
Maria dan Dani sudah siap untuk pergi ke rumah sakit.
"Ma, kami pergi dulu." Dani mencium tangan calon mertuanya.
"Hati hati di jalan, gak usah ngebut ngebut. Kirim salam buat nenek ya... mungkin sore nanti mama akan kesana." Ucap Ana.
"Nanti Dani sampaikan ma."
"Ma, pergi dulu ya." Maria pamit, mencium pipi kanan dan kiri.
"Hati hati Mar." Maria mengangguk.
Akhirnya mereka berdua pergi membawa mobil. Ana memperhatikan kepergian mereka.
"Maafkan mama sayang, bukanya mama tidak mau membantu kamu. Tapi mama gak mau kita nanti akan di usir dari sini. Mama harap kamu tidak akan mengecewakan kami. Ini semua juga demi kebaikanmu nanti." Gumam Ana, dan tidak sengaja di dengar oleh asisten rumahnya.
"Kasian Non Maria, harus cepat menikah di usianya yang dini." Desis Bik' Lastri.
Di rumah sakit.
"Kata kamu Dani dan Maria akan kesini, mana sampai sekarang mereka jug belum datang." Gerutu Johan, papa dari Dani.
"Ya, mungkin mereka sudah di jalan. Mungkin ke cebak macet juga bisa. Dani tidak akan melanggar janji jika tidak ada urusan yang mendesak. Sudahlah... lebih baik kita tunggu saja." Ujar Sinta mama dari Dani.
"Kamu tu... selalu bela anakmu, gak pernah kamu sekali saja marah sama dia walau dia salah sekali pun." Desis Johan.
"Bagimana juga dia anakku, aku lebih tau dia dari pada kamu sendiri." Cibir Sinta, yang tidak pernah mau anak semata wayangnya di jelek jelekkan meskipun itu suaminya.
__ADS_1
Di dalam mobil.
"Mar, kamu bahagia gak dengan pernikahan yang di rencanakan ini?" tanya Dani serius, meskipun kini ia tengah nyetir.
"Jujur aku bahagia. Tapi... aku nggak menyangka di usiaku yang belum genap 15 tahun harus menikah. Aku masih belum puas menikmati hidup ini. Aku masih ingin seperti yang lain...." Ucap Maria lirih, dan pandanganya lurus ke depan.
"Aku pun sama halnya dengan kamu. Aku ingin belajar tinggi meraih mimpiku. Namun apalah dayaku, aku tidak bisa menipu diriku jika aku juga bahagia bisa hidup bersama gadis pujaanku yaitu kamu. Jadi mari kita sama sama menikmati hidup bersama dengan cara kita. Ya... udah dong jangan sedih lagi. Aku gak suka melihat kamu cemberut terus." Dani tersenyum pada Maria. Maria membalas dengan senyum tipis.
Maria merasa sedikit tenang setelah mendengar kata kata dari Dani, hingga kegundahan yang menyelimuti hatinya sejak kemarin sedikit hilang.
Di rumah sakit.
Keadaan nenek Dani semakin memburuk, beberapa dokter sedang berlari untuk memberikan pertolongan.
"Ada apa Ma?" tanya Dani yang baru datang dan melihat beberapa dokter berlari menuju ruang nenek Dani.
"Syukur kamu sudah datang Dan, tadi tiba tiba nenek kejang kejang, Mama terus memberi tahu dokter. " Jelas Shinta. Dani merangkul mamanya, berusaha menenangkan. Maria mengelus lengan Shinta.
"Papa ke mana Ma?" tanya Dani yang menyadari papanya sejak tadi tidak terlihat.
"Papa dapat telfon penting dari tambang, dan setelah itu papa pamit mau pergi ke tambang dulu." Tutur Shinta.
Maria kembali setelah membeli minuman untuk Shinta dan Dani.
"Tante... di minum dulu, biar Tante bisa sedikit tenang." Shinta menerima minuman itu, Dani juga menerimanya.
"Terima kasih Mar..." ucap Shinta yang baru menyadari bahwa Maria ada di situ. Saat mereka baru minum sedikit, dokter keluar dari kamar nenek Dani.
"Bagaimana keadaan Ibu saya dok?" tanya Shinta yang sudah sangat khawatir.
"Begini Bu, kondisi pasien tadi sangat kritis, tapi syurkur puji Tuhan pasien sudah melewati masa kritisnya. Dan maaf tadi pasien menyebut nama Dani dan Maria.
__ADS_1
"Ya kami Dok." Ucap Dani menunjuk dirinya dan Maria.
"Setelah nanti pasien siuman, mohon temui pasien."
"Baik Dok." Jawab Maria dan Dani bersamaan.
Beberapa jam kemudian nenek sadar. Akhirnya sesuai janji tadi Dani dan Maria masuk ke ruangan nenek.
"Dani... kemarilah. Maria kamu juga..." pinta nenek dengen suara lemah.
Mereka berdua mendekati nenek, ada di sisi kanan dan kiri.
"Maafkan Nenek ya, jika selama ini Nenek selalu susahkan kalian. Hidup Nenek sudah tidak lama lagi, Nenek mau kalian segera menikah. Dani adalah satu satunya cucu Nenek, jadi Nenek ingin melihat kemeriahan pernikahan kalian. Nenek ingin melihat kalian bersatu. Tolong kabulkan permintaan terakhir Nenek ya." Mata Nenek berair, saat mengatakan keinginannya itu.
Dani dan Maria saling pandang mereka seperti mencari jawaban di dalam mata mereka.
"Berjanjilah kalian pada Nenek." Seru Nenek, "Kami berjanji Nek, akan memenuhi keinginan Nenek." Ucap mereka bersama. Seketika itu nenek tersenyum bahagia.
Di pintu ternyata ada Shinta dan Johan sedang mendengar pembicaraan mereka. Ada raut wajah sedih saat mendengar permintaan sang Ibu. Dengan pelan mereka menutup kembali pintu itu.
Johan dan Shinta pergi ke kantin, setelah mencari tempat duduk mereka memesan minuman. Mereka sudah menelfon calon besan mereka yaitu orang tua Maria. Mereka janjian untuk bertemu di kantin rumah sakit. Tidak butuh waktu lama yang di tunggu sampai.
"Bagaimana menurut pendapat kalian? terus terang saya bingung harus gimana." Ujar Johan setelah memberikan rekaman percakapan antara Ibu mereka dan dan cucunya.
"Pada awalnya saya pikir ibu tidak akan minta mereka menikah secepat ini." Ucap Shinta.
"Lebih baik kita sewa gedung saja. Kita jadikan satu resepsinya. Jadi kita tidak usah repot mikir biar pihak WO yang mengerjakan semuanya." Ana mencoba memberi usul.
"Terus Mbak... bagaimana dengan undangan kita butuh banyak waktu untuk mempersiapkan, sedangkan keadaan ibu sudah seperti itu." Shinta mengeluh, yang membayangkan ribetnya acara nanti.
"Masalah undangan dan siapa yang kita undang, tidak usah banyak banyak, kita ambil orang orang penting di wilayah masing masing dan saudara dekat kita saja. Soal warga kampung itu memang wajib kita undang tapi kita serahkan saja pada seseorang yang sudah biasa melakukan." Tutur Hendra.
__ADS_1