Menikah Karena Terpaksa

Menikah Karena Terpaksa
Part 27


__ADS_3

Cukup lama Yudha menunggu bagaimana keadaan istrinya didalam, hingga pintu terbuka, seorang suster memanggi keluarga pasien.


"keluarga nona Yura?" panggil seorang suster.


Yudha langsung menghampiri suster dengan perasaan campur aduk, sedih dan juga khawatir.


"saya suami nya suster,"


"bagaimana dengan keadaan istri saya suster?"


"maaf bapak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi sepertinya janin yang dikandung oleh nona Yura tidak dapat diselamatkan, karena benturan yang sangat keras menghantam perut nona Yura saat kecelakaan terjadi", suster menjelaskan dengan wajah sedih.


"a,,a,,apa suster,, istri saya tengah mengandung,," lirih Yudha,


"lalu bagaimana dengan keadaan istri saya sekarang suster?"


"nona Yura sudah melewati masa kritis, dan akan segera kami pindahkan ke ruang perawatan.


"mohon bapak selesaikan admistrasi rumah sakit terlebih dahulu.


"bolehkan saya melihat istri saya sebentar sus?"


"silahkan pak, pasien membutuhkan banyak istirahat, jangan mengganggu istirahat pasien,


Yudha hanya mengangguk kan kepala nya, dan bergegas masuk kedalam ruangan dimana istrinya terbaring lemah diatas brangkar rumah sakit.


"sayang,,mas ga tau kalau kamu tengah mengandung,,


"sayang kamu yang kuat ya,,kita sudah kehilangan calon anak kita, mas ga mau kalau sampai kehilangan kamu juga.


"sayang,,,," Yudha tak mampu lagi membendung air matanya, biarlah orang menganggap nya cengeng, tapi inilah saat yang paling menyakitkan untuk nya setelah kehilangan ibu kandungnya dahulu. kini dia juga harus merasakan sakitnya kehilangan calon anak nya yang belum sempat terlahir kedunia.


Handphone Yudha berdering, melirik sekilas siapa yang menghubungi nya,


"katakan,, " ucap Yudha dingin.


",,,,,--_"


"Lakukan apa yang harus kau lakukan,,


"jika terbukti mereka dalang dibalik kecelakaan Yura,,


",,,,,__"


Yudha mengakhiri panggilan telepon nya, sorot matanya menahan emosi dan amarah yang sudah berada di ubun-ubun, Yudha menggenggam erat tangan nya, hingga tampak jelas urat-urat tangannya,


"Kalian akan membayar mahal atas kejadian ini,," geram Yudha menahan emosi nya.

__ADS_1


Suster kembali masuk dan bersiap membawa Yura untuk pindah kedalam ruang perawatan.


"maaf pak,,kami akan memindahkan nona Yura," ucap sopan seorang suster bersama rekannya.


Yudha menyingkir dari samping brangkar tempat tidur Yura, memberi jalan untuk suster membawa istrinya.


setelah Yura dipindahkan ke ruang perawatan, Yudha segera mengurus administrasi Rumah Sakit, tak lupa pula menghubungi kedua mertua nya. untuk memberi tahu keadaan Yura,


Yudha masih menghubungi asistennya, untuk menggantikan nya sementara di perusahaan selama dia menemani Yura dirumah sakit.


Yudha sengaja tidak memberi tahu keluarga nya, atas kecelakaan yang menimpa yura, karena Yudha masih menyelidiki siapa dalang dibalik kecelakaan yang terjadi kepada Yura.


jika pun papa nya yang mencarinya di perusahaan, Deni bisa memberikan alasan bahwa Yudha sedang melakukan perjalanan bisnis diluar kota.


Semua itu Yudha lakukan demi untuk melindungi Yura.


beberapa hari terakhir Yudha sempat menaruh curiga kepada ibu tirinya yang mulai bersikap aneh, tapi Yudha masih harus mencari semua bukti, agar bisa menjebloskan Tina ke penjara, beserta antek-anteknya.


Tak berselang lama, orang tua Yura dan juga kakaknya sampai dirumah sakit,


"bagaimana keadaan Yura,,


"apa yang terjadi sebenarnya?"


"siapa yang telah menabraknya?"


Yudha hanya mampu menghela nafasnya, dan menundukkan kepalanya, karena merasa bersalah, yang tidak mampu memberikan perlindungan untuk istrinya.


"maafkan Yudha yah,, seandainya Yudha tidak menuruti keinginan Yura membawa motor sendiri, mungkin ini sua tidak mungkin terjadi" sesal Yudha.


"sudah lah,,ayah tidak menyalahkan mu, ayah sudah hafal siapa istrimu, semakin di larang, semakin dikerjakan," ucap bijak Ibrahim


"semoga Yura baik-baik saja,," sambungnya lagi.


"lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya ibu mertua.


"Yura sudah melewati masa kritis nya Bu".


tak lama handphone Yudha berdering, sekilas Yudha melirik siapa yang menghubungi nya,


"ayah, Yudha pamit sebentar, Yudha mau angkat telepon dulu," pamit Yudha.


"ya, ada apa,, katakan?"


"sepertinya kecurigaan tuan benar, balas suara diseberang telepon.


"bagus, kau awasi terus mereka,,jangan buat mereka tenang setelah apa yang sudah mereka lakukan untuk istriku.

__ADS_1


"baik tuan". panggilan pun berakhir.


Sejenak Yudha memikirkan rencana apa yang akan dia susun untuk selanjutnya.


saat ini Yura hanya membutuhkan banyak istirahat, jika setelah sembuh nanti Yura di bawa pulang, entah apa lagi yang akan dilakukan oleh Tina, mengingat betapa liciknya Tina,wanita ular itu.


Bima berjalan menuju Yudha ,karena memperhatikan Yudha yang tampak sedang melamun.


"apa yang kau pikirkan," sapa Bima menepuk bahu Yudha pelan.


"eh,,bang,," ucap Yudha terkejut.


"a,,aku,," ragu Yudha meminta bantuan kakak iparnya.


"kenapa yud,, katakanlah" balas Bima


"bang seperti nya kecelakaan Yura bukanlah ketidaksengajaan, melainkan sudah direncanakan," ucap Yudha mengawali percakapan.


"benarkah?", Bima mengerutkan keningnya,


"asisten ku sudah menyelidiki nya bang, terbukti dari salah satu cctv yang berhasil diretas, sebelum terjadi kecelakaan itu, tampak sekelompok orang berkumpul disatu titik, untuk membagi tugas masing-masing dari lokasi kejadian.


"kalau itu benar, Yura dalam bahaya " Bima menimpali.


"benar bang, untuk sementara Yura akan aku bawa pergi menjauh dulu dari mereka," jelas Yudha.


"kau mau kemana?" tanya Bima.


"entahlah bang, aku belum menemukan tempat yang pas untuk membawa Yura."


"bagaimana kalau Yura kita bawa ke rumah nenek di desa," usul Azka yang baru sampai dan langsung menghampiri Abang dan juga ipar nya.


"boleh juga, setidaknya didesa sana Yura bisa tenang, karena pemandangan yang indah," Bima menimpali.


"sepertinya cocok bang, apalagi kami baru saja kehilangan calon anak kami" , ucap Yudha sedih.


"apa??!!!, maksud mu Yura hamil?" ucap Bima dan Azka serempak.


"ya bang, aku pun mengetahuinya baru hari ini" sedih Yudha.


"desa adalah tempat yang cocok untuk menenangkan pikiran, tapi,,? menurut mu, Yura tahu tentang kehamilan nya?"


"sepertinya belum bang,,soalnya kalau Yura tau dia hamil, dia tidak mungkin ngotot mau naik motor,"


"ya kau benar,,sebaiknya berita keguguran Yura, tidak perlu diberi tahukan oleh siapapun, termasuk Yura dan juga orang tua kita, cukup kita saja yang tau", Azka berucap.


Mereka sepakat, setelah kondisi Yura semakin membaik dan sudah dibolehkan pulang, maka Yudha akan membawa Yura ke desa tempat nenek Yura tinggal, dan tentunya tidak memberi tahu kan soal keguguran Yura. biarlah itu menjadi rahasia mereka saja, demi kebaikan Yura kedepannya.

__ADS_1


__ADS_2