Mareka serempak.
" Ren...Nus... Apa yang di bicarakan sama Pak Yai, soalnya tadi si Ihsan melihat Pak Yai sama Bu Yai sepertinya sedang marah? " Tanya Asep.
" Oooh itu, beliau bertanya apa kami betah mondok di Pesantren ini, terus kami jawab" Alhamdulillah betah, " Kataku.
__ADS_1
" Oooo begitu, Alhamdulillah deh, takutnya kenapa- kenapa dengan kalian, tidak ada yang lain? , " Tanya Asep lagi.
" Tidak ada Sep...., Pak Yai sama Bu Yai adalah orang yang baik, sudah....jangan berpikiran yang tidak- tidak, nanti jatuhnya fitnah, " Kata Yunus menjelaskan.
" Ya sudah kalau begitu ayuk kita siap - siap untuk sholat Asar, " Ajakku pada mareka semua.
" Ya sudah semua bubar... Yuk kita siap - siap sholat Asar, " Kata Teguh.
Akhirnya semua bubar dan kembali ke aktifitas masing-masing, begitu juga dengan aku dan Yunus memutuskan langsung menuju kamar untuk siap- siap Sholat Asar ke Mesjid.
Habis Sholat, aku dan Yunus pamit ke Jakarta karena besok sudah masuk kuliah, sesudah salaman dengan beberapa Ustadz, kami juga pamit pada Asep dan Teguh, Sesudah itu kamipun menuju mobil yang terpakir di halaman belakang Pesantren.
Sebenarnya aku penasaran dengan lamaranku pada Aisha tetapi harus menunggu selama satu minggu karena kesibukanku pada Kampus yang mengharuskan aku tidak bisa secepatnya balik ke Pondok, karena tugas sudah menantiku, Sabar ya Aisha kalau jodoh kita akan ketemu di KUA, " Ujarku dalam hati sambil tersenyum.
"Ren....ren..lo waras kan? Kok senyum- senyum sendiri, lo nggak kesambet kan?, " tanya Yunus sambil memegang dahiku.
" Sialan lo Nus... Enak saja orang lagi kangenin Aisha, hehee, " Jawabku.
" Oooo... Bujuq deh...sabar ya Sob tunggu satu minggu lagi, kita balik kesini, tapi kalau Aisha menolak lamaran lo, sebaiknya lo terima saja pinangan Pak Yai, " ucap Yunus.
", Enak saja... Mana bisa begitu...memangnya anak Pak Kyai mainan, tidak dapat yang sana bisa milih yang ini.... Dasar singkong... " Ledekku pada Yunus.
kalau tidak bisa dapat Aisha mungkin Aku akan keluar Negeri untuk melupakannya sekaligus mencari belahan jiwa yang lain hehee, " Jawabku.
" Hmmm baguslah setidaknya gue tidak melihat lo bunuh diri hahaha, " Ledek Yunus.
" Sialan lo... Amit- amit deh, bunuh diri jauh dari Surga, gini-gini gue masih punya iman hahaha, " Ucapku.
", Ya gue percaya sama lo, hilang satu cari yang lain hehehe..." Kata Yunus lagi.
", Udah ah, sebaiknya lo nyetir yang bagus...satu minggu lagi kita kembali kesini oke..", Kataku.
", Siap jurangan, Abdi teh nurut saja hehe.." Jawab Yunus mantap sambil mengangkat jempolnya.
__ADS_1