Menikah Karena Terpaksa

Menikah Karena Terpaksa
Aturan.


__ADS_3

 


"Mama aku gak mau menikah sekarang! Aku masih mau sekolah ma. Aku gak mau nanti aku akan hidup sengsara akhirnya. Karena aku masih bawah umur. Aku masih mau bebas seperti teman temanku yang lain. Tolong Ma, bujuk papa untuk menunda pernikahan ini sampai aku lulus sekolah. Aku mohon Ma!" Maria merengak.


 


"Tidak bisa Mar, ini sudah perjanjian antara dua keluarga. Cepat atau lambat kamu akan menikah juga dengan Dani. Jadi lebih baik ikuti saja apa yang mereka mau. Kasian dengan nenek Dani yang sedang kritis, beliu hanya mau melihat pernikahan kalian. Mama tau kalau kamu anak yang bijak. Kamu tidak akan mengecewakan Mama dan papa." Tutur Ana dan pergi setelah mencium kening Maria.


Maria terdiam, pandanganya menatap jauh ke langit biru. Entah apa yang sedang ia pikirkan, hanya dia yang tau.


**


Di tempat Maria tinggal... sudah menjadi hal biasa jika seorang gadis harus menikah sebelum umur 17 tahun. Karena bagi gadis yang sudah lebih dari 17 tahun belum menikah itu merupakan sebuah hal yang buruk, jadi mereka sekeluarga akan di usir dari kampung itu. Dan tidak di ijinkan kembali, meskipun mereka memiliki harta yang melimpah di desa tersebut. Peraturan tersebut sudah di buat oleh nenek moyang Kampung Mawar puluhan tahun yang lalu. Tempat yang memiliki banyak sumber daya alam yang melimpah ruah, membuat sebagian penduduk tersebut sangat kaya. Dan para penduduk sangat berpegang teguh pada aturan yang sudah berlaku.


Keluarga Dani dan Maria merupakan salah satu keluarga yang terpandang karena mereka pemilik tambang emas di kampung itu. Jadi tidak heran jika mereka ingin memperbesar usaha tambang mereka.


Namun Maria dan Dani tidak keberatan dengan perjodohan tersebut, karena sejak kecil mereka selalu bersama.


"Maria... turun nak... di sini ada nak Dani." Teriak Ana.

__ADS_1


Maria yang sedang asyik melamun langsung tersadar, dan beranjak turun menemui Dani. Dari tangga Maria menyaksikan keakraban dari Dani dan mamanya, ada rasa bahagia saat melihat mereka dekat. Bahkan Dani yang pandai mengambil hati orang tak merasa canggung saat berhadapan dengan orang baru. Apalagi dengan Ana mamanya Maria, Dani sudah menganggap Ana sebagai Ibunya sendiri.


"Hai... Mar. Kenapa wajah kamu lecek gitu? kamu belum mandi ya?" nyinyir Dani. Maria cemberut mendengar nyinyiran Dani, ia langsung duduk di meja makan.


"Ma. Lihat tu kak Dani selalu meledekku." Keluh Maria.


"Udah, kalian tu ya... sudah mau nikah berantem melulu kerjaanya. Dani bantu Mama bawa nasi gorengnya." Ana dan Dani berjalan ke meja makan. Dani yang terus meledek Maria, membuat Maria menatap tajam. "Jangan pasang wajah kayak gitu! nanti cantiknya ilang low." Cetus Dani dengan mengacak rambut Maria, seketika itu membuat wajah Maria merona.


"Ih... jangan berantakin rambutku..


.!!!" bentak Maria, yang semakin membuat Dani melakukanya lagi.


Maria yang melihat Dani masuk kamarnya, ia mengurangi kecepatan larinya karena dia sudah hampir kehabisan nafas. Setelah masuk kamar mata elangnya mencari mangsa ke setiap sudut kamar. Dan saat melihat bentuk tirai yang berbeda, ia langsung mengambil guling untuk memukul.


Bug bug bug


"Kena kau sekarang... hah tafi kau tertawakan aku kan. Sekarang rasakan pukulan dariku." Geram Maria yang terus memukul Dani, ckleek. Gagang tirai patah, akhirnya tirai jatuh menutupi tubuh Maria dan Dani. Mata mereka beradu, saling menatap.


"Kau gadis yang sempurna Maria... setiap inci dalam dirimu adalah wujud kesempurnaan. Bahagia rasanya, aku akan memiliki kesempuranan ini seutuhnya." Batin Dani.

__ADS_1


"Sejak kecil, aku sudah menyukaimu aku selalu mengidolakanmu. Betapa bahagianya aku ... saat mama bilang kita sudah di jodohkan. Tapi impianku bukan untuk saat ini kita bersama. Namun nanti saat aku sudah cukup dewasa dan mengerti*."


Tangan Dani mencoba membuka tirai yang sudah membungkus mereka, namun mata Dani masih tetap memandang intens ke wajah Maria.


"Sampai kapan kamu memandangi aku terus? aku tau wajahku ini tampan. Jangan lama lama lihatnya nanti ada setan lewat low." Bisik Dani tepat di telinga Maria. Seketika bulu kuduk Maria berdiri. Maria membuang pandangan menutupi rasa malu. Mereka berdua kini sudah keluar dari perangkap tirai. Dani langsung merebahkan tubuhnya di kasur.


"Kak... apa kak Dani tahu soal..." Maria terdiam, dia membalikan kursi yang ada di meja belajar.


"Soal pernikahan yang di percepat?" Dani bersuara, seakan dia tahu kemana arah pembicaraan Maria.


"He'em"


"Aku sudah tau itu kemarin saat aku mama dan papa pergi ke rumah sakit menjenguk nenek." Jawab Dani yang kini sudah duduk menghadap Maria.


"Trus, kak Dani gimana? apa kak Dani setuju?" Maria serius bertanya.


"Kamu sekarang siap siap saja, hari ini aku akan mengajak kamu pergi jumpa nenek." Ucap Dani yang berdiri ke depan Maria.


"Ya, baiklah aku mau siap siap dulu." Maria setuju, karena Maria juga ingin bertanya langsung pada nenek. Kenapa pernikahan yang harusnya dilakukan 2 tahun lagi, sekarang harus di laksanakan dalam waktu dekat.

__ADS_1


Dani keluar kamar Maria, setelah mendengar kata Maria. "Gimana Dan? apa Maria mau ikut kerumah sakit?" tanya Ana kepada calon menantu. "Iya Ma. Maria setuju kini ia sedang siap siap.


__ADS_2