
Amar berlari sangat kencang, hingga tak menghiraukan kakinya yang tersabet dengan ranting kayu yang tajam, luka yang cukup perih menghentikan langkahnya sejenak, dan segera melanjutkan langkahnya, dengan langkah yang terseok-seok Amar berusaha berlari lagi, hingga akhirnya dia bertemu rekan setimnya,
"Amar, kau kenapa?" tanya rekannya khawatir karena melihat Amar tengah meringis kesakitan.
"aku ingin segera menemui pak Deni" ucapnya dengan nafas tersengal dengan sehabis berlari.
"ayo aku akan membantu mu" tawar nya kemudian sambil memapah Amar,
"aku membawa kabar baik, tuan muda kita sudah ditemukan," binar matanya saat memberitahu kabar baik itu.
"Alhamdulillah,," ucap rekannya ikut senang mendengar kabar baik itu.
"lalu dimana tuan muda?" tanya nya sambil celingukan mencari sosok Yudha.
"tuan muda bersama Joni, di bawah pohon besar sebelah jurang.
"ayo cepatlah, aku ingin segera sampai kepada pak Deni, dan tuan muda segera mendapatkan pertolongan" ucapnya dengan antusias.
Tanpa berkata lagi, rekannya segera memapah Amar berjalan, hingga sampai dimana Deni berada.
"pak" ucapnya dengan nafas yang memburu.
"kau kenapa? apa yang terjadi" Deni menatap bawahannya khawatir.
"aku tidak apa-apa pak, sekarang kita harus segera menolong tuan muda" ucapnya langsung tanpa memperdulikan luka nya.
"maksudmu, tuan muda telah ditemukan?!" terkejut dan sangat senang dengan kabar baik yang diterima nya.
Tidak sia-sia pencariannya yang memakan waktu berjam-jam, akhirnya membuahkan hasil,
Deni segera menghubungi Antonio dokter pribadi keluarga Raditya. setelah itu, dia juga langsung menghubungi Joni yang sekarang tengah menjaga Yudha.
__ADS_1
"pak, apa aku boleh ikut?" pinta Amar memohon dengan sorot mata berkaca-kaca.
"kau obati dulu lukamu, tuan muda dan Joni biar aku dan lainnya yang akan mengurus mereka." menepuk pelan bahu Amar.
"tuan muda akan baik-baik saja, kau tenanglah," pergi meninggalkan Amar bersama rekannya yang masih memapah Amar,
Amar hanya memandang sendu Deni dan temannya yang lain menuju lokasi dimana tuan muda dan Joni berada.
Amar sebenarnya ingin ikut, tapi Deni mencegahnya, melihat luka robek dikakinya karena tergores ranting kayu yang runcing.
"ayo, aku akan mengobati lukamu, sambil menunggu dokter Antonio sampai".
Amar menganggukkan kepalanya, mengerti dan mengikuti rekannya membawanya kepinggir jalan untuk diobati,
Tak berselang lama, dokter Antonio sampai, melihat anak buah Deni, Antonio menepikan mobilnya dan segera turun dari mobil.
"dimana Yudha" tanya nya khawatir.
"aku akan disini menunggu".
"baiklah, luka mu?" melirik luka amar yang cukup dalam dengan khawatir.
"aku tidak apa-apa dok, aku masih bisa menahannya"
"dokter harus segera menolong tuan muda, biau lebih membutuhkan pertolongan, melihat luka ya cukup parah" jelas Amar agar dokter Antonio segera pergi menolong tuan mudanya.
"baiklah,,aku sudah menghubungi Deni, tapi nomornya selalu diluar jangkauan"
"didasar hutan memang tidak ada jaringan dok,
"cepatlah dok, tuan muda sangan membutuhkan mu" tegas Amar.
__ADS_1
Dokter Antonio pergi di temani rekan amar, sedangkan amar sendirian di tepi jalan, perasaan lega dan juga takut menyelimuti hati nya.
Berharap tuan mudahnya segera tertolong dan selamat dari maut.
Ketika tengah melamun, amar mendengar suara mobil dari arah yang tidak terlalu jauh, amar segera bangkit dari duduknya, perlahan naik kedalam mobil dokter Antonio, berpura-pura tertidur agar tidak dicurigai, tak lupa sebelumnya ia memberikan kode tanda bahaya dengan bersiul nyaring dan kuat,
suara siulan yang nyaring dan kuat itu terdengar hingga ke dasar jurang dimana Deni dan anggota nya sedang dalam perjalanan membawa Yudha naik keatas tebing. dimana mobil Antonio terparkir.
mereka semua langsung bersiaga, berpencar dan bersembunyi, Deni dan beberapa anggotanya yang memapah Yudha dan dokter Antonio bersembunyi di tempat yang sama, sedangkan anggota yang lain bersembunyi di tempat yang lain.
Mereka tidak dapat memastikan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi, sehingga memutuskan untuk bersembunyi dahulu demi keamanan dan keselamatan tuan muda Yudha.
Diatas tebing di pinggir jalan, Amar yang sedang berpura-pura tidur karena kelelahan, dihampiri sebuah mobil yang berhenti di depan mobil dokter Antonio yang terparkir.
seseorang mengetuk kaca mobil berkali kali, amar berpura-pura seolah-olah tengah terganggu dari tidurnya.
"ekhemmm,, huammm,,"Amar menguap dan mengucek kedua matanya.
"ada apa pak?" tanya nya polos.
"apa yang sedang anda lakukan di pinggir jalan ini?" tanya nya curiga.
"saya tengah tidur pak, karena perjalanan jauh, saya sangat lelah dan mengantuk," amar beralibi.
"kalau begitu cepatlah pergi, karena hari semakin gelap dan di sini rawan dengan kejahatan, terlebih lagi baru tadi pagi ada kecelakaan mobil yang masuk kedalam jurang itu" tunjuknya pada jurang dimana mobil mewah terjun bebas masuk kedalam jurang.
"terimakasih tuan, saya akan segera pergi,"
"silahkan anda melanjutkan perjalanan kembali" jawab sopan Amar.
seseorang yang mengetuk kaca jendela mobil tadi berjalan kembali dan masuk kedalam mobilnya, seseorang tersebut melajukan mobilnya dan meninggalkan Amar yang bernafas lega,
__ADS_1