Menikah Karena Terpaksa

Menikah Karena Terpaksa
Pernikahan


__ADS_3

Pak Joko mengarahkan mobil ke jalan yang di tunjuk tersebut, ada rasa was was dalam hatinya. Sopir keluarga Johan sudah mengabdi selama 10 tahun, ia merasa sangat khawatir, ia takut jika jalan yang di pilih akan membawa mereka dalam bahaya.


"Maaf Pak, apa tidak sebaiknya kita lewat jalan tadi saja?" tanya Pak Joko.


"Lebih baik folus saja Pak. Aku gak mau kalau Dani sampai terlambat hadir di sana." Ucap Johan.


"Baik Pak." Mobil berjalan pelan saat di jalan yang menurun tajam, tak henti hentinya Pak Joko berdoa dalam hati. "Ya Allah lindungilah kami, semua terjadi atas kehendak dan kuasaMu." Batin Joko.


Di tempat Resepsi.


Gedung sudah di hias dengan indah, semua dekorasi yang ada sesuai dengan pilihan kedua keluarga. Tanpa ada foto pengantin, karena mereka belum sempat melakukan foto prewedd. Beberapa tamu sudah datang termasuk para saksi dan penghulu.


Di kamar pengantin Maria sedang di make up oleh tata rias yang sudah di pilih.


"Masya Allah kamu cantik sekali kak." Kagum Mita sepupu Maria.


"Terima kasih, tapi ini yang membuat cantik adalah make upnya. Oh ya di mana suami dan anakmu? sejak tadi aku tidak melihatnya." Tanya Maria.


" Mereka ada di aula kak. Cika agak rewel, jadi tadi suamiku membawanya." Jelas Mita.


"Beruntung ya... kamu dapat suami yang pengertian, semoga kelak Dani seperti itu."

__ADS_1


"Pasti itu Kak. Apalagi dari dulu kak Dani cinta sama Kakak, pasti dia akan memperlakukan Kakak dengan baik." Tutur Mita.


"Semoga saja begitu. Walaupun terkadang aku ragu, di paksa menikah di usiaku. Tapi aku juga tidak bisa melawan." Keluh Maria dengan wajah sedih. Mita mendekatinya di angkat dagu sepupunya itu. "Hai... ini adalah takdir, kita sudah di takdirkan menikah usia dini. Apa Kakak lupa? aku juga menikah usia 15 tahun dan sekarang aku sudah mempunyai anak di usia 17 tahun. Jadi mamud alias mama muda. Nanti kalau anakku sudah besar, maka kami akan terlihat seperti adik kakak bukankah itu seru? jangan bersedih lagi ya! cukup jalani dengan ikhalas maka semuanya akan di mudahkan oleh Allah. Doa terbaik untukmu selalu Kak." Mita memeluk tubuh Maria mencoba memberi semangat.


"Terima kasih ya Mit, atas doanya semoga kamu juga bahagia sampai nanti."


"Aamiin. Oh ya Kak ini udah hampir jam 9 Kak, rombongan pengantin pria kenapa belum datang ya? aku cek dulu ya ke depan, nanti aku ke sini lagi." Maria mengangguk. Mita pun langsung pergi.


Di depan aula, keluarga Johan resah karena belum ada kabar dari Johan maupun Shinta.


"Bagaimana apa sudah ada kabar dari mereka?" tanya Fadli kakak dari Johan.


"Belum ada Pa, tadi kabar terakhir setengah jam yang lalu . Kata Dani tadi mereka sudah di jalan." Terang Viki putra Fadli.


"Sudah Pa, hand phone mereka aktif, tapi tidak ada satupun yang menjawab." Jelas Viki.


"Ke mana mereka sebenarnya? acara ijab kabul tinggal 20 menit lagi." Gumam Fadli yang masih bisa di dengar oleh Viki.


Di dalam aula keluarga Maria terutama Ana dan Hendra cemas. Sudah puluhan kali mereka mencoba hubungi Dani dan calon besanya Johan dan Shinta, tapi tidak ada jawaban.


"Gimana ini Pa? waktu tinggal sebentar lagi, pak Penghulu juga sudah duduk di tempatnya. Tapi kenapa mereka belum datang juga. Mama takut terjadi apa apa Pa, Mama takut Dani kabur . Bagaimana nanti kita menghadapi comohan masyarakat dan keluarga Pa?" Ana mengungkapkan keresahan pada Hendra sang suami.

__ADS_1


"Jangan berfikir yang aneh aneh. Tidak mungkin Dani kabur, dari dulu dia sangat mencintai Maria, kabur adalah hal tidak mungkin ia lakukan. Mungkin saja sekarang mereka mengalami musibah. Kita berdoa saja yang terbaik untuk mereka." Seru Hendra. Ana mengangguk, "Lebih baik Mama sekarang temani Maria di kamar, saat ini dia juga pasti sedang risau dan khawatir."


Tepat pukul 9 lebih 15 menit, waktu ijab kabul sudah berlalu. Penghulu dan para undangan sudah berbisik bisik.


"Sudah kelewat waktu ijab kabul, kenapa pengantin pria belum datang juga?"


"Jangan jangan pengantin pria kabur, sama seperti yang di sinetron sinetron tu."


"Kasian ya sama Maria, calon suaminya gak datang datang."


"Atau mungkin pengantin pria lari dengan gadis lain."


"Hussh... jangan bergosip, lebih baik lihat saja apa yang terjadi."


Beberapa gunjingan sudah keluar dari para undangan. Maria yang sudah duduk di depan Penghulu, ia juga mendengar cemohan para tamu. Terluka? ya pasti terluka, tapi Maria berusaha tersenyum di hadapan mereka.


Waktu terus berputar, Maria yang resah sekarang ikut berdiri di samping orang tuanya. Dan tiba tiba Pak Penghulu menghampiri.


"Maaf Pak Hendra, ini sudah melebihi waktu yang sudah kami berikan. Karena saya harus menikahkan orang lagi, maka saya pamit undur diri dulu. Sekali lagi kami minta maaf." Pamit Pak Penghulu dengan 2 orang yang di bawanya. Belum sempat Hendra menjawabnya, beberapa polisi datang. Semua pasang mata yang ada di aula terkejut melihat kehadiran polisi.


"Selamat pagi, apa betul ini pesta pernikahan dari saudara Dani?"

__ADS_1


"Iya Pak. Saya adalah Paman dari Dani, sebenarnya ada apa ya Pak?" Fadli maju ke depan polisi itu, Fadli mulai cemas begitu juga dengan mereka yang di sana.


__ADS_2