
Sampai di Pondok pesantren aku dan Yunus memutuskan untuk mandi dan segera ke mesjid untuk Sholat Maghrib berjamaah dan lanjut untuk tadarusan Al-Qur'an, sesudah itu lanjut Sholat Isya berjamaah.
Sesudah Sholat Isya, aku memutuskan untuk kembali ke kamar sedangkan Yunus masih berbincang dengan Santri disana. Tak lama kemudian Yunus nyamperin aku ke kamar untuk ngajak makan malam, oh iya biasanya Santri di sini makan malamnya jam 5 sore tetapi bagi kami yang Santri Mukiman boleh makan kapan saja karena kami berbeda dengan Santri pada umumnya.
Aku menolak untuk makan malam karena masih kenyang, lalu Yunus langsung menuju ke dapur umum untuk makan.
Sepeninggal Yunus aku berbincang dengan Teguh dan Asep, sementara Andi tidak ada disini, dia sedang pulang ke kampung karena ada acara keluarga. Teguh sendiri berasal dari Jogyakarta, sedangkan Asep dari Tasikmalaya, terus Andi dari Sukabumi, mareka nyantri disini sudah 7 tahun dan sudah tingkat 6, mareka sudah bisa mengajar adik-adik yang duduk di Madrasah Tsanawiyah atau setingkat (SMP) tapi dalam pelajaran kitab atau tajwid AlQur'an di Pesantren.. Istilahnya Ustadz muda umpama ASDOS di Kampus.
Mareka memutuskan tidak melanjutkan Kuliah karena hanya mau mendalami ilmu Agama dan bercita-cita untuk menjadi seorang Ustadz. Tetapi ada juga yang melanjutkan Kuliah seperti Kang Arman di Universitas Pakuan karena disini tidak menutup Akses para Santri untuk berkembang, mareka bebas menuntut ilmu dimana saja atau boleh mengejar cita-citanya, tetapi dalam konteks tidak keluar dari aturan yang telah di tetapkan di dalam Pesantren.
Aku tersenyum mendengar cerita dari mareka, dan aku bisa mengambil hikmah bahwa dunia Pesantren itu tidak kampungan seperti cerita-cerita yang aku dengar bahwa kalau sudah masuk Pesantren akan sulit untuk berkembang dan maju tetapi justru banyak yang keluaran dari Pesantren menjadi Anggota Dewan, Gubernur, Bupati, guru, polisi dan juga para Pemuka Agama alias menjadi Ustadz serta pendakwah.
Aku sendiri bangga bisa menjadi seorang Santri walaupun cuma Santri Mukiman. " YA ALLAH mudah-mudahan ini jalan yang benar yang aku pilih untuk memperdalam ilmu agamaku," doaku dalam hati.
' Ren...mudah-mudahan kamu betah ya mondok disini?", Kata Asep membuyarkan lamunanku.
Aamiin...", Jawabku sambil menganggukkan kepala.
Oh iya Ren..jangan kaget kalau besok kita ada pengajian massal dengan Masyarakat sekitar kampung Santri sini, tiap hari minggu pagi ada ceramah yang di pimpin oleh Bapak Kyai Abdul Somad, " Kata Teguh.
Oooh gitu...syukurlah besok kami bisa ikut pengajiannya pertama kali hehe, "Jawabku.
" Maaf ya Ren...waktu pertama kali kamu kesini aku pikir kamu orang yang sombong, secara kamu ganteng, pinter sepertinya pasti tidak mau berteman dengan kami yang orang desa," Kata Teguh.
Aku tertawa, " Wajar mungkin kalian menilaiku seperti itu karena belum kenal, tetapi sudah kenal tidak seperti itu bukan?, jangan menilai orang dari luarnya saja!, " Jawabku mantap.
mareka menganggukkan kepala sambil tersenyum. Kamipun mulai bertukar cerita satu sama lain sambil tertawa bahagia.
Tak terasa malam pun kian larut, Yunus juga sudah balik ke kamar dan kami juga sudah mulai bersiap-siap untuk tidur.
Ketika mau tidur, Yunus menarikku untuk berbicara tentang rencana besok untuk ke rumah Pak Haji Ahmad Ma'ruf.
__ADS_1
"INSHA ALLAH jadi Nus!, besok siang kita kesana gimana?, karena sorenya kita harus balik ke Jakarta!,"Kataku.
Oke..kalau gitu besok pagi saja kita kesana gimana? Agar siangnya kita balik ke Jakarta!" Tanya Yunus.
Jangan pagi Nus, besok ada Kajian ceramah dari Pak Kyai Abdul Somad di mesjid?, Kataku.
Ooooh gitu oke lah, gue ikut saja gimana enaknya hehe," Jawab Yunus.
Oke....yuk kita tidur karena besok subuh harus sholat berjamaah..", Kataku.
Azan subuh berkumandang, aku langsung bersiap-siap untuk ke Mesjid. Tak lupa aku membangunkan Yunus untuk sekalian ke Masjid, sedangkan Teguh dan Asep sudah berangkat duluan ke Mesjid.
Sebenarnya kalau Anak Santri lain sudah bangun jam 3 pagi untuk Sholat Tahajud, kemudian mareka ada yang Tadarus AlQur'an, ada yang belajar mengulang kitab, ada juga yang masih ngantuk tetapi masih di dalam Mesjid, tidak boleh keluar dari mesjid sampai Azan Subuh, berbeda dengan aku dan Yunus.
Ribuan Santri lelaki dan perempuan memenuhi Mesjid untuk Sholat Subuh berjamaah, sungguh pemandangan yang sangat indah di pagi hari dan itu membuat aku tidak sabar untuk Sholat berjamaah. Sholat Subuh ini di Pimpin oleh Kyai Abdul Somad yaitu Pemimpin Pesantren NURUL ILMI.
Sesudah Sholat Subuh berjamaah, kemudian ada kultum alias kuliah tujuh menit yaitu tentang INTROPEKSI DIRI yang disampaikan oleh Ustadz Mansyur.
Sesudah kajian Subuh, kamipun bubar untuk kembali ke kamar masing- masing, tetapi ada juga yang langsung senam pagi, ada yang jogging, ada yang menyapu halaman, intinya semua sibuk dengan aktifitas pagi hari, dan dengan tugas masing-masing sebelum waktu sarapan pukul 7 pagi.
Ada juga yang ke tambak ikan untuk ngasih makan ikan peliharaannya, serta ada juga yang bagian pertenakan langsung ngasih makan ayam, bebek dan kambing, semua mareka lakukan dengan senang hati karena kalau panen itu bisa mareka nikmati hasilnya.
Ada yang di tabung sebagian, ada juga yang di nikmati hasilnya bersama-sama, sungguh pelajaran yang di dapatkan Santri disini sangat bermanfaat tidak hanya untuk dirinya tetapi juga untuk masa depannya kelak kalau terjun ke dalam Masyarakat.
Aku dan Yunus berjalan-jalan seputar Pesantren sambil melihat-lihat pemandangan dalam Pesantren. Ternyata Pesantren NURUL ILMI adalah Pondok Pesantren Terpadu yang sangat besar kira-kira ada 5 hektar luasnya.
Sungguh indah Pesantrennya dan sangat tertata dengan rapi karena dulu aku belum melihat secara keseluruhan, hanya sebagian saja karena waktu itu buru-buru karena harus balik ke rumah Paman Faisal ustadz Hanafiah.
Tak segaja ketemu beberapa Santri dan mareka semua tersenyum ramah kepada kami apabila berpapasan, begitu juga kami membalas senyum mareka.
Kemudian sampailah aku di sebuah dapur Umum, aku melihat sudah tersedia nasi goreng dengan 3 wadah yang sangat besar, serta telor goreng juga kerupuk dan timun semua tersedia untuk Santriwan alias Santri Pria sedangkan Santriwati ( Santri Wanita) itu di Asrama sebelah, karena Asrama Pria dan Wanita itu di batasi oleh Mesjid AN-NUR (Mesjid dalam Pesantren).
__ADS_1
Semua bekerja secara gotong royong dan di lakukan dengan senang hati karena ini sudah tugas dan tanggung jawab mareka sebagai Santri di Pondok Pesantren ini.
Oh iya yang masak di Asrama Pria adalah harus semua pria sedangkan di Asrama Wanita semua juga di masak oleh Wanita, tidak boleh Wanita masak di Asrama Pria begitu juga sebaliknya.
Santriwati tidak boleh masuk ke dalam Asrama Santriwan, begitu juga sebaliknya kalau melanggar maka akan di beri sanksi, dan kalau tidak mematuhi peraturan Pesantren maka akan di keluarkan dengan tidak hormat.
Juga bagi mareka tidak ada yang boleh berpacaran kalau ketahuan akan di keluarkan juga.
Setelah melihat-lihat sekitar Asrama Santriwan, Aku melihat ada sebagian anak Santri yang sedang memungut daun-daun untuk di masukkan dalam karung...
Kemudian aku mengajak Yunus untuk mendekati mareka tapi sebelum sampai kepada mareka, aku mendengar salah satu dari Santriwan itu menyebut Aisha sehingga membuat keingintahuanku tentang sosok Aisha.
Hei..Soleh!, nanti aku akan melihat bidadariku, Wanita pujaanku, Aisha hehehe...", Teriak Bedul sambil memukul Soleh.
Huusstt.... Jangan besar-besar ngomongnya, nanti kalau ketahuan Ustadz akan di hukum, " Bisik Ahmad sambil menunjuk mulutnya dengan jari telunjuk.
Memangnya kamu yakin Aisha suka padamu, " Tanya Rijal pada Bedul.
", Yakin dong karena setiap bertemu dia selalu tersenyum padaku, lirik-lirik gitu, " Jawab Bedul.
Eh Dul!, mana ada Aisha seperti itu, setiap ketemu yang ada jangankan tersenyum, ngeliat juga kagak hahaha", ledek Ahmad.
Hahaha...makanya mimpi jangan ketinggian, noh Ustadz Samsul saja suka sama Aisha cuma dalam hati, eh kamu kok bisa terang-terangan hehe", Jawab Rijal.
Yee...siapa juga di kampung sini yang tidak suka sama Aisha Sang Primadona kampung Santri, selain wajahnya yang cantik, baik, pinter...soleha lagi mana ada coba yang tidak jatuh cinta kecuali dia buta hahaha", Jawab Bedul mantap.
Deg...Aku dan Yunus yang mendengar kata Aisha disebutkan jadi berhenti berjalan dan mendengarkan apa yang mareka bicarakan.
" YA ALLAH ternyata yang suka sama Aisha sang Primadona Desa bukan hanya pemuda kampung Santri tetapi juga anak - anak Santri sini dan juga para Ustadz, apakah hamba tidak ketinggian mengharapkannya...berilah hamba petunjukmu", Doaku dalam Hati.
Ren.... Kamu dengar tidak...?", bisik Yunus.
__ADS_1
Iya Nus..aku dengar semuanya?, Kataku lembut.
Sabar Ren...Bismillah saja!", Kata yunus sambil menepuk bahuku. Lalu kamipun berlalu sambil menuju ke kamar untuk sejenak menenangkan hatiku yang sedang gundah, karena untuk mendapatkan wanita pujaanku ternyata saingannya sungguh berat.